Sisi Lain dari Makna Romantis
Di media sosial, kita melihat begitu banyak foto bersama pasangan yang diunggah penggunanya. Ada yang enak dilihat karena mungkin pasangan yang sedang berfoto itu termasuk kategori orang yang fotogenik, ada juga yang biasa- biasa saja, bahkan ada yang terksesan norak. Mulai dari pejabat, artis, masyarakat biasa menunjukkan foto- foto bersama pasangannya. Romantisme itu memang naluri manusia, cara merealisasikannya tergantung dari persepsi setiap orang tentang romantis.
Ada yang mengidentikkan romantis dengan kata-kata puitis yang menyanjung atau bersenandung nyanyian rindu. Kalau kita lihat foto tahun tujuh puluhan, romantis ditunjukkan dengan gaya seorang pria membonceng seorang perempuan dengan menggunakan sepeda ontel.
Saat ini yang lazim ditampilkan adalah postingan bersama pasangan di media sosial. Ada yang berharap dengan mengunggah foto bersama pasangannya mereka sudah mendapatkan label romantis atau pasangan samawa till Jannah. Apalagi jika komentar yang diberikan oleh teman- teman di media sosial penuh dengan sanjungan dan juga doa.
Namun ada satu sisi lain dari keromantisan yang sedikit mendapatkan perhatian dari masyarakat sebagaimana apa yang seorang guru berikut lakukan. Sebuah kisah perjalanan seorang guru bahasa Inggris yang tidak kalah romantis dari pasangan lainnya. Saat masih jejaka, pak guru ini kelihatan begitu energik dan tampan. Selain bisa berbahasa Inggris, sang guru juga mahir berbahasa Jerman. Bakat seni si guru muda ini juga sangat menonjol. Di setiap acara tujuh belasan di sekolah, Pak Guru ini selalu menjadi pemain gitar untuk mengiringi acara hiburan di sekolah. Sebagai seorang guru muda yang memiliki banyak keahlian, tidak heran jika banyak siswi yang menaruh hati kepada Pak guru ini. Setiap hari ada saja ungkapan cinta yang ia terima dari siswinya dan juga dari para tetangganya.
***
Namun dari sekian banyak orang yang mengungkapkan cinta kepadanya, ia hanya tertarik kepada seorang gadis sederhana, anak seorang buruh pabrik yang selalu berpapasan dengannya ketika ia pulang mengajar. Gadis ini memiliki rupa yang cantik. Sehingga hati Pak Guru muda ini berlabuh padanya. Singkat cerita, Pak Guru pun melamar gadis ini.
Di awal pernikahan, Pak Guru tidak merasakan sesuatu yang aneh dengan istrinya. Seperti kebanyakan pasangan muda lainnya, pasangan inipun melalui hari-hari mereka dengan bahagia. Apalagi mertuanya sangat baik kepadanya. Jika si istri tidak sempat memasak di rumahnya, si ibu mertua selalu mengantar makanan untuk mereka. Demikian juga ketika anak perempuannya mengandung anak pertama, mertuanya selalu meperhatikan kondisi kesehatan putrinya karena ia khawatir akan kondisi cucu yang masih dalam kandungan.
Setelah persalinan, tidak ada terlihat wajah gembira pada istrinya, namun Pak Guru tersebut masih bisa memaklumi kondisi istrinya yang baru melahirkan. Demikian juga dengan mertuanya, mereka masih merasa iba melihat putrinya yang seolah tidak siap memiliki seorang bayi.
Setelah melalui masa persalinan, si istri pun merawat bayi mereka. Ia sangat sayang pada bayinya itu, namun ada perubahan sikap dari istrinya, ia selalu merasa curiga kepada suaminya. Ia selalu merasa bahwa suaminya di luar sana memiliki simpanan walaupun Pak Guru tidak melakukan hal yang demikian. Pak Guru berusaha keras untuk menjelaskan bahwa perasaan istrinya tidak benar adanya. Namun si istri tidak pernah percaya dengan apa yang telah suaminya sampaikan.
