Hidup adalah Belajar
Hidup itu untuk belajar, bukan belajar untuk hidup. Mungkin kalimat inilah yang pas untuk mengawali tulisan ini. Banyak hal di dunia ini yang kita tidak tahu jawaban pastinya. Seperti kapan Virus Corona akan berakhir di Indonesia. Kenapa diperlukan health-distance, menjaga jarak kesehatan sekitar dua meter dalam persinggungan sosial di mana pun dan kapan pun saat terjadi pagebluk Corona. Mengapa salat magrib tiga rakaat, sementara salat subuh hanya dua rakaat. Mengapa ikan bisa berenang, sementara burung bisa terbang. Mengapa tidak dibalik saja, ikan-ikan terbang di angkasa, sementara burung-burung menyelam di dasar lautan.
Ada yang keran rezekinya mengalir deras, ada juga yang keran rezekinya hanya menetes. Kita hanya mampu menerka-nerka jawabannya. Boleh jadi agar kita mau terus belajar dan bersyukur. Dari seluruh ketidaktahuan inilah manusia dituntut untuk terus belajar, kapan pun dan dimana pun ia berada. Belajarlah dari apa dan siapa saja. Kita akan using jika kita tidak terus belajar.
Belajar adalah Bagian dari Tugas Sehari-hari Manusia
Belajar merupakan jalan tol yang dibangun Tuhan gratis untuk manusia. Agar ia sampai kepada keluasan cakrawala. Walaupun tidak ada kemampuan manusia untuk sampai, tetapi wajib ada padanya perjuangan untuk menuju ke sana. Merenung. Bersemedi. Bertafakur. Tatap wajah kehidupan kita, temukan kebodohan dan kesalahan kita sebagai seorang hamba. Dan kemudian tumbuhkan kerendahan hati di hadapan-Nya. “Jika pepohonan dijadikan penanya dan air samudera dijadikan tintanya, maka itu semua tidak cukup untuk menuliskan pengetahuan-Ku,” ujar-Nya dalam Al-Kitab.
Sadarkah kita bahwa kita terlahir ke dunia dalam keadaan lemah tak berdaya. Setelah keluar dari rahim sang ibu, mula-mula kita belajar mengkerdipkan mata serta diiringi dengan suara tangis yang membawa haru suasana. Setelah itu kita belajar mengucap kata. Melakukan komunikasi sederhana, rewel jika merasa lapar, kurang nyaman dan lain sebagainya. Beranjak dari balita, anak-anak, menjadi remaja, kemudian dewasa, kita terus melakukan proses belajar. Banyak hal dari diri kita yang berubah dan bertambah tanpa kita sadari.
Belajar adalah upaya untuk membuat keseimbangan baru antara diri dan realitas kehidupan yang terus berjalan, serta selalu berubah. Sementara itu belajar dalam makna yang lebih luas ialah menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Mengutamakan kesadaran ketidakberdayaan kita di hadapan Allah Swt. Tidak terlena dengan hal-hal yang menyenangkan, dan tidak juga tertipu dengan sesuatu yang bersifat fana (sementara). Kedepannya, hidup akan semakin sulit. Tantangan yang kita hadapi juga akan jauh lebih berat dari tantangan sepuluh, lima, atau setahun yang lalu.
Dengan terus belajar, manusia diharapkan bisa menjadi pribadi yang bijaksana. Berlaku bijak terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan kehidupan yang penuh dengan tanda tanya. Tak seorang pun benar-benar dapat memprediksikan apa saja perubahan yang akan kita saksikan di masa depan. Maka terus belajar adalah kuncinya. Agar kita selalu terbuka dengan segala perubahan yang datang, dan kemudian berdamai dengan sesuatu yang telah using dimakan zaman.
Menjadi manusia adalah sebuah ketetapan
Ada sebuah kalimat bijak, “Manusia memusuhi apa-apa yang tidak ia ketahui”. Menjadi manusia adalah sebuah ketetapan. Namun, menjadi pandai atau bodoh merupakan pilihan setiap orang. Agar berkurang musuhmu, maka perbanyaklah jam belajarmu. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan serta pengalaman, akan menjadikan kita lebih terukur dalam berpikir dan berucap.
Tidak mudah menyalahkan hal-hal yang bertentangan dengan sesuatu yang ia yakini kebenarannya. Baginya, kebenaran cukup berada di dalam diri masing-masing individu dan tidak perlu untuk diperdebatkan. Di luar itu semua hanyalah kebaikan bagi seluruh insan. Yang tidak kalah penting, setiap kita perlu belajar membaca dan memahami situasi untuk menjawab persoalan melalui evaluasi dan refleksi secara terus-menerus agar menemukan jalan-jalan terbaik dalam kebersamaan.
Masalah pintar atau kurang pintar itu hanyalah penilaian manusia. Semua orang mempunyai peluang yang sama entah di sini atau di tempat lainnya. Hidup adalah ruang belajar yang mengasyikkan. Segala hal dapat kau temui dan pelajari sesuka hati. Sekolah dan kuliah itu hanya bagian kecil saja dari hidupmu. Banyak sekali hal-hal besar yang harus diperjuangkan di luar itu. Agar kau tau betapa berharganya dirimu.
Dalam belajar mengharuskan setiap orang untuk membaca. Membaca adalah sebuah kemewahan. Namun sayang, tidak semua orang mampu menikmatinya. Manusia tidak dikatakan belajar tanpa ia melakukan aktivitas membaca. Membaca merupakan perintah paling mendasar dari Tuhan kepada seluruh umat manusia. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu (QS. Al-Alaq: 1).
Manusia yang pandai dan suka membaca akan sangat mudah mengenali kehidupannya. Berlaku arif dan bijaksana kepada siapa saja yang ditemuinya. Tanda-tanda alam dan kehidupan dapat ia lihat dengan sempurna. Selamat belajar membaca kehidupan yang penuh dengan tantangan. Semoga hari-harimu menyenangkan dan diliputi keberkahan.

Diko Ahmad Riza Primadi, seorang sarjana Matematika yang hobi membaca, menulis dan sekaligus bersepeda. Semasa kuliah hingga sekarang aktif berkecimpung di dunia jurnalistik. Kini sedang menempuh S2 di Prodi Pendidikan Matematika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan bekerja sebagai wartawan di Majalah Suara Muhammadiyah.
