f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ilmu

Ilmu, Niat, dan Kebahagiaan

Kebahagiaan merupakan cita-cita bagi seluruh manusia dalam setiap relung kehidupannya. Baik kebahagiaan itu perihal cinta antara sesama insan, kebahagiaan karena dapat  mengenyam pendidikan, beribadah, dan yang lainnya. Bagi saya pribadi, salah satu kebahagiaan selama menjadi seorang perantauan di tanah orang lain, ialah  dapat merasakan nikmatnya mengaji dan belajar bersama Pak Fahrudin Faiz melalui Youtube maupun langsung belajar di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.

Selama ini, saya senantiasa mendapatkan kesempatan belajar bersama beliau; yang muatan kajian-kajiannya mulai dari bahasan tentang pemikiran tokoh-tokoh filsafat timur, barat, nusantara, dan kontemporer. Pada tiap-tiap diskusi, beliau mampu menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan enak untuk dicerna; sehingga yang mengaji dapat dengan mudah memahaminya. Inilah mengapa kenikmatan (kebahagiaan) dalam menuntut ilmu dapat pemuda rasakan wabil khusus pemuda seperti saya.

*

Oleh karena itu,  berbicara persoalan ilmu, Allah dalam Al-Qur’an berfirman dan berjanji akan memuliakan orang yang menuntut ilmu, sebagaimana ayat itu berbunyi:

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Merujuk pada firman Allah di atas, maka dapat dikatakan betapa Allah sangat mencintai orang yang menuntut Ilmu, sehingga menaikkan derajatnya. Bahkan Allah juga sangat memberikan kepastian penuh kepada umatNya yang menuntun ilmu. Sebagaimana Allah melalui kekasihNya, yaitu Nabi Muhammad Saw. bersabda,  “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Dengan penjelasan di atas, saya secara pribadi berusaha agar tetap menjadi seorang hamba yang senantiasa istiqomah dalam mencari ilmu. Ilmu merupakan bekal dalam mengarungi samudra kehidupan yang fana ini, sekaligus juga sebagai bekal untuk di akhirat.

Baca Juga  Problem Kesetaraan

Imam Syafi’i, seorang ulama  Ahlusunnah Wal Jamaah dan salah satu dari empat mazhab umat muslim di dunia mengatakan ihwal ilmu, “Jika kamu tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan dengan perihnya kebodohan.”

Ungkapan Imam Syafi’i di atas menjadi alasan kuat bagi saya untuk tetap mencintai ilmu, agar tidak menjadi seorang hamba yang bodoh; karena dengan kebodohan itu dapat menjerumuskan kepada perilaku-perilaku yang tercela.

Pak Fahrudin Faiz Berpesan kepada Pencari Ilmu

Pada pembahasannya sebelumnya, saya membahas pentingnya menuntut ilmu. Dalam  sub judul ini akan membahas perihal berhati-hati dalam menuntut ilmu. Dalam Ngaji Filsafat virtualnya, Pak Fahrudin Faiz berpesan, bahwa dalam menuntut ilmu ada beberapa poin penting untuk diketahui para pencari ilmu; agar dalam niatnya dapat berhati-hati menuntut ilmu atau alasan menuntut ilmu.

Pertama, beliau mengutip terlebih dahulu hadis Nabi Muhammad Saw. yang kemudian beliau terangkan, yaitu: “Barang siapa yang mencari ilmu dengan maksud untuk mendebat ulama,  atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau agar menarik perhatian yang lainnya. Maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi).

Poin pertama beliau menerangkan kalimat di dalam hadis, “barang siapa yang mencari ilmu dengan maksud untuk mendebat ulama” pada kalimat ini, beliau memberikan tafsirannya bahwa barang siapa mencari ilmu hanya untuk mencari-cari dalil untuk berdebat atau membantah ulama; semisal jika ada teman, ustaz, atau ulama yang tidak kita sepakati pendapat atau gagasannya, hal ini tidak menjadi masalah.

Akan tetapi, yang menjadi persoalan jangan sampai disebabkan berbeda pendapat itu lantas dicari-carikan dalil. Menurut pak Faiz, diksi mencari dalil dengan mencari-cari dalil itu berbeda. Kalau mencari-cari dalil itu sifatnya mencari yang cocok, dan kalau tidak cocok dalil tersebut dibuang, sehingga hal ini sifatnya hanya ingin membodoh-bodohkan ulama. Namun berbeda dengan mencari dalil, sebab sifat itu lebih objektif. Dan tentunya hal ini, masih dalam koridor akademisi.

