f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Belva dan Sabrina

Pernikahan Belva dan Sabrina; Antara Atribusi atau True Self?

Belva dan Sabrina menikah kemarin pagi (6/3). Eh, eh, memangnya siapa Belva dan Sabrina? Hmm, kalau rakyat Instagram dan Rahmania sih tidak perlu dikasih tahu. . Tapi bagi rakyat Facebook, Belva dan Sabrina ini kayaknya tidak familiar ya.

Belva itu founder Ruangguru dan Sabrina adalah pasangannya. Sejak Belva dan Sabrina memutuskan untuk go public, Ruangguru berubah jadi Ruangbucin. Bahkan Rahmania bisa juga baca tulisan saya sebelumnya Lamaran Belva dan Sabrina : Refleksi Relationship Goals Pasangan Muda

Bagi para remaja masa kini, Belva dan Sabrina sama-sama dianggap sebagai role model. Karena mereka bersatu, maka hubungan keduanya dianggap sebagai couple goals.

Tapi itu bagi para remaja ya, tidak demikian bagi ibu-ibu muda follower Instagramku. Apa mau saya tag namanya satu persatu di sini? Kebetulan mereka juga para aktivis Facebook dan Rahmania juga.

Sudah lah, tidak perlu terlalu menanggapi komentar para veteran pernikahan itu. Mereka memang cenderung julid sama pasangan-pasangan muda yang sedang berbunga-bunga. Tapi kalau yang berbunga-bunga itu pasangan senior macam Mbak Fenny dan Mas Junjung, mereka malah suka. Atau, makin suka lagi kalau nonton kisah cinta tanpa harapan macam kisah cintanya mbokne Anin.

Tapi mari kita kembali ke persoalan Belva dan Sabrina.

Atribusi dan Ketertarikan

Dua hari lalu, Belva nanya ke followernya tentang tips sebelum pernikahan. Namanya netizen, kan, jawabannya suka sekenanya aja. Seperti jawaban berikut; “Jangan tergoda wanita lain,” katanya. Dan, Belva menjawab “Insya Allah, nggak. Udah ada Sabrina, mau yang bagaimana lagi coba?” Lalu, disahut pula oleh Mufliha, “Tergoda sama wanita lain ya nggak sekarang, Kaka Belva. Nanti kalo udah beberapa taun gitu..”

Baca Juga  Azas Satu Menit untuk Pernikahan

Jahat ya Mufliha itu? Semoga Belva dan Sabrina nggak baca, nanti bisa merusak kebahagiaan mereka.

Tapi bagi Mufliha, jawaban Belva itu memang sangat menarik untuk dikomentari. Terlepas dari apapun yang mendasari Belva menjawab demikian, Mufliha berpikir bahwa ketertarikan Belva terhadap Sabrina berkaitan erat dengan atribusi sosial yang Sabrina miliki. Sabrina cantik, pernah menjadi mahasiswa berprestasi UGM, sekarang kuliah di MIT, membuat dirinya betul-betul sekufu dengan Belva yang memiliki profile mirip-mirip. Tidak banyak perempuan dengan profil setinggi itu. Jadi, benar yang dikatakan Belva, mau cari yang bagaimana lagi??

Namun, atribusi sosial yang kita atau pasangan kita miliki biasanya tidak menjamin kepuasan pernikahan yang dijalani. Atribusi sosial sesungguhnya tidak menolong apapun dalam menjalani kehidupan pernikahan yang seringkali penuh onak dan duri itu. Mau kamu founder start up, sekolah di MIT atau Harvard, bahkan anak presiden sekalipun, atribusi-atribusi semacam itu tidak ada kaitannya dengan keterampilanmu dalam mengelola pernikahan.

Tapi permasalahannya banyak anak muda adalah memilih pasangan berdasarkan atribusi. Sering banget kan kita menemukannya di Twitter kalo ada seorang lajang menginginkan lajang lain dengan pendapatan minimal 250 juta, kudu ganteng, dan endebre endebre. Hmm memang atribusi ini paling mudah dipakai untuk memikat, sehingga kita lupa yang paling penting untuk memutuskan memilih pasangan itu adalah mengenal true self-nya.

True Self

True self itu maksudnya seperti ini lho… Atribusi Mufliha itu kan psikolog dan persepsi terhadap psikolog itu biasanya baik, lembut, sabar, dan ngademin. Tapi, apakah true self Mufliha itu begitu? O, tentu tidak. Jadi, kalau misalnya ada yang naksir Mufliha karena dia psikolog dan saking naksirnya sampai mau kawin, ya siap-siap aja kecewa karena ternyata Mufliha itu sinis, mulutnya tajam, dan suka mengejek orang tanpa ampun!

Baca Juga  Mengawal Keterwakilan Perempuan sebagai Penyelenggara Pemilu 2024

Sejalan dengan itu, suatu kali Mufliha pernah dengar Bu Ani, dosen Psikologi Konseling Keluarga dan Perkawinan kesayangan mahasiswa/i Psikologi UGM semua, berkata begini, “Mencari pasangan itu jangan dilihat atribusi-atribusi yang melekat di dirinya, tapi lihat siapa dirinya yang sebenarnya tanpa atribusi-atribusi yang melekat itu.”

Namun sayang sekali, Mufliha mendengarnya setelah menikah dengan Pak Luqman yang sengaja ia nikahi atas dasar atribusi. Kalian kira, ngapain Mufliha yang anak Psikologi malah ngekos di Pogung Kidul? Bukan di Klebengan atau Karangmalang? Tentu dengan maksud khusus untuk mendapatkan pacar anak Teknik.

Karena Mufliha meyakini bahwa atribusi sosial itu nggak berkaitan dengan kepuasan pernikahan, maka Mufliha juga meyakini bahwa atribusi sosial juga tidak akan jadi penghalang perselingkuhan.

Sesaat setelah kita menyadari bahwa atribusi pasangan ternyata bukan hal yang penting dalam pernikahan, saat itulah ada banyak celah dan peluang untuk tergoda pada pihak-pihak yang lainnya. Eeaaa. Pait bener yak kenyataan pernikahan ini, Pak dan Bu?

Makanya, tergoda sama wanita lain itu tidak dua hari sebelum pernikahan, Mas Belva. Mungkin terjadi kurang/lebih dua puluh tahun lagi. Jatuh cinta pada sosok yang kita kagumi itu hal yang alami. Tapi tetap mencintai orang yang kita nikahi dan sudah kita ketahui true self-nya adalah perjuangan tersendiri.

Anyway, komentar di atas hanya opini ya. Aku bahkan bisa salah tentang diri sendiri, apalagi tentang Belva dan Sabrina yang tidak aku kenali. Dan, tetap selamat menikah ya, Mas Bel dan Mbak Sab.

#MarriageStory #Refleksi

Bagikan
Post a Comment