Makna Iqra’ dan Tilawah untuk Peradaban
Berbicara tentang membaca, tentu tidak terlepas dari satu kegiatan yaitu menambah dan memperluas wawasan. Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, membaca belum menjadi suatu trend yang bisa ditanam-tumbuhkan dan ditradisikan. Padahal, sejak kecil di sekolah diajarkan bahwa membaca adalah jendela ilmu, akan tetapi itu tidak mengakar dalam jiwa seorang murid.
Membaca memang jendela ilmu, tapi bukan sekedar membaca lintasan kata lalu menghilang. Lebih jauhnya, aktivitas membaca tidak hanya sekedar proses berfikir, memahami sebuah bacaan, namun darinya juga harus melahirkan sebuah kesadaran. Kesadaran murni yang lahir dari hati, sehingga dalam prosesnya harus benar-benar diilhami.
***
Berbicara membaca menarik jika kita lihat melalui kaca mata AL-Qur’an. Jika kita cari konsep membaca dalam al-Qur’an. Maka kita akan mendapatkan pandaangan yang menarik yang terkandung dalam ayat-ayatnya. Al-Qur’an memiliki beberapa kata dan makna untuk menunjukkan aktivitas membaca. Keduanya kata itu ialah iqra’ dan tilawah.
Pertama, iqra’ sebagai derivasi dari kata qara’a-yaqro’u berarti membaca, menghimpun, menelaah, mendalami, meneliti, dan menyampaikan. Di surat al-‘Alaq 1-5, kata iqra’ diulang sebanyak dua kali, ini mengindikasikan bahwa Allah memberi pesan akan pentingnya mentradisikan membaca dalam kehidupan.
Selain itu, kata iqra’ dalam ayat tersebut juga diikuti dengan kalimat setelahnya bi ismi rabbika ladzi kholaq. Hal ini menunjukan bahwa dalam proses membaca, bukan hanya menggunakan pikiran untuk memahami bacaan, melainkan juga harus hati untuk menata niat.
Proses membaca diniatkan untuk mengarungi lautan ilmu, yakni ilmu Allah. Sehingga, selain terbangunnya pemahaman sebuah bacaan, juga lahir kesadaran untuk sebuah tindakan. Singkatnya, membaca haruslah melahirkan kesadaran dan tindakan.
Mengapa Harus Diniatkan untuk Allah?
Karena sejatinya segala ilmu yang ada di muka bumi ini tidak lain hanyalah milik Allah. Itu semua harus bermuara pada ketundukan dan kerendahan hati. Sehingga ilmu-ilmu tersebut akan selalu membimbing dan mendekatkan dirinya kepada sang pemiliknya. Dengan kata lain, ilmu sebagai cahaya pada akhirnya akan mengantarkan kepada cahaya yang lebih besar dan terang.
Menurut Quraish Shihab kata iqra’ dalam ayat Al-Qur’an memiliki objek yang begitu luas. Yaitu meliputi semua bacaan, baik yang berasal dari hasil karya manusia maupun yang berasal dari Tuhan. Termasuk alam semesta sebagai manifestasi dari diri-Nya sendiri. Objek yang berasal dari Tuhan adalah Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya.
Hal di atas dibuktikan dengan firman Allah: “Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup” (Al-Isra’: 45)
Sedangkan bacaan yang bersumber dari hasil karya manusia meliputi segala informasi yang dihasilkan oleh manusia. Ditegaskan dalam firman-Nya “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” (Al-Isra’: 14)
Dari uraian tersebut, dapat diambil poin bahwa al-Qur’an merupakan sumber utama peradaban Islam. Jauh sebelum peradabanJjepang dan negara Eropa lainya mengenal tradisi membaca ataupun biasa disebut literasi.
Al-Qur’an telah mengisyaratkan dan memberi ayah (tanda) kepada seluruh umat muslim akan pentingnya membangun peradaban dengan basis ilmu. Salah satunya melalui tradisi membaca. Seharusnya, tradisi ilmu dan membaca haruslah digalakKan di kalangan umat muslim. Sehingga darinya kemajuan peradaban ataupun secara spesifik kemajuan pendidikan di Indonesia mampu melahirkan banyak muslim-cendekia.
Kata Habib Ja’far, bahwa seorang muslim harus berangkat dari pemahaman Al-Qur’an. Membaca, menelaah dan memahami ayat Al-Qur’an untuk membangun peradaban. Termasuk menerapkan konsep iqra’ untuk kemajuan dunia pendidikan. Yakni membaca segala apa yang tersurat maupun tersirat di alam semesta dengan menghadirkan niat hati lillahi ta’ala.
Tilawah
Selain iqra’, di dalam al-Qur’an ada kata tilawah derivasi kata talaa-yatlu yang juga berarti membaca. Kata tilawah sendiri, dalam al-Qur’an disebut sebannyak 27 kali dalam berbagai bentuk di berbagai surat.
Kata tilawah dan derivasinya dalam Al-Qur’an secara keseluruhan, selalu diikuti dengan objek kitab suci seperti al-Qur’an, Injil dan kitab-kitab samawi lainnya. Hal ini selaras dengan pendapat Quraish Shihab dalam tentang makna tala-yatlu, yaitu membaca dengan objek yang khusus, yang sifatnya suci dan benar.
Dari telaah sederhana tentang konsep kata iqra’ dan tilawah dalam Al-Qur’an. Kita mendapatkan pemahaman bahwa keduanya mengarah pada pergerakan spiritual yang bermuara pada Allah semata. Dengan kata lain membaca dengan iqra’ ataupun tilawah harus senantiasa dibarengi niat yang murni hanya untuk Allah.
Kata iqra’ memiliki nilai pelajaran bahwa sebuah peradaban akan berkembang dan maju ketika jiwa intelektual selalu diasah dengan membaca. Membaca segala sesuatu, baik objek yang bersumber dari Allah maupun yang bersumber dari karya tangan manusia. Yang terpenting dalam prosesnya adalah selalu menandaskan aktivitas tersebut biismillah.
Sedangkan, kata tilawah mengandung nilai keruhanian dan akhlaq sebagai dasar atau pondasi utama peradaban Islam. Artinya membaca ayat-ayat suci (wahyu) tidak sekedar untuk mencari sebuah ketenangan. Namun, nilai-nilai yang ada di dalamnya haruslah diimplementasikan pada setiap diri dalam kehidupan.
Atas dasar itu kiranya penting dan perlu bagi umat Islam untuk berangkat dan mengambil pemahaman dari Al-Qur’an. Membangun peradaban berlandaskan nilai Qur’ani menuju peradaban yang didasari nilai ibadah dan taqarrub kepada Allah.

Kaka
Mengapa jumlah tilawah dan 27?
Setahu saya tanda tilawah hanya ada 15. Tks. Selamat shaum