Kesederhanaan, Jalan Menuju Kebahagiaan
“Nenek… jadi belanja online nggak? Kalau nenek mau beli-beli, nih semua ada di sini.” Ujar keponakanku memberitahu neneknya, sambil memperlihatkan gambar berbagai macam produk yang ditawarkan oleh sebuah situs belanja online terkenal, melalui layar handphone-nya.
Subhanallah… Akupun takjub dan terheran-heran mendengar seorang bocah yang belum lagi genap 6 tahun usianya, tapi sudah sangat mahfum tentang belanja online. Terlihat jari jemarinya begitu lincah memainkan fitur-fitur dalam smartphone-nya.
Begitulah dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya. Di satu sisi, teknologi canggih sangat membantu kehidupan umat manusia; namun di sisi lain, juga berdampak terhadap perubahan cara pandang manusia terhadap kehidupannya. Dari kehidupan yang sangat sederhana dan terbatas, menuju kehidupan yang hedonis, dengan menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidupnya.
Bagi mereka yang tak mampu memenuhi gaya hidup yang serba “wah” tersebut, tentu akan mengalami tekanan hidup yang berat, selalu cemas, sering tak tenang, dan stres. Bahkan mungkin akan mengalami depresi lalu putus asa dan bunuh diri. Naudzubillah min dzalik.
***
Sesekali aku isengbertanya pada teman-temanku, seperti apa ya rasanya jika keadaan zaman ini dikembalikan seperti zaman kecil kalian dulu. “Waduhhh… mana sanggup aku jauh dari gadget ini, mana mungkin hidup tak bermedsos, jadi kuper dong say”. Begitulah jawaban salah satu dari mereka, sebagai tanda tak setuju atas apa yang kupertanyakan.
Melihat fenomena demikian, membuatku merenung dan kembali mengingat masa kecilku dulu; masa di mana kehidupan belum banyak bersentuhan dengan teknologi canggih. Kala itu, informasi ter-update hanya bisa diperoleh dari siaran berita RRI melalui radio. Lalu menyusul munculnya televisi hitam putih yang menyiarkan berita dan hiburan dari TVRI. Alat komunikasi lainnya berupa surat pos dan telegram atau juga disebut surat kawat. Saat itu sudah terbit pula koran Kompas dan majalah anak-anak Bobo, yang menjadi langganan keluarga kami.
Sebagai media untuk menjalin pertemanan, aku memanfaatkan surat menyurat melalui jasa PT. Pos Indonesia. Saat itu sedang marak-maraknya anak usia sekolah sepertiku memiliki sahabat pena dari berbagai penjuru tanah air. Kegiatan surat menyurat dengan sahabat pena bermula dari gagasan Majalah Remaja Sahabat Pena yang diterbitkan oleh PT. Pos Indonesia. Tujuan terbitnya majalah tersebut adalah untuk mengembangkan kegiatan filateli dan korespondensi masyarakat.
Mendapat surat atau balasan surat dari sahabat pena merupakan hiburan yang sangat menyenangkan bagi anak-anak kala itu. Melalui kegiatan korespondensi, aku dan sahabat penaku bisa berbagi cerita tentang diri dan keluarga, tentang sekolah, hobi serta gambaran daerah kami masing-masing. Untuk mendukung surat menyurat tersebut, hanya diperlukan pena, kertas surat dan amplop serta membayar biaya prangko di kantor pos, sedemikian murah, mudah dan sederhana.
***
Hiburan lain yang tak lekang dari ingatanku adalah permainan tradisional semacam boneka dari kain perca, petak umpet, lompat tali, main kelereng, dan juga congklak. Dua permainan terakhir tak terlalu antusias kumainkan, karena dua-duanya membuatku sering kalah dan mengalah.
Seperti itulah kehidupan sederhana kami di masa kecil. Hiburan yang tak memerlukan biaya mahal, namun mampu membuat aku dan saudaraku terhibur dan bahagia.
