f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
adab

Perilaku Biadab Orang Terhormat

Saat saya sedang berkendara di jalanan yang tidak terlalu padat di kota Bogor, tiba-tiba sebuah sedan mewah di depan saya melambatkan kendaraannya. Dari kaca mobil keluar tangan memegang tempat sampah dan yang membuat saya shock, dia tumpahkan sampah di jalanan. Apakah ini cerminan adab masyarakat kita?

Spontan saya tekan klakson panjang untuk mengingatkan pengendara sedan tersebut dan saya jepret sedan tersebut dengan kamera ponsel saya. Menyadari tertangkap basah, sedan itu tancap gas melaju dengan kencang meninggalkan saya.

Saya menyalakan radio swasta di Bogor yang pada jam itu sedang siaran langsung Bogor Update, saya kirimkan foto sedan tersebut berikut perilaku tidak beradabnya di jalan via WhatsApp. Tidak lama penyiar radio yang sudah saya kenal menghubungi saya dan minta saya menceritakan kejadian tersebut secara rinci dan disiarkan langsung untuk masyarakat Bogor.

Dalam kehidupan sehari-hari saya yakin kita sering menemukan kejadian seperti itu dalam berbagai ragam kejadian. Perilaku tidak beradab dengan pelaku orang-orang terhormat.

Saat masyarakat sedang antre di sebuah loket pembayaran, tiba-tiba ada yang menyerobot dengan dalih kesibukan atau pejabat yang tidak mau antre.

Saat naik di kendaraan umum, terkadang kita menemukan seorang penumpang asyik dengan kepulan asap rokok sementara ibu hamil di sebelahnya dan dengan seenaknya membuang puntungnya yang masih menyala di jalanan.

Sebuah keluarga besar makan bersama di sebuah restoran mewah, sementara pembantunya mengawasi bayinya di pojok meja tanpa hidangan makanan apapun.

Dan masih banyak contoh lagi perilaku biadab yang kita temukan di tengah-tengah masyarakat. Pelakunya tak lain ialah orang-orang yang merasa dirinya terhormat.

Adab Adalah Pembiasaan

Biadab adalah lawan kata dari beradab. Sengaja saya menggunakan diksi biadab agar menggugah kesadaran kita bahwa perilaku tersebut sangat memalukan. Masyarakat harus kompak dan memberikan sanksi sosial kepada pelaku kebiadaban seperti ini, sehingga tumbuh budaya malu untuk melakukan hal-hal yang keluar dari norma kesopanan masyarakat.

Baca Juga  Menjadi Perfect Muslimah

Saya yakin jika mereka sedang berbelanja ke Singapura misalnya, mereka akan taat dengan berbagai aturan yang berlaku di sana. Mereka tidak akan membuang sampah sembarangan, karena tahu denda membuang sampah sembarangan di Singapura mencapai tiga juta rupiah. Orang-orang tersebut akan antre dengan taat, merokok di tempat yang tersedia dan sebagainya.

Mereka menjadi pendatang yang taat peraturan dan norma di negeri orang dan menjadi warga negara yang tidak beradab di negeri sendiri.

Adab yang baik adalah hasil pendidikan dan pembiasaan sejak dini. Ketika seorang anak belajar tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya sejak kecil, maka dia akan terbiasa sampai dewasa. Saya pernah lihat seorang anak SD saat naik angkutan kota mengantongi bungkus permennya karena tidak ada tempat sampah di angkot tersebut. Ini adalah anak produk pendidikan yang baik di rumah dan sekolahnya.

Saat saya menjadi Manajer Marketing di sebuah perusahaan, saya pernah menghentikan mobil tiba-tiba karena ada staf saya yang membuang botol minuman di tengah jalan. Saya bilang kepadanya, “Ambil sampah itu atau saya turunkan kamu di sini!” Sikap tegas seperti itu adalah bagian dari pendidikan adab.

Baik anak biologis maupun anak buah adalah tanggung jawab kita sebagai seorang ayah dan pemimpin untuk mendidiknya. Tanpa ketegasan dan kedisiplinan, aturan hanya menjadi sebuah narasi tak bergigi yang akan diabaikan oleh masyarakat. Bahkan muncul sebuah stigma, aturan itu ada untuk dilanggar bukan untuk ditaati. Wow, mengerikan!

Pelajaran dari Imam Malik

Dalam pendidikan, ada kaidah penting dari Imam Malik, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Ini menunjukkan sejak zaman dahulu pendidikan adab sopan santun atau budi pekerti adalah sesuatu yang sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita sebelum mengajarkan ilmu.

Baca Juga  Pilah-Pilih Pasangan untuk Lanjut ke Jenjang Pernikahan

Pendidikan hari ini fokus pada aspek kognitif (kecerdasan) semata. Ini berbahaya! Sudah sejak lama para pakar pendidikan kita merumuskan bahwa tiga ranah pendidikan adalah: kognitif (kecerdasan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Ketiga ranah pendidikan ini sama pentingnya dan harus seimbang pengajarannya.

Melahirkan masyarakat yang beradab harus dimulai dari keluarga dan sekolah. Kembalikan pengajaran adab atau budi pekerti di rumah-rumah dan sekolah-sekolah kita. Peran orang tua dan guru sangat penting untuk itu.

Tantangannya memang berat, karena anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan kita. Mereka berada di zaman yang dunianya tidak tersekat oleh batas-batas geografis karena kemajuan teknologi informasi. Apa yang terjadi di Las Vegas, Paris, London dan belahan dunia lainnya, bisa mereka saksikan secara real time.

Namun, tidak ada kata kalah dan menyerah untuk melahirkan masyarakat yang beradab. Di tangan kitalah nasib anak bangsa negeri ini. Kita terapkan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Semangat, tidak ada kata terlambat untuk membangun peradaban yang bermartabat.

Bagikan
Comments
  • Siska Artati

    Akhlak pun butuh ketegasan untuk menegakkannya.
    Terima kasih telah berbagi ulsan ini, Ustadz.

    Maret 25, 2021
  • Armu Al Gemolongi

    Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Mohon kritik dan sarannya. Syukron.

    Maret 25, 2021
Post a Comment