f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan belajar

Surat Cinta untuk Perempuan yang Belajar

Wahai Perempuan yang belajar, …

Kurasa darimu ilmu-wan dan ilmu-wati terlahir. Maka tak perlu sungkan untuk acung tangan. Jangan takut salah dan bernaung di bawah arogansi laki-laki yang belum tentu membawa kebenaran pun kebaikan.

Jangan kau sandarkan harapan serta keberdayaanmu padanya. Sungguh, jika saja kau tahu bahwa seringkali lelaki tak jauh lebih baik dari perempuan.

Apa yang ada di dalam kepalanya jauh berbeda dari apa yang terucap oleh lisannya.

Tak perlu ragu untuk menginterupsi, jangan tanggung-tanggung bila memang kau perlu menegur. Sebagaimana mereka yang selalu menempatkanmu di posisi kedua tepat di bawahnya.

Jangan pernah merasa kecil di balik besarnya ego mereka.

Kau dan aku adalah manusia yang menyejarah dalam sebuah buku di halaman yang berbeda.

Kata mereka tentangmu,…

Kau takkan pernah mau disama-samakan tapi selalu ingin disetarakan. Begitulah merka bercerita tentangmu. Jika kau bertanya padaku apakah itu benar? Kurasa tak perlu kujawab. Karena kita semua pasti merasakan demikian.

Jutek, cerewet, ngambekan, moody, baperan, matre dan semua hal yang dijadikan gelar ke-perempuan-an mu aku tak setuju. Bahkan sekalipun orang mengatakan bahwa dirimu selalu benar aku juga tidak setuju.

Sejauh yang kudapati, perempuan yang belajar juga tak ingin dianggap demikian. Sama saja halnya mereka para laki-laki yang ‘juga’ belajar.

Tak selamanya yang baperan itu perempuan, dan tak selamanya yang berperan itu laki-laki.

Untukmu Perempuan yang belajar,…

Bagiku, mengintip kegigihanmu seraya mengutip keluhmu selalu menjadi hal yang menyenangkan.

Tak perlu kau hargai itu, karena itulah yg tak sedikitpun aku suka. Apalagi menanggapku sebagai guru, senior, suhu, dan lain-lain yang memberi jarak antara kau dan aku.

Baca Juga  Mari Kita Pikirkan Kembali

Jauh lebih dalam, jangan pernah percaya pada ucapan para pengecap. Jauhkan kata-kata mereka dari api emosimu.

Aku laki-laki dan kau perempuan, tak perlu kau beda-bedakan. Cukup Tuhan yang memberi kita batasan.

Biarkan kau dan aku terpisah d ibalik pembatas ini, biarkan kesahmu menjadi kisah yang tercatat dalam hidupku.

‘Kerja kelompok’ menjadi titik temu terbaik di manapun dan kapanpun itu…

Karena kita bertemu bukan untuk menerka dan mengira apa yang ada dalam perasaan melainkan apa yang kau dan aku pikirkan dalam sebuah pertemuan.

Kerut keningmu, geram nada suaramu, dan senyum yang terlukis di wajahmu menjadi pemicu semangatku .

Tak perlu kau merasakan apa yang kurasakan, begitu pula sebaliknya. Apalagi mencoba menjadi yang aku mau, atau sebaliknya. Yang akhirnya membuat semua tawa dan duka menjadi palsu.

Karena yang kutahu kau adalah Perempuan yang belajar.

Teruntuk Perempuan yang belajar, …

Masalah perasaanku bukan menjadi tanggung jawabmu, juga perasaanmu tidak kujadikan pertimbanganku. Jadikan aku objek pembelajaranmu sekaligus subjek di setiap penelitianmu.

Yang kita ‘pelajari’ adalah isi pikiran bukan isi perasaan. Karena kau dan aku tahu bahwa suatu perasaan memang amat sulit untuk diungkapkan.

Maka jangan pernah merasa ‘dimiliki’ oleh orang lain selain orang tuamu dan Tuhan. Begitu pula pada orang lain, tak perlu kau merasa ‘memiliki’-nya yang kadang membuatmu over-rated, terlalu berlebihan ber-ekspektasi. Dan tak jarang hal itu berujung pada kekecewaan.

Namun juga tak perlu kau terlalu bersikap skeptis sehingga tak mau menerima kehadiranku. Seakan-akan semua yang disampaikan olehku salah.

Apa yang kukatakan ini bukan berarti hanya untukmu, tapi untuk kita.

Ketahuilah dirimu dengan baik, jangan berlebih-lebihan.

Baca Juga  Aku Masih Mencarimu

Jangan menggantungkan harapan pada orang lain apalagi pada lelaki sepertiku, cukup kau beri kepercayaan untuk selalu bersama dalam belajar

Terakhir;

Camkan semua itu…

Sehingga jika nanti kita ditakdirkan untuk berpisah. Tak ada kasih yang menggantung, tak ada kisah yang membuat kau dan aku termenung.

Layaknya sekolah, perpisahan bukan menjadi masalah. Dan reuni menjadi hal yang dinantikan.

Dariku, Seorang laki-laki yang belajar.~

Bagikan
Post a Comment