Walaupun adanya teknologi canggih dituding sebagai sebab munculnya cara pandang hedonis. Namun akar permasalahan sesungguhnya ada pada mindset manusia itu sendiri. Pada umumnya, manusia beranggapan bahwa harta, kedudukan dan jabatan tinggi merupakan sumber kebahagiaannya, sehingga dengan berbagai cara mereka berlomba untuk meraih dan memilikinya.
Perlu disadari bahwa sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki hanya lahir dari ketenangan hati. Maka hal yang harus diupayakan adalah memperbaiki mindset serta menerapkan nasehat dan ajaran agama dalam kehidupan kita:
Pertama, menyadari bahwa ajal sangatlah dekat
Motivasi inilah sebagai salah satu trik jitu menghalau godaan dunia yang begitu gencar merasuk di setiap sudut hati dan pikiranku. Ketika aku melayat seseorang yang meninggal dunia atau menziarahi kubur kerabat, maka saat itulah aku menanamkan dalam mindset-kubahwa setelah ini mungkin giliran aku, ajal bisa menjemputku kapan saja, karena ajal begitu dekat denganku.
Jika dalam mindset kita telah tertanam hal tersebut, maka otomatis dengan kesadaran penuh, kita hanya akan fokus menyiapkan “kepulangan kita”, dan melupakan urusan dunia yang tak lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk.
Kedua, hanya amal yang akan dibawa pulang
Pernah suatu waktu aku melayat seorang pejabat yang meninggal dunia. Selesai berbelasungkawa dan mendoakannya, tiba-tiba temanku berbisik. “Lihatlah kak, rumah almarhum begitu megah, mobil mewah dan semua kekayaan yang diusahakannya, dia tinggalkan begitu saja, pakaian pulangnya hanya beberapa lembar kain kafan saja”.
Astaghfirullahaladzim, aku beristigfar berkali-kali merasakan kesedihan atas ucapan temanku tersebut. Begitulah sifat manusia pada umumnya, selalu tamak akan harta, kita kumpulkan harta sebanyak mungkin, seakan harta tersebut akan ikut serta saat kepulangan kita.
Dalam salah satu ceramahnya, seorang ustaz menasehati. “Tak salah kita berusaha memperbanyak harta dan kekayaan, namun niatkanlah sebagai sarana untuk beribadah dan beramal sholeh. Contohlah Baginda Rasul dan para sahabatnya yang selalu mengorbankan tenaga, harta bahkan nyawanya untuk berjuang di jalan Allah, karena harta yang berharga adalah harta yang memilliki manfaat di jalan Allah”.
Ketiga, hidup sederhana
Dari Sirah Nabawiyah, dikisahkan bahwa nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah seorang pemimpin umat, seorang khalifah, manusia terbaik, ash shadiqul mashduq (orang yang benar dan dibenarkan oleh Allah). Namun beliau tidak hidup dengan gelimang harta dan kemewahan, sebaliknya kehidupan beliau sangat sederhana dan bersahaja.
Tentu saja beliau mencontohkan pada umatnya agar hidup seadanya, tidak berlebihan. Karena dengan hidup sederhana, maka tak memerlukan biaya dan materi yang banyak. Kesederhanaan akan membawa pada ketenangan hati, hati yang tenang melahirkan perasaan damai dan bahagia.
Keempat, hidup berdasarkan penilaian Allah bukan pada pengakuan manusia
Ketenangan hidup juga akan lahir dari hati yang senantiasa terpaut dengan sang khalik. Setiap melakukan apapun hanya berharap ridho Allah semata. Bukan berharap pada pengakuan manusia.
“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. (QS Thoha : 84)
Kelima, banyak berdzikir
Di kala aku terlalu fokus pada hal duniawi dan cenderung melupakan kehidupan setelahnya, maka hatiku akan selalu gelisah serta muncul kekhawatiran yang berlebihan, untuk itu aku segera berdzikir.
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha ilallaah, wallaahu akbar.
Seorang aparatur sipil negara yang berdomisili di Bima-NTB.