***
Pak Guru dan mertuanya tidak mengerti mengapa terjadi perubahan sikap istrinya setelah melahirkan, kenapa tiba- tiba istrinya begitu cemburu kepadanya. Bahkan si istri tidak sempat lagi merawat dirinya sendiri. Ia lupa untuk berdandan, ia lupa untuk memakai pakaian yang layak, ia lupa untuk menyisir rambut. Istrinya hanya bisa menyusui anaknya dan dalam lamunannya Ia menduga bahwa si suami sedang bersenang- senang dengan perempuan lain. Pikiran aneh ini menggerakkannya untuk selalu mengikuti kemanapun si suami pergi. Bahkan ia pun mengikuti si suami ke sekolah tempat si Pak Guru mengajar. Setiap hari si istri selalu ikut ke sekolah sambil menggendong bayinya yang masih merah.
Di sekolah, si istri hanya duduk-duduk di kantin sambil mengurus bayinya yang terkadang menagis, tatapannya selalu kosong dan mencurigai setiap perempuan yang berbicara dengan suaminya. Perubahan sikap si istri ini mengakibatkan menurunnya kinerja Pak Guru di sekolah. Ia tidak lagi aktif membina debat bahasa Inggris di sekolah dan tidak pernah aktif lagi menjadi pembina kesenian di sekolahnya. Yang ia lakukan hanyalah mengajar serta merawat istri dan anaknya. Bahkan sampai di rumah pun seluruh tugas rumah tangga ia lakukan sendiri. Mulai dari memandikan istri, memandikan bayinya, dan memasak.
Suatu saat ia membawa istrinya ini untuk berobat ke psikiater. Ia khawatir ada sesuatu yang mengganggu mental istrinya sehingga sikapnya sangat berubah. Setelah bertemu dengan psikiater, ia pun mendengar penjelasan dokter tentang istrinya. Istrinya memang mengalami gangguan jiwa berat. Sebenarnya gangguan jiwa ini sudah ada sejak istrinya kecil, hanya saja mungkin karena keterbatasan wawasan dan biaya hidup, mengakibatkan gejala gangguan jiwa ini tidak terdeteksi.
***
Namun cinta Pak Guru tidak surut meskipun istrinya terkena gangguan jiwa. Kebanyakan laki- laki mungkin memilih bercerai dan menikah lagi dengan perempuan normal yang tidak mengalami gangguan jiwa, kemudian menitipkan istri dan anaknya kepada mertua. Apalagi teman-teman dan keluarga si Pak guru ini selalu mendesak untuk menceraikan istrinya dan menikah lagi.
Pak Guru tidak melakukan hal yang teman- teman dan keluarganya sarankan. Ia sangat menyayangi dan mencintai istri dan anaknya walaupun si istri sekarang sedang sakit dan mengalami gangguan jiwa. Keterbatasan kondisi istrinya ini tidak menjadi penghalang baginya untuk setia terhadap istrinya, karena sebelum menikah, ia sudah bertekad untuk menerima segala kekurangan yang istrinya miliki.
Setiap hari Pak Guru ini melakukan rutinitasnya, setiap pagi ia memboyong anak dan istrinya ke sekolah agar jiwa si istri damai dan kondisi jiwanya tidak semakin parah jika ia meninggalkannya di rumah. Benih-benih cinta selalu ia pupuk dalam jiwanya hingga mereka memiliki empat orang anak. Si sulung sudah kuliah, dan seperti ayahnya ia tidak pernah malu memiliki ibu dengan gangguan jiwa. Ia pun membantu ayahnya untuk membesarkan adik-adiknya.
Romantis itu tidak melulu hanya memuji kecantikan dan kehebatan pasangan . Romantis itu tidak hanya perkara memposting foto-foto mesra dengan pasangan. Romantis itu bukanlah memainkan gitar dan bersenandung lagu-lagu cinta di depan seorang gadis.
Romantis itu ketika kita sanggup menerima kekurangan pasangan kita. Romantis itu ketika kita berjuang melawan keterbatasan pasangan kita untuk kehidupan keluarga yang lebih baik sebagimana yang telah Pak Guru contohkan dalam menghadapi istrinya yang ODGJ.
Dosen Universitas Negeri Medan
