f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Tuhan

Menuntun Tuhan

Indonesia adalah negara pemilik kaum muda terbanyak di dunia. Jadi jangan heran jika melihat banyak pasangan muda, yang bahkan baru berumur 12 tahun sudah memiliki seorang kekasih, teman dekat, dan sejenisnya. Termasuk juga Rahmania.

Apakah kalian memiliki seorang kekasih? Atau, apakah kalian memiliki seseorang yang spesial? Siapapun pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Walau tidak berakhir dengan memiliki, tapi setidaknya pernah bahagia meski hanya menyukainya. Dan itu rasanya seperti berjalan di tengah-tengah taman bunga, senang dan bahagia.

Apapun akan kita lakukan demi sang kekasih, bukan? Ketika dia ngambek, alam sadar kita menyuruh untuk membelikan terang bulan beserta boba kesukaannya. Dan entah mengapa, hal itu selalu ampuh.

Atau kita akan mengunjungi rumahnya, menembus hujan deras di bawah guntur yang menggelegar; lalu berkata bahwa kita ada di depan rumahnya sambil memohon agar dia tidak lagi ngambek. Apapun itu, asal dia mau memaafkan kita.

Apa lagi bagi pasangan kamu yang memang sangat menyukai keromantisan. Manja dan cengeng. Lalu apa yang bisa pasangan kamu lakukan selain menangis, jika kekasihnya menghilang tak ada kabar? Berpikir negatif secara berlebihan, ketika mengetahui sang kekasih menyukai foto mantannya?

Semua Sudah Digariskan Tuhan

Tapi pernakah kalian berpikir, bahwa sejak masih dalam kandungan, segalanya sudah ditentukan oleh Tuhan? Termasuk seseorang yang kelak akan bersama kita. Semua manusia hanya ingin menikah dengan dia yang kini menjadi kekasihnya. Siapa yang tidak ingin menikah dengan seseorang yang sudah bersama kita bertahun-tahun?

Setiap malam berdoa, memohon agar Tuhan menjodohkan kita dengan si dia. Sambil menitikkan air mata, kita mengadu, seakan kita paling tahu. “Ya Allah, jodohkan aku dengan si fulan. Aku menyayangingnya, dan dia menyayangiku” seperti itu kira-kira.

Baca Juga  Pendidikan Toleransi Anak Perempuan dan Laki-Laki dalam Keluarga

Tanpa kita sadari, bahwa kita telah menuntun Tuhan. Kita berkata seakan si A adalah yang terbaik, si B yang paling mengerti. Mungkin iya, siapa yang bersama kita saat ini adalah yang terbaik, tapi itu menurut kita.

Bagaimana jika Tuhan ternyata sudah menyediakan seseorang yang jauh lebih baik dari dia? Lalu pada akhirnya Tuhan memberi rasa kecewa kepada kita. Ternyata dia yang kita anggap terbaik, justru adalah yang terburuk. Terkadang Tuhan menyelamatkan hambanya dengan cara mematahkan hatinya.

Apakah salah jika menyukai seseorang?

Jelas tidak. Apakah salah jika mengharapkan seseorang agar bisa bersama dengan kita sampai tua nanti? Tidak! Tidak pernah ada yang salah dengan sebuah perasaan. Yang salah adalah cara kita memohon kepadaNya.

Kita berdoa, tapi terdengar seakan sedang mendikte Tuhan. Kita seringkali melihat sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun, lalu memutuskan untuk menikah, tetapi tidak lama mereka malah berpisah. Ternyata, menikah dengan kekasih yang saat ini bersama kita, tidak seratus persen menjamin akan bahagia selamanya.

Bagaimanapun juga, Tuhanlah yang tau siapa dan apa yang terbaik untuk hambanya. Kita seringkali berdoa jika memang dia bukan yang terbaik, maka jauhkan. Lalu Tuhan mengabulkannya, tapi kita malah menyalahkan-Nya.

Kalau begitu, apa sebaiknya kita putus saja? Ada pepatah yang mengatakan “Jodoh itu bukan dicari, tapi dibentuk”. Jika kamu yakin dengan dia yang saat ini bersamamu, maka bentuklah dia. Bentuklah kita. Menjadi dua insan yang “layak” mendapat restu dariNya.

Pernah dengar, kalau Tuhan tidak menyukai sesuatu yang berlebihan? Menyukai seseorang sampai mengorbankan segalanya adalah sesuatu yang berlebihan. Jadi jangan terkejut, jika pada akhirnya Tuhan menjauhkanmu dari dia.

Baca Juga  Masakan Lebaran Nenek adalah Karya Abadi bagi Anak dan Cucunya
Lalu, perasaan yang seperti apa yang disukai Tuhan?

Perasaan yang melibatkan diriNya. Kamu yakin kalau memang akan berjodoh dengannya, sejauh apapun dia pergi, Tuhan akan mengembalikannya padamu. Apakah kamu yakin jika suatu saat dia menyakitimu, maka Tuhan sudah menunjukkan bahwa dia bukan yang terbaik untukmu. Kamu boleh jatuh cinta, tapi jangan sampai jatuh karena cinta.

Fatimah juga pernah jatuh cinta. Namun berbeda dengan Asiyah, yang mengutarakan perasaannya langsung kepada Rasulullah, Fatimah memilih untuk memendamnya. Fatimah menyukai Ali Bin Abi Thalib selama bertahun-tahun. Mereka tidak saling mengumbar perasaannya. Mereka sama-

sama menyimpannya dalam doa, dan saling memantaskan diri. Fatimah tidak berlebihan dalam menyukai Ali, bahkan ketika Fatimah cemburu kepadanya.

Apa Allah melarang mereka untuk saling mencinta? Tidak. Dengan berdoa kepadaNya, Fatimah tidak perlu takut kehilangan Ali. Fatimah hanya menitipkan perasaannya kepada Allah, dan sibuk memantaskan diri. Atas izin Allah, mereka akhirnya bersama, sampai ajal memisahkan.

Berbeda dengan kita yang hidup di jaman sekarang. Sepertinya sudah minim sekali yang memilih utnuk mencintai dalam diam. Tapi bagaimanapun juga, jika memang dia yang kita inginkan, kita butuhkan, maka kita harus mempantaskan diri untuk bisa bersamanya. Karena jodoh memang bukan dicari, tetapi dibentuk.

Bagikan
Post a Comment