Orang Tuaku Rumahku
“Anakku di sebut ansos sama tetangga-tetangga, gara-gara tidak suka dengan orang asing. Dia cuma mau sama Bapak dan Ibunya.”
Seorang teman mengirimkan sebuah pesan kepada saya via whatsapp. Saya hanya bisa tersenyum dan merasa bahagia. Betapa bangganya saya melihat teman saya ini. Secara tidak langsung dia sudah berhasil memosisikan diri menjadi rumah bagi anaknya.
Menjadi rumah bagi seorang anak. Rumah, sebagai tempat kembali tempat teraman dan ternyaman bagi kita. Rumah bagi saya tidak bisa hanya didefinisikan sebagai sebuah bangunan atau tempat bernaung. Lebih dari itu, rumah adalah tempat ketika kita bisa berkumpul dengan mereka yang kita sayangi dan menyayangi kita.
Orang tua adalah salah satu komponen yang ada di dalam sebuah rumah. Orang tua sebagai sebuah peran pemberi kasih sayang perpanjangan dari rahmat Allah. Lalu, darinya perasaan nyaman, aman, tenang hadir dan menghangatkan sebuah rumah.
Ketika ada rasa aman, nyaman, tenang, maka setiap individu akan selalu merindukan rumah. Tak akan ada tempat pulang paling aman selain ada di rumah. Maka, ketika teman saya bercerita, anaknya suka menempel dengan dia, saya merasa perlu belajar dari dia.
Tidak mudah menjadi orang tua yang menjadi “yang paling dicari” dari seorang anak. Tidak gampang juga membuat anak, menantikan kita di depan pintu. Saat kita pergi kerja, anak kita tersenyum lalu memanggil kita dengan suara mungilnya.
Ah, perasaan nyaman yang tidak bisa kita tukar dengan apapun. Lalu, anak kita dengan polosnya akan menggandeng tangan kita, memeluk, lalu menceritakan apa saja yang terjadi hari ini. Tanpa ada perasaan takut, dimarahi atau dihakimi.
Perasaan untuk menjadikan anak sebagai manusia yang utuh. Dianggap sebagai manusia yang ada. Seorang individu unik, yang dititipkan Allah pada kita untuk kita jaga perasaannya, jiwanya, dan juga fisiknya.
Inilah yang perlu kita pupuk di rumah kita. Jadikan diri kita sebagai orang tua yang bisa mengayomi mereka. Tidak hanya memenuhi kebutuhan dari aspek fisik, sandang, pangan, dan papan, tapi juga kebutuhan anak secara psikologi. Anak perlu untuk dicintai, diakui, dan dianggap ada.
Kita berperan sebagai orang tua yang baik, tidak bersikap kasar, tidak membanding-bandingkan mereka dengan individu lain, mencintai, dan menerima mereka. Setelahnya anak yang merasa diterima tanpa syarat di keluarga akan mampu menerima dirinya sendiri.
Anak kemudian akan tumbuh percaya diri dan mencintai kita sebagai orang tua. Dengan melakukan hal semacam ini pelan-pelan kita dapat menanamkan nilai-nilai Islam pada anak.
Maka mereka akan selalu kembali pada kita apabila mengalami kesulitan atau masalah. Kita akan selalu menjadi rujukan bagi mereka sebelum melakukan segala sesuatu. Lebih lanjut ke depannya akan lebih mudah kita mengajak mereka berdiskusi dan menciptakan ekosistem keluarga yang sehat.
Sebaliknya, apabila kita gagal merangkul anak kita. Maka anak-anak akan merasa hampa. Batin kecil mereka akan bertanya-tanya, kemudian sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan psikis mereka yang kosong mereka akan mencari siapa yang bisa mengisinya.
Lalu, di sinilah anak-anak akan mencari cara untuk bisa diakui, dicintai, dan dianggap ada. Anak-anak mungkin akan mulai dengan meniru influencer yang dianggap keren, meski memiliki akhlak kurang baik. Maka jangan heran jika banyak anak dan remaja lebih berkiblat kepada influencer daripada orang tuanya.
Setelahnya, digerogoti rasa sepi, rasa tidak memiliki siapa-siapa, anak akan mencari figur yang bisa menggantikan orang tuanya. Maka tidak heran, bermunculan gerombolan geng anak dan remaja yang kadang meresahkan warga. Iya, anak-anak malang yang tidak dapat hak mereka dari orang tua ini mencari ke teman-teman sebaya dan lingkungan.
Mereka melakukan kenakalan remaja seperti klithih, perundungan kepada yang lain, tindakan asusila, konsumsi berbagai obat-obatan. Semua kenakalan yang bisa mengantar anak-anak kita menjauh dari surga. Mereka tanpa sadar berjalan menuju neraka dunia dan akhirat.
Neraka dunia, karena anak-anak ini kehilangan masa depan yang cerah. Neraka akhirat karena mereka telah melanggar hukum dan ketentuan Allah. Lalu, apa cuma anak kita yang merasakan neraka? Tidak! Kita sebagai orang tua pun merasakan hal ini, baik di dunia maupun akhirat.
Naudzubillah tsumma naudzubillah…
Nah, kebiasaan orang tua apabila anak sudah berperilaku nakal, bukannya introspeksi malah sibuk menyalahkan. Mereka sibuk memarahi anak-anak, dan memaksa mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Itu adalah hal yang benar tetapi, apakah akan semudah itu?
Tentu tidak. Anak-anak yang kadung terluka di masa kecilnya tidak akan semudah itu menerima nasehat. Mereka cenderung memberontak. Belum lagi dengan adanya kemungkinan gap antara anak dan orang tua yang memperparah keadaan. Anak menganggap orang tua kolot dan orang tua menganggap anak kurang ajar.
Maka, sebagai orang tua mari kita merenung sejenak. Sudahkah kita menjadi rumah bagi anak kita? Sudahkah kita menjadi rujukan bahkan menjadi contoh menjalani kehidupan setelah Rasulullah? Ya, masih banyak PR kita ke depan.
Ini tugas mulia, sebagai orang tua untuk merangkul anak dari dini. Kita hujani mereka dengan kasih dan sayang hingga mereka bisa menjadi individu yang sesuai dengan nilai agama dan bahagia. Dan yang paling penting, kita peluk anak-anak kita agar mereka tahu betapa kita menyayangi dan menganggap mereka berharga.
Ibu Rumah Tangga tinggal di Semarang. Bisa silaturahnmi via FB Anisa fitrianingtyas.
