f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ta'aruf

Internalisasi Rukun Islam ketika Ta’aruf

Ta’aruf

Tak kenal maka ta’aruf. Plesetan basa-basi berbuah pengenalan yang kerap pembicara gunakan di hadapan para audiens. Ta’aruf memiliki erti perkenalan sebelum menikah. Ada juga yang mengatakan pacaran pranikah. Dalam hal ini, Allah memberikan karunia berupa ketertarikan pada lawan jenis. Lantas, bagaimana cara kita dalam menarik atau mendekati orang yang kita cintai?

Cukup sering kita mendengar titah, “Pandangan pertama nikmat namun pandangan kedua laknat”. Seperti saat kita sedang memandang lawan jenis kemudian ada perasaan yang berdebar, itu adalah hal yang lumrah. Tapi, tatkala dilanjutkan dengan hal-hal yang tidak diajarkan oleh agama pada saat itu juga akan berubah menjadi laknat. Karena itu di dalam persoalan ketertarikan terhadap orang lain atau cinta pada orang lain diyakini sebagai karunia Allah.

Tertera dalam Al-Qur’an لَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ janganlah mendekati zina. Sehingga, aktivitas apapun seseorang sebelum menikah agar senantiasa terjaga. Jangan sampai kemudian mengarah kepada hal-hal yang berbuntut pada pelanggaran agama.

Ta’aruf Pakai Rukun Islam

Perihal cinta, boleh saja tertarik pada seseorang tetapi harus ada aturannya. Paling tidak pakai rukun Islam. Bagaimana ta’aruf pakai rukun Islam? Ta’aruf pakai rukun Islam yang pertama yaitu syahadat, atau ucapkan ke orangnya. Kalau kamu suka dia, bilang. Karena kalau tidak berani mengungkapkan sana tidak bakal paham. Karena itu kita tidak tahu bahasa batin.

Syahadat atau bentuk pengungkapan isi hati untuk menjadikan suami atau istri. Pengungkapan itu tidak harus keluar dari mulut laki-laki, perempuan juga boleh. Contohnya saat Sayyidina Khadijah melamar Rasulullah. Penyampaiannya tentu secara asertif.

Yang kedua salat. Salat adalah mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, apapun aktivitas dalam berta’aruf jangan sampai kemudian melupakan Allah.

Baca Juga  Taaruf Pernikahan dalam Konteks Keindonesiaan

Kemudian yang ketiga adalah zakat. Berarti membantu seseorang dengan merelakan, pengorbanan, dan memberikan perhatian lebih daripada teman lainnya. Tapi tetap dalam kewajaran, jangan pula sampai berlebihan. Misal, meluangkan waktu lebih daripada teman lainnya sehingga waktu untuk dirinya sendiri tidak ada. Kewajiban-kewajiban diri sendiri jadi terbengkalai. Tetap ingat, dia itu belum mesti jadi suami atau istrimu.

Karena zakat berarti menolong orang, Saya pribadi menganjurkan kalau bisa yang suka traktir jangan laki-laki terus, perempuan juga bisa sesekali traktir. Kasihan kan, sama-sama belum punya penghasilan tapi selalu dimintai traktir hanya gara-gara dia laki-laki.

Keempat adalah puasa, asal kata puasa (shaum) artinya menahan. Tahan dulu bahwa dia bukan suami atau bukan istri kamu. Tidak usah bersentuhan dahulu. Karena itu supaya benteng pertahanan kita senantiasa terkondisi dengan baik, saya sarankan ta’arufnya bareng-bareng atau berorganisasi, jadi dilihat banyak orang. Ikut IMM, ikut IPM ataupun organisasi-organisasi kepemudaan lainnya sehingga tidak perlu berdua. Khawatirnya nanti tidak bisa menahan itu tadi.

Kalau sudah dapat puasa atau menahan diri dari segala nafsu serta sudah berumur minimal 19 tahun (perempuan), sudah mempunyai pekerjaan yang baik, mental juga sudah siap. Maka rukun Islam yang ke-5 yaitu pergi ke Baitullah, maksudnya menikah. Jangan berlama-lama menunda untuk menikah, tetapi jangan kemudian belum waktunya malah sudah keburu menikah. Karena itu Rasulullah menikah pada umur yang dewasa yaitu 25 tahun.

Komunikasi Asertif

Silahkan saja berta’aruf dengan catatan perlu memasukkan nilai-nilai rukun Islam. Syahadat berupa pernyataan dari laki-laki ataupun perempuan. Kalau aku suka kamu, mau tidak suatu saat nanti kita sama-sama membangun keluarga, jangan dibatin. Lalu yang kedua salat atau mendekatkan diri kepada Allah. Apapun aktivitas ta’aruf jangan lupa untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah. Yang ketiga adalah zakat, yaitu bagaimana kita memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang yang kita ta’aruf i. Kemudian yang keempat adalah puasa atau menahan diri. Ingat, dia bukan suami atau belum jadi istri kamu. Belum saatnya kamu untuk melakukan hal-hal yang dihalalkan layaknya suami istri. Kalau itu semuanya sudah siap maka naik ke jenjang terakhir yaitu pergi ke Baitullah atau menikah.

Baca Juga  Menikahlah Karena Mampu, Bukan Karena Mau atau Malu

Dalam berta’aruf sangat penting bagi kita untuk berkomunikasi secara asertif. Berkomunikasi asertif dengan menyampaikan perasaan kita tanpa harus kemudian melukai orang lain. Kita akan jujur terhadap perasaan kita, tetapi disamping itu tetap disampaikan dengan kata-kata yang baik. Semisal kalau tadi pada puasa atau menahan nafsu kemudian ada salah satu yang mengajak berbuat dosa katakanlah penolakannya itu juga dengan cara yang baik. Selamat berta’aruf bagi yang mau berta’aruf tapi tetap hati-hati dan tetap dengan aturan-aturan yang ada.

Bagikan
Post a Comment