f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keimanan

Menghalau Ketakutan dengan Keimanan

Dewasa ini masyarakat modern dari berbagai kalangan dihantui rasa takut. Apalagi jika melihat kasus Covid-19 yang hampir dua tahun membuat resah dunia belum menemukan titik terangnya.

Para wiraswasta ketakutan jika apa yang diusahakannya menuai kerugian, karena para konsumen menurun drastis, semenjak diterapkan aturan demi mencegah persebaran virus tersebut. Begitupun juga para karyawan, mereka ketakutan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga jika dirumahkan, akibat menurunnya jumlah produksi.

Tak terhitung, mahasiswa tingkat akhir, mereka juga mengalami ketakutan. Entah karena skripsinya yang berpeluang tidak selesai tepat waktu, ataupun menentukan arah setelah wisuda apa yang hendak dilakukan. Ketakutan seolah seperti udara, ada di mana-mana, bedanya dengan udara, ketakutan jika dihirup justru akan menimbulkan sesak.

Pertanyaannya kemudian adalah wajarkah bagi seorang muslim memiliki rasa takut? Padahal Allah Swt. telah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 62, bahwasanya orang yang beriman tidak akan merasai duka cita. Sedangkan ketakutan selalu berpotensi bagi orang yang merasakannya untuk berduka cita.

Iman Itu Perihal Konsistensi

Jika menilik sejarah permulaan Islam, kita akan menemukan sebuah kisah di mana seorang sahabat Nabi yang telah belajar Islam selama 13 tahun, dibimbing langsung oleh beliau, masih merasa takut, yakni Sayyidina Abu Bakar.

Hari itu adalah hari di mana Sayyidina Abu Bakar bersembunyi di dalam gua bersama Rasulullah Saw. demi menghindari kejaran orang-orang musyrik Makkah ketika hendak berhijrah ke Madinah.

Sayyidina Abu Bakar berkata pada Rasulullah, “Sekali orang-orang musyrik melihat ke bawah, niscaya mereka akan menemukan kita, wahai Nabi”. Namun, Rasulullah mengatakan pada Sayyidina Abu Bakar agar jangan bersedih hati karena mereka tidak hanya berdua, melainkan bersama Allah Swt.

Baca Juga  Mengendalikan Kemarahan Itu Mudah, kok!

Dari kisah tersebut penulis menyimpulkan bahwasanya iman itu diuji konsistensinya, di awal, di tengah dan di akhir. Suatu kali iman bisa bertambah kuat, namun juga bisa terkikis tanpa kita sadari. Sedangkan iman adalah sesuatu yang sangat krusial dalam menjalani hidup ini. Seseorang akan memperoleh kejayaan yang sejati, menempuh jalan yang selalu terang benderang, sebab pelitanya terpasang dalam hati sendiri yakni pelita iman yang tidak pernah padam.

Dengan demikian, ketika keimanan seseorang sedang menurun, yang dapat diandalkan untuk memulihkannya adalah aktivitas-aktivitas kebaikan yang harus terus dipupuknya. Aktivitas dan keimanan bukanlah hubungan sebab akibat, yang oleh sebab keimanan turun lantas otomatis aktivitas kebaikan yang biasa dilakukan selama ini dtinggalkan begitu saja, melainkan hubungan relasional.

Keduanya saling berdialektika menjaga satu sama lainnya agar terus bergerak secara berkesinambungan. Mungkin kita jadi berat membaca Al-Qur’an, belajar, menulis, dan melakukan aktivitas kebaikan lainnya, namun bukankah di situ letak perjuangan manusia, bagaimana dia melawan rasa malas, individualisme, egoisme, dan sifat buruk lainnya? Lebih dari pada itu, bukankah iman itu selalu diuji?

Refleksi Kisah Nabi Ibrahim dalam QS. Al-Baqarah: 124

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”. (QS. Al-Baqarah (2): 124)

Ayat tersebut menyiratkan bahwasanya janji Allah itu bersyarat. Terlihat dari ketika Nabi Ibrahim meminta agar dijadikannya pula anak cucunya pemimpin seperti beliau. Namun Allah berfirman, “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang dzalim.”

Baca Juga  Islam Sumber Kedamaian bagi Kemanusiaan (1)

Buya Hamka dalam kitab tafsirnya, Al-Azhar, mengatakan bahwa pemimpin yang dimaksud di sini adalah orang yang diikuti, menjadi pelopor, patut ditiru serta diteladani. Nabi Ibrahim dijadikan imam oleh Allah Swt. Bagi manusia karena beliau telah mampu melewati ujian, di antaranya: ujian hatinya, ketika beliau mencari-cari siapa Tuhannya sebenarnya; menentang ayah dan masyarakatnya di negeri sendiri; dibakar hidup-hidup; meninggalkan kampung halaman demi menegakkan keyakinan; tidak memperoleh keturunan hingga tua; setelah memperoleh keturunan yakni Nabi Ismail a.s., Allah memerintahkan beliau untuk menyembelihnya.

Allah Swt menjadikan Nabi Ibrahim a.s. sebagai seorang pemimpin, bukan semata-mata karena beliau adalah Nabi Ibrahim a.s., melainkan oleh sebab keberhasilan beliau dalam menjalani ujian.

Begitupun juga dengan kita, bukan hanya karena kita seorang muslim, maka otomatis kita menjadi orang yang beriman. Beriman itu membawa konsekuensi logis bagi pemiliknya untuk memenuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Kesinambungan antara iman dan amal shalih itulah yang akan membuahkan ketakwaan. Takwa tidak hanya sekadar perasaan takut akan tetapi juga meliputi cinta, kasih, harap, cemas, berani, tawakkal, ridha, sabar dan sebagainya. Sederhananya orang disebut bertakwa ketika dia menyadari posisinya sebagai seorang hamba.

*

Maka sudah seharusnya kita menyambut bulan Ramadan yang tinggal beberapa hari ini dengan perasaan antusias. Menyiapkan segenap jiwa dan raga agar dapat melakukan aktivitas-aktivitas kebaikan dengan yang terbaik. Agar pelita (iman) dalam hati kita semakin terang sinarnya, agar ketika malam menyelimuti bumi dan pelita-pelita di luar diri kita padam, kita tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Bagikan
Post a Comment