f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
'aisyiyah digital perempuan

‘Aisyiyah, Perempuan, dan Kecakapan Digital

Digitalisasi mengalami tantangan dalam peradaban manusia. Hal ini terlihat melalui maraknya penyebaran berita bohong, penyebaran konten kekerasan, pornografi, seksisme hingga pengetahuan yang rendah mengenai ruang publik sehingga terjadi kebisingan ruang digital yang seharusnya aman dan nyaman untuk diakses semua kalangan, namun ternyata penuh kemarahan dan kekerasan. Lebih lanjut digitalisasi memiliki tantangan di Indonesia khususnya karena adanya beberapa hal seperti masih lambatnya kemajuan infrastruktur teknologi di Indonesia dan tingkat literasi digital yang masih rendah, terutama di kalangan lansia dan masyarakat pedesaan. Kurangnya pemahaman tentang teknologi dan cara menggunakannya dengan efektif dapat menghambat adopsi digitalisasi ini.

Kewargaan dalam Dunia Digital

Hal lain adalah mengenai kesadaran dan perkembangan pengetahuan mengenai ruang digital. Bahwa ruang digital memerlukan berbagai kecakapan dalam mengakses dan menyadari bahwa adanya status kewargaan yang baru, yaitu kewargaan digital (digital citizenship). Digital Citizenship adalah bagian penting dalam praktik literasi digital. Lalu apa pengertian dari digital citizenship atau dalam bahasa Indonesia berarti Kewargaan Digital? Kewargaan Digital adalah kemampuan untuk menavigasi lingkungan digital kita dengan cara yang aman dan bertanggung jawab serta untuk terlibat secara aktif.

Kewargaan digital juga dengan menyadari bahwa di ruang digital ini penuh dengan keberagaman, perbedaan kepentingan, yang melibatkan berbagai kalangan usia, pendidikan, gender. Sehingga sangat penting bagi semua pengguna ruang digital untuk merawat ruang ini. Kewargaan digital juga memahami bahwa ruang digital memiliki berbagai resiko seperti kebocoran data, pentingnya menjaga privasi termasuk menjaga tulisan dan postingan kita di sosial media karena ruang digital dapat menghasilkan jejak digital yang dapat memicu sensitivitas.

Diskusi yang dilakukan oleh LPPA PP ‘Aisyiyah dengan tema ‘Aisyiyah Update #3 “Jarimu adalah Surgamu: “Literasi Digital dalam Kerangka Kewargaan Digital (Digital Citizenship)” pada Jumat, 5 Mei 2023 lalu ikut mendiskusikan relasi antara Kewargaan Digital, Literasi Digital, dan Moderasi Beragama di Sosial Media. Dalam diskusi ini LPPA PP ‘Aisyiyah menyebarkan survei yang dapat diisi secara online oleh peserta diskusi yang didominasi oleh pengurus wilayah ‘Aisyiyah. Terjaring tujuh puluh enam jumlah responden yang mengisi berbagai pertanyaan, di antaranya;

Baca Juga  Healing Gen Z

Para responden mengaku aktif menggunakan sosial media. Dengan dominasi penggunaan WhatsApp, Facebook dan Instagram dalam interaksi mereka, seperti yang tergambar dalam diagram batang berikut ini:

'aisyiyah survei
Keaktifan Media Sosial

Berikutnya para responden mengaku mendapatkan informasi utama terkait dengan perkembangan sosial dan politik lebih didominasi melalui media online. Seperti yang terlihat dalam diagram batang berikut ini:

'aisyiyah survei
Sumber Informasi

Sangat melegakan hasil jawaban responden atas pertanyaan “tidak masalah membagikan informasi pribadi seperti no handphone, NIK atau data pribadi lainnya”. Dengan mayoritas menjawab 51,3% sangat tidka setuju dan 40,8% menjawab tidak setuju. Seperti yang tergambar dalam diagram pie berikut ini:

'aisyiyah survei

Meskipun kita hidup dan berinteraksi di dunia digital dengan cara yang mirip dengan dunia offline. Namun ternyata sebagian responden sangat memperhatikan tindakan mereka saat online. Kenyataanya, literasi digital akan sangat berkaitan dengan bagaimana individu dapat mengontrol perilaku berbagi hal-hal yang pribadi di sosial media. Kemampuan menjaga identitas pribadi seperti nomor induk kependudukan (NIK), no handphone, bahkan tanggal lahir penting untuk selalu dipahami dalam ruang-ruang digital yang rentan dan rawan.

Kecakapan digital memiliki makna bahwa, kemahiran digital dapat melibatkan beberapa aspek teknologi yang berbeda. Termasuk memiliki pemahaman tentang sistem operasi pada komputer, mampu bekerja secara kolaboratif menggunakan perangkat digital, dan memiliki kemampuan memilih perangkat lunak terbaik untuk mengakses informasi, serta menjaga data privasi kita. Kemahiran ini juga berelasi langsung dalam memahami apakah dunia digital seperti sosial media adalah ranah publik atau tidak? Jawaban sebagian besar mayoritas responden adalah sagat setuju 50% dan setuju sebanyak 48%.

'aisyiyah survei

Sosial media adalah ranah publik, untuk itulah sangat penting menjaga data privasi. Setidaknya gambaran hasil survei sederhana ini dapat mencerminkan perilaku sebagian peserta webinar. Bahwa pemahaman mengenai literasi dan kesadaran atas kewargaan digital sangat penting. Hal ini sesuai dengan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 mengenai Isu keummatan, yaitu membangun kesalehan digital. Meskipun demikian perlu terus menerus melakukan promosi, dakwah dan pembinaan umat secara terus menerus berkaitan dengan edukasi literasi digital.

Baca Juga  Zahra, Gambaran Ketidaksetaraan Gender di Indonesia

LPPPA sebagai Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah, akan terus berupaya melakukan penelitian dan diseminasi hasil kajian dan edukasi kepada warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, mengingat tantangan digitalisasi yang sangat beragam dan kompleks di masa depan.

Bagikan
Comments
  • Terima kasih ibu Firly Anissa. Tulisan ibu sangat inspiratif dan obyektif karena berdasarkan data dan fakta.

    Agustus 4, 2023
Post a Comment