Menjawab Tantangan Perempuan di Bidang Pertahanan dan Keamanan
Membahas isu pertahanan dan keamanan secara nasional sering lekat dengan laki-laki. Padahal laki-laki atau perempuan memiliki peran dan kontribusi besar pada bidang pertahanan dan keamanan. Memang sejarah, sektor hankam nasional didominasi oleh laki-laki. Perlahan, ada perubahan yaitu perempuan sudah mengisi peran-peran penting, tapi tidak dapat dipungkiri perjuangan berat demi kesetaraan meraih peran kepemimpinan dalam dunia hankam masih banyak kendala.
Emily A. Cote pada agenda kegiatan “ What Women Bring to the Fight: An Analysis of Female Leadership in US National Security” tahun 2022 mengatakan perempuan dalam hal kepemimpinan melahirkan perspektif dan pendekatan yang beragam. Dengan demikian akan menghasilkan keputusan yang lebih efektif dan komprehensif.
Stereotip terhadap kepemimpinan perempuan di bidang ini terus ada dan terkesan bias gender. Perlu diskusi dan dorongan untuk memberi pemahaman yang lebih terbuka. Perempuan menjadi mitra, bukan menjadi saingan.
Sejumlah negara perlahan sudah bergeser dalam menerjemahkan peran kepemimpinan perempuan. Keterwakilan perempuan pada sektor pertahanan dan keamanan khususnya militer sudah membaik. Misalnya ada negara yang merestui perempuan menjadi menteri pertahanan. Kesetaraan gender mulai menjadi perhatian dan menjadi kajian menarik untuk didiskusikan.
Nama Sheikh Hasina yang merupakan Perdana Menteri Bangladesh (1996-2001) , lalu tahun 2009 mendapat kesempatan menjabat posisi yang sama. Di negaranya posisi pejabat dengan tugas dan fungsi pertahanan atau menteri pertahanan dipegang oleh perdana menteri. Ada Mariya Ahmed Didi yang menjadi Menteri Pertahanan Maladewa dari tahun 2018.Pertama dalam sejarah berdirinya negara tersebut menhan perempuan pertama. Bergeser ke Swiss, Viola Amherd sejak 2019 menjadi Menteri Pertahanan, Perlindungan Sipil dan Olahraga. Austria, memilik Menteri Pertahanan bernama Klaudia Tanner yang telah menjabat sejak tahun 2020. Media internasional yaitu Reuters menyebutkan Tanner berhasil menggerakkan komponen cadangan (pasukan cadangan) membantu penanganan COVID-19 di negaranya.
Jerman memiliki Menteri Pertahanan perempuan bernama Christine Lambrecht (sejak 2021). Jabatan Menhan di Belanda juga diamanahkan kepada perempuan. Kajsa Ollongren yang pernah menjadi Deputi Walikota Amsterdam sah menjadi Menteri Pertahanan dari Januari 2022. Ada nama lain yang juga mengisi catatan sejarah di sejumlah negara-negara lain.
Sepak terjang, kiprah, bahkan semangat perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Indonesia diantaranya punya juga sosok perempuan hebat seperti Menteri Luar Negeri era Jokowi, yaitu Retno Marsudi. Secara perlahan meski harus terus didengungkan bahwa kiprah perempuan di berbagai bidang khususnya di bidang pertahanan dan keamanan semakin membaik.
Namun data dari SHEcurity tahun 2021, persentase kepemimpinan perempuan sebagai Menhan masih hanya sekitar 18,6 %. Selain itu keterwakilan perempuan di sektor tersebut rendah yaitu hanya 11,4 %. Prediksi terwujudnya keseimbangan gender akan terwujud sekitar 155 tahun kedepan. Kesan perempuan belum mampu hadir dan bertahan pada tugas-tugas fisik di pertahanan dan keamanan sepertinya masih sering muncul.
Pemerintah dalam hal ini Tentara Nasional Indonesia memiliki pasukan wanita yang disebut Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) , Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) dan Wanita Angkatan Udara (WARA). Peran wanita terlihat jelas dari nama-nama tersebut. Bahkan dalam jurnal “ Peran Korps Wanita TNI sebagai Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB dalam Humanitarian Assistance di Lebanon” (2019 ) menggambarkan peran besar para pasukan wanita TNI dari 3 matra tersebut.
Indonesia dan Kanada pada tahun 2024, tepatnya bulan Desember menggelar simposium “ Kepemimpinan yang Responsif Gender” di Jakarta. Kegiatan ini kerjasama antara Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI dengan Program Pelatihan dan Kerja Sama Militer Kanada (MTCP). Hal tersebut menandai berakhirnya kursus Integrasi Perspektif Perempuan dan Gender dalam Angkatan Bersenjata (IWGPAF) yang diikuti oleh delegasi dari berbagai negara baik Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Kegiatan ini tentu menjadi harapan bersama berkaitan kesetaraan gender serta mendorong terciptanya iklim positif terhadap peran perempan di angkatan bersenjata yang tentu bagian integral dari operasi militer.
Semangat Perempuan
Tantangan dan rintangan harus dimaknai sebagai hal-hal yang mendorong perempuan semakin yakin dan percaya diri untuk tidak menyerah berkontribusi pada bidang ini. Negara seperti Amerika, sepertinya terus berbenah dalam memberi kesempatan perempuan mengambil peran pada unit unit khusus militer.mulai tahun 2016, perempuan mulai diberi ruang untuk berperan lebih luas baik itu memimpin prajurit, mengemudikan kendaraan militer seperti tank, hingga bertugas pada unit khusus yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki, seperti Navy SEAL dan Army Rangers.
Tidak salah jika ada pendapat tolak ukur negara berhasil atau gagal adalah berkaitan dengan cara pemerintah memberi peluang dan memperlakuan perempuan termasuk di bidang pertahanan dan keamanan. Laki-laki dan perempuan pada bidang ini harus menjadi contoh dalam hal kerjasama dan membangun perubahan.Memaknai peran perempuan jangan hanya dianggap berkutat dengan sumur, dapur dan kasur tapi perempuan menjadi inovator di pasukan dan mampu menjadi pemimpin tempur dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Iqbal Suliansyah
(Koordinator Maarif Network)
Maarif Network lahir sebagai wadah anak ideologis Buya Ahmad Syafii Maarif yang pernah mengikuti berbagai program Maarif Institute (Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK), Jambore Pelajar Teladan Bangsa (JPTB), Maarif Fellowship dan Maarif Award)
