Yang Tua Yang Tetap Belajar
Sekira pukul 10 pagi, Pak Taslim datang ke rumah. Seperti biasa, tiap hari minggu beliau biasa menitipkan sepeda motor untuk mengikuti kajian ‘ahadan’ di sebuah pondok pesantren di wilayah Sarang Rembang. Bapak yang satu ini lebih pantas saya sebut kakek, karena melihat raut wajahnya yang sudah banyak lipatan, berkerut-kerut di sepanjang wajah dan tubuhnya.
Kebetulan, rumah yang saya tempati, rumah peninggalan mertua ini, mempunyai letak geografis yang berhimpitan dengan komplek pondok. Kurang lebih 7 pondok pesantren. Hampir setiap minggu kerumunan Pak Taslim-Pak Taslim yang lain, duduk berjejal, sekitar ratusan bahkan ribuan orang yang belajar kitab tafsir Jalalain. Uniknya, hampir semuanya adalah orang-orang yang sudah memasuki usia senja. Mereka dengan gembira mengamalkan konsep uthlubul ilma min al lahdi ila allahdi.
Sekilas raut wajah mereka menyiratkan semangat membara. Dengan menenteng kitab tafsir karangan Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, memakai sarung dan kopiah, beberapa bahkan membawa tas, persis kayak anak sekolahan.
Padahal fisik mereka tak lagi tangguh, terkadang otak dan fisik sudah tak seharmonis waktu bercelana cutbray dulu. Tetapi mereka nampak tak lelah dengan kondisi tubuh yang nampak payah. Mereka datang dari kediaman mereka yang tak jarang cukup jauh jaraknya. Demi tugas mulia yaitu menuntut ilmu.
Menuntut Ilmu Kerjaan Kamu Muda?
Menuntut ilmu? Ah, saya kira itu hanya kerjaan kaum muda yang masih panjang jalan hidupnya di dunia. Ternyata banyak juga kaum tua yang dengan sukarela masih mau belajar, bahkan mereka yang sudah selesai dengan hidupnya.
Selesai hidupnya dalam artian mereka sudah tidak ingin mencari apa-apa untuk dunianya. Usia yang tak lagi produktif, anak-anak merekapun lambat-lambat menyusul tua, anak-anak pun sudah banyak yang mandiri. Sebenarnya inilah saatnya menikmati masa tua dengan cukup ongkang-ongkang kaki dan momong cucu. Dan mereka ternyata masih tetap gigih untuk terus belajar. Ah untuk apa lagi mereka ini belajar?
Walaupun pepatah mengatakan, Belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagai menulis di atas air. Toh mereka tak peduli. Seolah mereka tak peduli apakah ilmu yang ia cecap bisa bertahan lama di otaknya atau hanya numpang lewat di telinga saja. Persoalan teknis seperti itu sudah lama mereka abaikan. Sudah bukan maqomnya lagi.
Semakin menarik manakala persoalan ini kita tarik ke persoalan-persoalan yang lebih makro. Persoalan tentang kemauan belajar. Bagaimana mengimitasi semangat belajar ini diterapkan ke generasi setelahnya. Tentu cantolan ilmu yang didapatkan akan lebih tebal dan bergizi.
Belajar Tanpa Pamrih
Kenyataan bahwa semangat belajar telah mengendur pada generasi setelahnya. Entah karena ketatnya metode belajar, mungkin juga karena kurangnya kemauan dan kesadaran belajar, atau bisa juga karena yang lainnya. Maka konsep belajar tanpa pamrih, dengan level keikhlasan tingkat tinggi Pak Taslim dan teman-temannya ini idealnya bisa kita adopsi dengan beberapa modifikasi tentunya.
Pertama, konsep tanpa pamrih. Ini menggambarkan bahwa mereka seolah tak terbebani apakah pelajaran yang diterima bisa masuk dan menetap lama di otak ataukah hanya mampir lewat saja. Dus, jika konsep ini diterapkan kepada anak-anak kita, kaum pelajar dan santri, maka niscaya kesulitan mengukir di atas batu akan terasa ringan-ringan saja. Seberapa kerasnya ia belajar, konsep tanpa pamrih dilandasi dengan tingkat kontinuitas dan tenaga yang tinggi, maka batu itu lambat laun akan menyerah oleh goresan-goresan cantik nan powerfull dari anak-anak kita.
Yang kedua, dengan kadar keihklasan belajar yang paripurna ini bisa juga diterapkan kepada anak didik kita. Dengan inovasi dan metode pembelajaran terbaru, mereka bisa kita bentuk untuk menjadi pribadi yang ikhlas. Mereka yang memasuki fase keikhlasan itu tidak akan memedulikan lagi hal-hal remeh di luar tugas belajarnya. Dengan bahasa pesantren, itu adalah sebentuk ngalap barokah. Yang penting dapat barokah dan pahala.
Barokah dan pahala jika dielaborasi dengan metode pembelajaran yang tepat dan lebih modern, maka harapannya anak didik kita tidak hanya akan mendapatkan bonus akhirat saja, seperti yang para orang tua harapkan. Mereka juga akan mendapatkan bonus-bonus lain yang lebih konkrit, mengingat usia yang masih muda, dan otak yang belum mengental. Mereka tidak hanya dapat menjadi lebih pintar dan cerdas, tapi mereka juga bisa lebih santun dan berkarakter.
Dari semua hal di atas yang ideal adalah manakala kita mau untuk terus belajar. Belajar dengan sungguh-sungguh dari muda sampai tua. Belajar tanpa mengenal usia.
Tinggal kita memilih, belajar dengan semangat selagi muda. Atau lebih memilih belajar besok-besok saja ketika sudah tua. Pertanyaannya, Rahmaniayakin bisa hidup sampai tua?
Rembang, 25 Juli 2020
