Hari Ibu, Momentum Membaca Ulang Peran Perempuan
Setiap tahun, orang-orang merayakan Hari Ibu dengan buket bunga dan ucapan di media sosial. Mereka memberi penghormatan kepada sosok yang identik dengan cinta dan pengorbanan. Banyak orang melukiskan ibu sebagai figur yang setia merawat dan mendampingi keluarga. Ibu selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Namun, kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan penting di balik suasana hangat itu.
Apakah penghargaan kita kepada perempuan hanya berhenti pada perannya di ranah domestik, atau juga mencakup pengakuan atas akal, ambisi, dan haknya di tempat kerja dan di tengah masyarakat.
Pada luasnya bidang pekerjaan saat ini, termasuk di industri musik, perempuan dan laki-laki masih memiliki perbendaharaan kata yang berbeda. Untuk tindakan yang sama, laki-laki kerap dipuji sebagai sosok yang strategis, sementara perempuan dinilai penuh perhitungan atau terlalu mengatur. Taylor Swift merangkum realitas ini dengan tajam melalui lagu The Man yang mengangkat pengalaman standar ganda terhadap perempuan. Salah satu liriknya yang berbunyi wondering if I would get there quicker if I was a man menggambarkan betapa jalur pencapaian perempuan sering lebih berliku dan lambat diakui, seolah jika ia terlahir sebagai laki-laki, jalan karier akan lebih lapang.
Buku Educated karya Tara Westover menyuarakan kembali gagasan-gagasan yang diangkat oleh Taylor Swift. Memoar tersebut melukiskan sosok perempuan yang terpinggirkan, meskipun ia hidup di negara yang kerap dianggap maju. Keluarga Mormon yang konservatif menuntut Tara agar tetap tinggal di rumah, melayani keluarga, dan mengabaikan pendidikan tinggi.
Tradisi keluarga tersebut memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi laki-laki. Orang-orang di sekitarnya sering membicarakan serta memutuskan nasib suara, tubuh, dan masa depan Tara tanpa melibatkannya. Keluarga mengukur nilai diri Tara berdasarkan kepatuhannya terhadap aturan keluarga dan tafsir agama sang ayah, bukan berdasarkan kapasitas intelektual atau cita-cita pribadinya
Pola yang dialami Tara sejalan dengan kritik dalam The Man, yakni standar ganda yang menilai ambisi laki-laki sebagai visi dan kekuatan, sementara ambisi perempuan kerap dicurigai sebagai sikap berlebihan. Keduanya menunjukkan bahwa perempuan sering perlu bekerja lebih keras hanya untuk diakui setara, dan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar soal prestasi pribadi, tetapi juga tentang hak untuk didefinisikan sebagai manusia utuh.
Realitas tersebut tidak hanya muncul di Amerika Serikat. Masyarakat menemukan pengalaman serupa di berbagai wilayah Indonesia. Banyak keluarga lebih memprioritaskan pendidikan bagi anak laki-laki. Orang tua justru mendorong anak perempuan ke peran domestik. Dan keadaan sering kali memaksa mereka menikah lebih cepat. Pernikahan dini kerap dipandang sebagai solusi atas keterbatasan ekonomi, walaupun berpotensi mengorbankan masa belajar dan perkembangan diri perempuan.
Tekanan budaya ini juga sejalan dengan pengalaman kekerasan dan pelecehan yang sering kali luput dari penamaan secara tepat. Banyak perempuan mengingat momen saat seseorang mencium mereka tanpa izin, menyentuh mereka tanpa permintaan, atau melontarkan komentar bernada seksual yang tidak pantas, baik dari teman sebaya maupun orang dewasa di sekitar mereka. Pada masa ketika masyarakat belum umum menggunakan istilah pelecehan, para perempuan sering kali hanya merasakan pengalaman tersebut sebagai ketidaknyamanan yang sulit mereka ucapkan.
Di ruang-ruang kerja, bias yang sama dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus. Perempuan yang memegang posisi manajer atau pemimpin organisasi terkadang menerima perlakuan sebagai pilihan kedua. Pihak institusi sering menugaskan perempuan untuk berjaga saat kegiatan luar kantor membutuhkan seseorang tetap tinggal. Mereka kerap memprioritaskan laki-laki untuk urusan eksternal dan membiarkan perempuan mengurus operasional kantor. Pola ini memberikan pesan berulang yang menempatkan perempuan lebih layak di ruang domestik daripada di ruang pengambilan keputusan.
Semua ini menunjukkan bahwa dalam banyak persepsi sosial, perempuan belum sepenuhnya dilihat sebagai subjek yang memiliki agensi penuh. Stereotip perempuan sebagai makhluk lemah yang tugas utamanya berada di rumah masih kuat melekat, meski teks-teks keagamaan memberikan landasan berbeda. Al Qur’an menghadirkan kisah Ratu Balqis dalam Surah An Naml ada dua puluh satu ayat yang mngisahkan sosok tersebut sebagai pemimpin perempuan yang cerdas, adil, dan bijaksana. Surah Al Ahzab ayat tiga puluh lima menegaskan kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam iman dan amal. Surah At Taubah ayat tujuh puluh satu menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai pihak yang saling menolong dalam kebaikan. Ketiga rujukan ini menempatkan iman dan kompetensi sebagai ukuran utama, bukan gender.
Dalam konteks ini, upaya bertahan dan bangkit dari pengalaman diskriminasi maupun standar ganda menjadi proses yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga kultural. Seseorang memiliki jalan untuk terus belajar. Kita perlu mengenali emosi yang muncul.Kita juga harus memproses emosi tersebut secara sehat. Menulis jurnal membantu kita menjaga kejernihan batin. Kita bisa berdialog dengan orang-orang kepercayaan. Kajian dan penghayatan Asmaul Husna memperkuat pemahaman spiritual. Nama-nama Allah yang menggambarkan pengampunan dan keadilan memberi ruang bagi individu untuk memaknai ulang pengalaman yang menyakitkan tanpa terjebak pada kepahitan.
Pada akhirnya, kisah yang diangkat Taylor Swift melalui The Man, perjalanan Tara Westover dalam Educated, dan pengalaman perempuan di berbagai sudut Indonesia bertemu dalam satu benang merah yang sama, yaitu kebutuhan untuk melihat perempuan secara utuh sebagai subjek dengan akal, perasaan, dan hak untuk menentukan masa depan.
Dalam semangat Hari Ibu, masyarakat menunjukkan penghormatan kepada perempuan bukan hanya melalui pujian atas pengorbanan di rumah tangga, melainkan juga melalui keberanian membaca ulang peran mereka di keluarga, dunia kerja, dan ruang publik. Upaya mengakui keberadaan bias dan standar ganda bukan bertujuan menuduh, melainkan menjadi langkah awal untuk membangun relasi yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan Langkah tersebut bertujuan agar penghormatan kepada ibu berjalan seiring dengan penghargaan terhadap kemanusiaan perempuan secara menyeluruh.
Seorang Guru di SMAS Islam Athirah Makassar. Instagram : @rismawatirazak Twitter : @ririrazak Facebook : Rismawati Razak.
