f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
guru

Ketika Suami Tercinta Tutup Usia

Tidak ada satupun perempuan yg ingin kehilangan lelaki tercinta dalam hidupnya. Namun semua adalah kehendak yang maha kuasa. Seberapa kuat hati ini menolaknya tetap kehidupan berjalan sesuai  suratan takdirNya. Yang tidak boleh dilupakan adalah rasa syukur atas segala nikmat yang senantiasa diberikanNya; meskipun diri ini harus kehilangan sosok lelaki tercinta yang memang milikNya.

Airmata masih saja seringkali mengalir dengan derasanya ketika tangan ini ingin menceritakan tentang kejadian 17 Mei 2019 silam. Kejadian yang sebelumnya belum pernah tepikirkan akan terjadi secepat ini. Perpisahan saya dan suami karena panggilan Ilahi Robbi. Seperti mati rasa, saat kejadian itu melanda karena tanpa tanda-tanda yang berarti sebelumnya jika nyawanya akan segera tiada.

***

Jumat hari itu adalah hari terakhir baginya.

Sejak subuh sudah saya sarankan untuk izin saja tidak berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, karena sudah merasa tidak enak badan. Namun beliau menolaknya dan berpikir bahwa keadaannya masih biasa saja, meski beberapa keluhan yang diucapkannya. Dengan gejala seperti biasa yang sering dirasakannya ketika banyak kegiatan di luar; hanya masuk angin dan pegal-pegal biasa.

Hingga kegiatannya sore hari, kami masih bercanda bersama dengan kedua buah hati kami; sebelum datang waktunya berbuka puasa. Sebab saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan.

Singkat cerita, adzan Isya tiba. Beliau berpesan, “De, shalat Isya duluan ya, Mas sepertinya tidak shalat tarawih dulu”. Itu adalah kalimat panjang terakhir yang diucapkannya tanpa diri ini menyadarinya. Karena itu saya menyarankan untuk mengompres badannya dengan air hangat yang sudah disiapkan, semua badannya semakin terasa pegal-pegal.

Suami tercinta berada di dalam kamar dan saya sholat Isya sekaligus shalat tarawih sendiri d ruang depan yang terlihat dari kamar. Masih terdengar suara anak kedua kami yang berumur satu tahun lebih bercanda dengan ayahnya; suami juga masih terlihat ke luar kamar untuk berwudhu. Dan kemudian, ia sholat Isya di kamar.

Baca Juga  Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (VII): Maryam

Tak selang beberapa lama, anak kedua kami menangis. Saya mengira itu karena ia mulai mengantuk dan minta disusui. Rehat sejenak untuk menyusui anak terlebih dahulu d ruang depan saat itu mata ini tertuju pada kaki suami yang bergerak-gerak aneh.

Dalam hitungan detik, kudekati suami tercinta. Ternyata sudah tidak sadarkan diri. Terkejut, panik, kaget dan segala rasa memuncak dikepala. Namun masih menyangkanya pingsan dan segera panggil tetangga untuk meminta tolong panggilkan dokter.

Setelah diperiksa dokter mengatakan nyawanya sudah tidak ada, dan hati ini tidak percaya dan masih meyakini bahwa nyawanya masih ada secara dokter tidak bawa alat-alat lengkap kedokteran.

***

Segeralah saya dibantu beberapa tetangga membawanya ke rumah sakit. Namun sesampainya di sana, ternyata sama saja. Dokter menjelaskan bahwa suami sudah tidak bernyawa.

Sontak diri ini bingung entah harus berbuat apa, sambil menggendong anak kedua; segera saya meminta bantuan tetangga untuk segera kembali membawanya pulang dan menyiapkan proses pengurusan jenazah. Malam itu tanpa rasa tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana, hingga selesai proses penguburannya.

Semua perempuan pasti akan merasakan hal yang sama, ketika secara tiba-tiba kehilangan suami tercintanya. Terlebih belum genap 5 tahun perjalanan pernikahan kami.

Banyak hal yang kami rasakan dalam mengarungi bahtera pernikahan. Awal mula hidup berdua banyak hal yang tidak sama di antara kami berdua. Mulai dari hal-hal kecil seperti mandi pagi misalnya, beliau lebih suka mandi pagi sebelum adzan subuh, sedangkan saya terbiasa setelah subuh atau bahkan setelah jam tujuh.