Baca Juga  Enam Bekal dalam Menuntut Ilmu Versi Nadzom Alala
*

Sedangkan, poin kedua beliau memberikan tafsirannya pada kalimat berikut, “atau untuk mendebat orang-orang bodoh” ketika seseorang di dalam niatnya menuntut ilmu hanya untuk mendebat orang-orang yang bodoh supaya terlihat berwibawa; keren; terpesona; dan disegani orang lain. Menurut pak Faiz dalam konteks ini, seseorang tersebut hanya dalam niatnya tertuju supaya mendapatkan popularitas dan pengakuan dari masyarakatnya.

Kemudian yang terakhir, beliau menerangkan tafsirannya pada kalimat berikut, “atau agar menarik perhatian yang lainnya” ketika seseorang niatnya pada kalimat sebelumnya untuk  menarik perhatian dan dengan menarik perhatian seseorang atau masyarakat ingin terkenal. Dan dengan terkenalnya itu, serta ilmunya hanya ia jadikan barang untuk menipu atau semacamnya seperti kaum sofis untuk menang debat; popularitas; dan mendapatkan keuntungan dari semua itu.

Maka, berdasarkan apa yang sudah Pak Faiz terangkan di atas, haruslah bagi kita para pencari ilmu dalam niat awalnya harus sudah berhati-hati. Sebab, ketika tidak hati-hati dalam berniat untuk mencari ilmu, Allah telah memperingatkan kita dengan suatu hukuman, yaitu memasukkan ke dalam api neraka.

Menata Niat yang Baik Dalam Menuntut Ilmu.

 “Hati-hati niatnya dijaga. Oleh karena, kunci segalanya ada di niat.” Pesan Pak Faiz melalui kajiannya di Youtube.

Dalam Hadis Arbain An-Nawawi yang disusun langsung oleh Iman an-Nawawi, pada bagian awalnya dicantumkan persoalan niat, sebagaimana dalam hadis itu berbunyi:

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang (niat) berhijrah kepada Allah dan RosulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RosulNya. Barang siapa (berniat)  hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya  kepada apa yang diniatkannya itu.” ( HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Merestorasi Dakwah dalam Konstruksi Paham Moderat

Berbicara perihal niat dalam hadis di atas, saya ingin mengulas persoalan niat dalam menuntut ilmu melalui kajian Pak Fahrudin Faiz. Dalam kajiannya, beliau menerangkan ada beberapa hal penting terkait niat menuntut ilmu, di antaranya:

Pertama, mencari rida Allah Swt. Mengapa landasan utama menuntut ilmu menurut beliau adalah mencari rida Allah? Karena ketika niatnya untuk mencari rida Allah, maka secara otomatis perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan akan Allah filter secara langsung. 

Kedua, dalam niat belajar beliau memberikan penjelasan tentang kebahagiaan yang sifatnya ukhrowi atau akhirat. Sebab, ketika tujuan niat belajar akhirat maka otomatis dunia akan kita dapat juga.

Ketiga, niat dalam menuntut ilmu adalah memerangi kebodohan dalam diri sendiri maupun orang lain. Melalui kajiannya, beliau menerangkan dalam konteks niat belajar semacam ini merupakan jihad para muta’alim (pembelajar). Perang yang dimaksudkan adalah untuk memerangi kebodohan dalam diri sendiri sekaligus ketika sudah berhasil memerangi kebodohan dalam diri dapat membantu orang lain keluar dari kebodohan.

Terakhir, niat dalam menuntut ilmu, yakni mengembangkan dan mendakwahkan Islam. Berdasarkan kalimat itu, beliau memberikan penjelasan bahwa untuk memajukan peradaban Islam maka jalannya harus menggunakan ilmu. Sebab dengan ilmu, Islam akan maju dan berkembang, oleh karena itu dalam niat mencari ilmu harus dipraktikkan demi mengembangkan dan memajukan peradaban Islam.

Bagikan
Comments
  • Pemuda

    Terima kasih kepada smua pihak 🙏, masyallah ilmu nya bermanfaat buat saya pribadi.

    Oktober 10, 2021
Post a Comment