Saudariku, Kita Akan Pulang
“Gapapa, semoga tempat pulang kita surga.”
Saat dewasa, ternyata manusia bukan hanya makhluk sosial seperti apa yang kita pelajari sebelumnya, tetapi juga makhluk yang banyak menangis. Ada yang mengalihkannya dengan mengasingkan diri di kamar berpetak, ada yang berjalan kaki atau berkendara kemana saja arahnya, ada juga yang keluar bertemu orang lain karena katanya jika menyendiri akan datang pikiran-pikiran jelek dan sedih.
Ketika datang suatu kejadian yang terasa begitu keras menimpa kita, merasa sesak yang menjalar menyempitkan hati yang semula lapang, maka ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi di atas muka bumi adalah atas seizin Allah.
Tenanglah…
Ini sudah seizin dzat pemilik bumi, langit dan seisinya.
Introspeksi hingga berujung memaki kebodohan diri kadang tidaklah tepat. Membenci diri sendiri itu menyedihkan, sungguh. Mari mengakui bahwa memang, kadang kebodohan, kecerobohan dan ketamakan kita terlihat jelas mengambil andil besar dalam mendatangkan masalah. Tetapi, pada akhirnya manusia yang bisa belajar dan mengambil hikmah setelahnya adalah mereka yang memperoleh keberuntungan.
Kadang sesuatu memang sulit dimengerti mengapa takdir membiarkan kita dihampiri penipu, lalu dibuatnya percaya, dijebak, dan berakhir dibohongi dengan kehancuran. Musibah yang demikian begitu menyesakkan, apalagi kita adalah pejuang keluarga, apalagi kita adalah perintis usaha, apalagi kita hanyalah anak muda lemah yang sedang menyusun batu-batu impian untuk masa depan.
Kadang kala kita benar-benar seperti manusia polos di tengah dunia penuh kecurangan.
Lagi, kadang sesuatu memang sulit dimengerti mengapa takdir mendatangkan seseorang yang memenuhi perasaan cinta sedikit demi sedikit, dibiarkan untuk singgah, memberi perasaan nyaman dan aman, dan berakhir berbalik mematahkan hati dan menjadikan manusia-manusia yang semula saling bergantung itu kehilangan arah. Ujian yang demikian juga dahsyat efeknya, apalagi sosok itu adalah sandaran satu-satunya di kehidupan, apalagi sosok itu adalah figur dari asingnya seorang wanita terhadap peran ayah, apalagi sosok itu sudah menjadi bagian dari kehidupan, rencana-rencana membangun rumah impian bersama, dan melewati ikrar janji mendampingi anak-anak tumbuh mendewasa.
Kadang kala kita benar-benar hanya bisa bersimpuh dan tidak tau kedepannya akan seperti apa.
Dibuat menangis, tersungkur hingga linglung layaknya manusia tanpa arah adalah fase yang tidak akan terlupakan. Belum lagi jika mengkhawatirkan di fase terburuk ini ada manusia-manusia yang menyaksikan sambil tertawa, ada manusia-manusia yang berteriak bahwa kita memang bodoh, dan ada manusia-manusia yang kita pikir bisa menjadi tempat pulang paling aman namun mereka malah seakan membuang muka.
Jika memang harus mengalami hari-hari berat dihiasi kecemasan, ketahuilah bahwa itu hal yang normal. Bahkan Mariam a.s begitu cemas saat akan melahirkan Isa a.s tanpa seorang ayah hingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menenangkannya. Bahkan Ibu Musa a.s begitu cemas dan sedih ketika harus menghanyutkan anaknya ke sungai.
Kecemasan yang dialami oleh seorang muslim tidak berarti bahwa imannya lemah atau buruk, tetapi itu memanglah bagian dari kehidupan seperti yang Allah Swt katakan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 155 yang artinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Begitulah ceramah yang disampaikan salah seorang syaikh, terlebih beliau memberikan contoh dari kejadian pandemi di masa lalu, bahwa hampir semua orang di bumi ini cemas akan berita meninggal setiap menitnya, pekerjaan yang hilang, tabungan yang menipis bahkan tidak ada uang untuk makan di hari esok. Apakah semua orang pada saat itu adalah manusia-manusia yang lemah iman? Tentu tidak. Maka dari itu, saat kecemasan melanda, kita sebagai umat Muslim lebih dahulu diberikan solusi untuk menanganinya, agar tidak ada alasan untuk mengakhiri hidup sebelum ajal datang menjemput.
“….Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” Q.S At-Talaq ayat 2 dan 3.
Jujurlah pada diri sendiri bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah. Kita hanyalah hamba yang haus akan rahmat Tuhannya. Ternyata rengkuhan Tuhan dalam sujud begitu indah sampai-sampai banyak yang meminta untuk dijemput secepatnya. Pengharapan kepada Tuhan begitu indah sampai-sampai list impian-impian dunia tidak lagi membuat semangat menyala. Hanya berharap diampuni dan dipanggil dalam sebaik-baiknya keadaan dan sebaik-baiknya panggilan pulang.
Benar bahwa bagian terindah dari tempaan ujian adalah disadarkan untuk kembali mengingat akan tempat tujuan kita yang sesungguhnya. Tempat setelah mencari perbekalan ini berakhir. Bukankah kita sebagai seorang muslim merasakan bahwa banyak menangis akan beriringan dengan banyak mengadu kepada Tuhan yang maha mendengar? Banyak menangis akan beriringan dengan memutar kajian-kajian para ulama atau mendatangi rumah-rumah Allah demi mendapatkan kedamaian? Banyak menangis juga menjadi waktu yang sempurna untuk bermuhasabah diri, mendekatkan kita pada yang sebelumnya berjarak, ingat dengan orang-orang baik yang pernah Allah kirimkan, dan banyak sekali hal-hal baik yang seketika menjadi kebiasaan baru seperti membaca pedoman hidup beserta terjemahan dan tafsirnya, yakni Al-Quran.
Gapapa, semoga tempat pulang kita surga.
Penulis antusias sejak sekolah menengah atas, dan pernah terjun sebagai penulis Wattpad, Noveltoon dan Blogspot. Memiliki nama pena Zet, saat ini aktif sebagai mahasiswi di UHAMKA. Berteman lebih dekat di Instagram: @zalfazahira__
Sosial media: Instagram: zalfazahira__

Sabar triprastiana
masyaAllah….aamiin ya Rabb