Hal lainnya termasuk makanan, suami tercinta lebih suka sayur-sayuran sedangkan istrinya lebih suka ikan-ikanan. Terlebih lagi sosoknya yang penyabar menghadapi istrinya yang suka kekanak-kanakan masih senang keluyuran bersama teman-teman di tahun pertama pernikahan.

Baca Juga  Dua Istri Lebih Baik?

Namun dengan kesabaran dan kedewasaannya mampu mengubah kebiasaan istrinya yang suka keluyuran menjadi istri rumahan senang menunggu belahan jiwanya pulang menyelesaikan pekerjaan di luar.

Hingga satu waktu pulang larut malam dan saya menunggunya dengan perut yang lapar, berharap bisa makan bersama. Emosi jiwa rasanya beliau pulang bukan ucapan sayang yang terucap melainkan wajah merengut akibat lama menunggu.

Beliau dengan sabarnya menjelaskan alasan keterlambatannya pulang dan merangkul istrinya yang kala itu kesal luar biasa. Perjalanan pernikahan memang beragam.

***

Bersyukur atas segala karunia Ilahi, sejak awal pernikahan kami jalani dengan penuh cinta dan bahagia dengan diberi dua buah hati penyejuk kami. Dianugrahi sosok suami yang extra mengerti akan hati istri, mengayomi, dan sangat bisa menempatkan dirinya disegala kondisi.

Terlebih dengan kesehariannya yang religi, ia mudah bergaul dan lebih banyak merangkul teman-teman yang lebih muda; banyak bergaul dengan lingkungan sekitar yang lebih tua dari segi usia. Bahkan beliau dekat sekali dengan anak-anak, tidak sedikit muridnya yang juga merasakan kehilangan mendalam dengan kepergiannya.

Kepribadiannya 2H (humble & humoris) membuatnya dikenal banyak orang dari segala kalangan. Bahkan sebulan setelah hari itu, tamu- tamu masih banyak berdatangan sebagai bentuk kepedulian menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergiannya

Dari sinilah saya merasakan banyak pelajaran, pendidikan dan pendewasaan yang Allah ajarkan secara tidak langsung. Dibalik kesedihan dan kehilangan, kepergiannya menghadap sang Pencipta membuat hati dan pikiran bertanya. Bagaimana kehidupan saya dan anak-anak selanjutnya? Namun Allah benar-benar menunjukkan segala kebaikanNya. Allah memudahkan segala jalan,mengabulkan segala impian suami yang belum sempat terwujudkan.

Allah mudahkan kami memiliki tempat tinggal impian yang sebelumnya kami masih tinggal dengan rumah mengontrak; Memuudahkan kami untuk berkorban 3 kali iduladha sejak kepergiannya. Segala kecukupan kami, telah Allah siapkan dengan lebih (saya dan dua anak balita); Dan yang terpenting lagi, Allah berikan saya kesibukan pekerjaan untuk bisa memenuhi keperluan kehidupan sehingga semuanya dapat berjalan.

Baca Juga  Istighfar Menghadirkan Keajaiban
***

Bersyukur yang tiada henti karena Allah anugrahkan suami sejati, suami yang sangat baik hati. Sehingga, meskipun dirinya sudah tidak ada lagi di dunia, namun segala kebaikannya masih dapat kami rasakan sampai dengan sekarang ini. Sikapnya yang baik terhadap semua kalangan membuat saya merasakan Allah selalu tunjukkan jalan kebaikan untuk kami yang ditinggalkan.

Bermula dari istri rumahan yang dimanjakan suami kesayangan, kemana-mana di hantar, mau apa diberikan, segala pekerjaan yang sebelumnya tidak mampu saya lakukan kini dibisakan untuk melakukan.

Bahkan Allah selalu memberikan jalan kemudahan di atas segala ujian yang diberikan, dibalik semua kesulitan dan kekurangan serta ketidakmampuan diri ini melakukan segala hal. Semua kejadian yang saya rasakan sejak kepergian suami membuat hati ini selalu mengembalikan segala permasalahan kepada Allah sang Penguasa Alam.

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Luar biasa. Ikut berduka atas kepergian suami tercinta dan saya dapat membayangkannya dari kisah ini sekaligus ikut bersenang hati dengan hikmah berupa kemudahan yang Allah berikan.

    Desember 11, 2020
Post a Comment