f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tebu

Maafkan, Ayahmu Tak Semanis Tebu

“Ayah, tebu itu apa, Ayah?”

Pertanyaan spontan seorang anak di dalam mobil, saat sekelebat membaca tulisan “Jual Es Tebu” di pinggir jalan. Saya kaget sekaligus heran. Apakah benar anak kelas 5 SD, sama sekali tidak kenal tebu?

Faktanya dia, anak perempuan saya itu, sama sekali tidak sedang becanda. Serasa ingin menepuk jidat sendiri. Ternyata, wujud tebu saja dia tidak bisa membayangkan.

Padahal tebu bukanlah babi ngepet yang saya sendiri tak pernah menjumpai. Untuk melihat ladang tebu, cukup keluar dari rumah tiga sampai empat kilometer saja. Sering pula, kami melewatinya. Bagaimana bisa dia begitu awam, dan tak sadar ada tebu dalam donat kesukaan yang tengah ia kunyah?

“Coba googling pakai kata kunci tebu, Nduk”, spontan saat itu saya memberi tugas.

Sebagai ayah yang baik, saya merasa bersalah. Tapi, salahnya di mana? Saya melacak kesalahan saya dengan berbagi kisah ini kepada teman-teman dekat.

“Mbok dijak piknik, ke ladang tebu. Ayahnya anak petani, kok anaknya nggak tahu tebu. Lha wong di sekitar banyak ladang tebu, kok”, respon teman saya.

*

Sebetulnya saat anak saya bertanya, rasanya ingin saya memberikan kuliah secara sporadis. Kemudian bercerita, bahwa selain menjadi gula, tebu itu, akan banyak wujudnya. Molase tetes tebu, ampas dan blotong. Oh, ya blotong bisa menyuburkan bumi. Lalu ampasnya menjadi media jamur, jadi furfural, menjadi bahan partical board bahkan menjadi energi listrik.

Lalu ingin saya bercerita, di daerah tempat kami tinggal, di Tegal pernah berdiri banyak pabrik gula. Jangan heran kalau bertamu lalu disuguhi minuman tawar, sang tamu  berseloroh, “Pabrik gula sudah tutup ya?”.

Semiskin-miskinnya, jangan suguhi minuman tanpa gula. Terdapat ajaran “sosiologi gula”, artinya ketika tuan ruma menyediakan gula batu, yang bisa dituang berkali-kali. Maknanya, tuan rumah menginginkan kamu berlama-lama.

Baca Juga  Kartini dan Korona
*

Ingin saya tunjukkan bekas-bekas rel lori. Bekas jalur angkutan tebu zaman Belanda yang masih banyak teronggok. Rel tersebut bersaksi sejak sejarah kolonial, tebu yang tidak selalu terasa manis buat rakyat.

Di bawah koloni Belanda, Hindia Belanda menjadi pengekspor gula terbesar setelah Kuba, pada tahun 1920-an. Pencapaian dengan menguras habis ekonomi dan memperdaya pribumi. Sementara pangreh Raja, lebih Belanda dibandingkan Belanda. Sejarah tebu tak selalu manis bagi rakyat, petani dan kuli.

Saya juga ingin menunjukkan buku One Soul One Struggle karya Anton E Lucas. Tahun 1930-an ada hampir 17 pabrik gula di wilayah karesidenan Pekalongan. Di Tegal ada pabrik gula Pangkah, Balapulang juga Pagongan. Rakyat dimiskinkan, kuli ladang tebu bekerja dengan upah kecil, petani dipaksa menyewakan sawah untuk ditanami tebu dengan biaya rendah oleh kapitalis Belanda dan elit birokrat kolonial. Itulah salah satu latar sosial munculnya Peristiwa Tiga Daerah. Kisah revolusi sosial tingkat lokal.

*

Setengah protes saya berkata, “Apa tak ada satupun gurunya yang sempat berkisah tentang ini semua?”.

Buru-buru disanggah teman, “Lho, kenapa kamu sendiri luput bercerita kepada anak sendiri?”

Pertanyaan kritis, pelan-pelan memberi terang. Saya memang melewatkan banyak hal. Kemana saja saya selama ini? Pertanyaan singkat anak saya, membawa pengakuan dosa.

Saya masih gagap menjadi orang tua. Saya sering lupa, anak adalah tanaman yang tumbuh dan berkembang di tanah yang subur. Sayangnya, saya belum menjadi tanah yang baik. Banyak gulma dan tanaman liar yang mengganggu. Saya tidak cukup rajin memberi pupuk. Sering alpa menyiraminya dengan air.

Saya jauh dari nasihat filosofis Sayling Wen, penulis Future of Education. Ketimbang menjadi atap, jadilah tanah yang baik. Jangan menjadi atap yang orientasinya biar anak tidak kepanasan, tak kehujanan, tidak terkena gangguan.

Baca Juga  Gajahwong, “Oh Anak Berkarakter”

Tetapi bagaimanapun, ada satu hal terselip rasa syukur. Semangat dan ingin tahu yang besar. Kegemaran dan antusiasme untuk belajar sesuatu.

*

Seperti halnya keingintahuan Johannes Kepler, pelopor astronomi modern, penemu Tiga Hukum gerakan Planet. Tiga hukum yang mendefinisikan dasar-dasar gerakan planet: bentuk orbit planet yang mengitari matahari, kecepatan gerakan planet, dan hubungan antara jarak sebuah planet dari matahari dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu putaran.

Ketika orang-orang di sekitarnya kagum dengan ketekunan, kedispilinan, kesabaran dan rasa ingin tahunya yang luar biasa bertahun-tahun. Ia hanya menjawab justru dengan pertanyaan balik, “Apakah burung itu berkicau demi upah?”

Saat anak saya bertanya, tentang tebu itu apa, saya yakin ia sekadar ingin tahu. Bukan tugas sekolah. Tidak sedang mencari nilai. Tak juga mengejar ranking. Tidak sedang cemas naik kelas atau berpikir tentang ujian nasional.

Saat anak banyak bertanya adalah saat daya kritisnya tengah tumbuh. Adalah saat kita sedang diuji, orang tua macam apakah kita? Di tengah pusaran zaman yang terkoneksi dengan google, tiktok, youtube dan whatsapp, ternyata saya tergolong orang tua yang gagap.

Dengan dunia jauh saya mungkin terkoneksi  Tetapi tidak dengan dunia di dekat dan sekelilingnya. Saya dan puteri saya tak sepenuhnya terhubung, meskipun sedang duduk bersisian. Saya adalah orang tua dengan harapan yang kelewat jauh. Sementara yang nyata di depan dan sekeliling terlewatkan, terabaikan dan kerap tak diindahkan.

“Ayah, minta dong donatnya?”.

“Nggak boleh, Ayah dapat tengahnya saja”.

*

Persis, barangkali sebagai orang tua dalam mendidik dan membantu nalar kritis anak, peran saya nyaris seperti bagian tengah dari donat yang tengah dikunyah anak saya.

Baca Juga  Self Love dari Filosofi Burung Elang

Sebabnya, jujur saja. Sebetulnya pertanyaan “tebu itu apa”, bukan satu-satunya pertanyaan dari anak saya, yang membuat saya cemas dan bersalah. Tetapi kisah sebuah pertanyaan itu sudah cukup menyimpulkan, saya orang tua macam apa.

“Maafkan, Nduk. Ayahmu memang banyak melewati jenjang sekolah. Ayah memang menyekolahkanmu, tetapi cara mendidikmu, tak semanis tebu. Ayahmu masih harus belajar menjadi ayah. Dan kamu janganlah berhenti untuk banyak bertanya”

Lewat banyak pertanyaan dari anak-anaknya, orang tua seringkali bukan saja harus menjawab dengan tepat dan sebaik-baiknya. Lebih dari itu, menjadi bertanya-tanya, kita ini orang tua macam apa.

Bagikan
Comments
  • Tajudin

    Masha Allah mung takon tebu tock be bisa nglalar nglalar nuliseeee 😀😀😀😀😀 sukses terus brooo

    Mei 4, 2021
Post a Comment