f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Jatuh Bangun Memondokkan Anak

Aku seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Dari kedua anak tersebut, Anak yang pertama, Ananda Zibril saya tempatkan di salah satu pondok pesantren yang ada di Lamongan.

Di hari jumat pagi, kami sekeluarga mengantarkan buah hati pertama kami ke Pondok Pesantren Al-Islah di Desa Sendang Kecamatan Paciran, Lamongan. Pagi itu Ia kelihatan kurang bersemangat karena niatan awal di pondok adalah dorongan orang tua. Namun tak apa, aku selalu memotivasinya agar betah di pondok.

Dua hari berlalu dengan baik, namun tiba-tiba di hari minggu pagi mendekati siang hari, salah satu ustaznya mengirimkan pesan bahwa ananda Zibril yang memiliki sakit asma sedang kambuh. Saya dan kakak saya mengambil langkah seribu untuk segera menuju ke pondok.

Tiba di sana, saya mendapati Ananda Zibril berlari dan menangis meminta pulang, namun saya sebagai orang tua tidak mudah mengizinkannya pulang. Ananda Zibril pun menjadi marah sambil menangis, dia menendang pintu mobil hingga para ustadz pun mendekati Ananda Zibril. Akan tetapi para ustad yang mendekatinya justru menjadi sasaran kemarahan Zibril, sambil berkata kasar, “Aku tidak mau mondok, di sini makanannya tidak enak, lauknya ikan yang biasa dimakan kucing, tempat untuk tidur pun sempit.”

Karena kondisi tidak kondusif, saya pun menghubungi Ayahnya yang sedang bekerja untuk segera datang ke pondok. Setelah datang dan berbincang-bincang, kami sebagai orang tua tetap sepakat tidak ingin membawanya pulang ke rumah. Namun kami meminta izin kepada pengurus pondok untuk membawa anak kami makan di luar dan mengembalikannya lagi ke pondok setelah dia sedikit tenang.

Setelah itu, hampir setiap hari kami melakukan kunjungan ke pondok. Rasa rindu kepada anak kami tidak mampu dikalahkan oleh pagar sekolah yang tertutup oleh terpal. Kami tetap berusaha menemui anak kami karena dengan begitu anak kami baru bisa tenang. 

Baca Juga  Menunggui Ibu di Ruang Isolasi

Selama dua minggu masa isolasi, kami terus mengunjungi Zibril hingga seolah kami adalah ustaz dan ustazah yang berjaga di pagar pondok pesantren. Kami mengakui bahwa sikap kami yang setiap hari mengunjungi Ananda Zibril memang salah. Namun begitulah cara kami untuk perlahan membuat Ananda Zibril berbesar hati dan memahami hingga akhirnya mulai menikmati hidup di pondok.

Masa pandemi menjadi masa yang berat bagi kami. Kami terus merindukan anak kami, namun pihak pondok tidak memberikan jadwal kunjungan bagi santri karena aturan prokes yang begitu ketat. Akan tetapi, kami tetap berusaha mengunjung anak kami, entah hanya untuk sekadar melihatnya dari kejauhan, atau hanya sekadar memberikan uang jajan bagi anak kami. 

Kami sebagai orang tua tidak menyangka bahwa ternyata anak kami memiliki tekat yang begitu kuat untuk bisa membahagiakan kami. Pada masa class meeting Zibril masuk pada kategori the best 10 siswa teladan. Pada akhir semester pertama, Zibril mendapat peringkat 3 besar di sekolah, di mana pencapaian itu sangat membanggakan kami sebagai orang tua. Saat saya menanyakan segala keluhannya tentang kepondokan, Zibril menjawab “Saya ingin Mama dan Ayah bahagia meskipun saya tidak suka.” Subhanallah.

Perjalanan untuk menjadi krasan di pondok ternyata belum selesai. Setelah kembali dari liburan semester, anak-anak harus menjalani masa isolasi karena adanya pandemi Covid-19. Miris sekali karena masa isolasi menjadi ajang kabur bagi anak-anak pondok pesantren, tak terkecuali bagi anak saya.

Siang itu, ketika kami sedang menikmati tidur siang di rumah, tiba tiba salah satu teman ayah Zibril yang mempunyai kandang sapi di daerah Sendang melakukan panggilan video ke nomor saya. Ternyata panggilan tersebut berasal dari Zibril.

“Mama, saya kabur,” ucap Ananda Zibril kepada kami. Siapa yang tidak terkejut mendapati anaknya kabur dari pondok, kami bergegas menuju kandang sapi tempat kaburnya anak kami. Sampainya di sana, Zibril bercerita, “Saya kabur karena kemarin beberapa teman kabur untuk pulang dengan naik becak, tapi setelah menunggu lama tidak ada becak dan angkutan yang lewat. Jadi, saya berhenti di kandang sapi milik pak haji.”

Baca Juga  Pesan Putus di 21 September 2017

Setelah Ananda zibril bicara panjang kali lebar tentang alasannya kabur dari pondok, kami tidak serta merta mengajaknya untuk pulang ke rumah. Namun, kami membawa Ananda Zibril untuk makan di luar serta memotivasinya.

“Mas, katanya kamu mau membahagiakan Mama dan Ayah?” tanya saya.

“Iya Ma, nanti saat sudah besar aku akan membahagiakan Mama dan Ayah,” jawab Zibril.

“Kenapa kamu menunggu besar? Apakah kamu tahu hidup dan mati seseorang? Jika nanti atau besok kami tidak ada lalu kapan kamu akan membahagiakan kami?” tanya saya lagi.

Zibril pun terdiam dan berpikir sejenak. Seusai makan, akhirnya dia meminta untuk kembali ke Pondok Pesantren dengan sukarela.

Setiap kami berkunjung ke pondok, Zibril menangis hingga matanya sembab. Zibril juga mengeluh sakit perut dan kepala. Setelah tiga kali diperiksa oleh petugas klinik pondok, Zibril tak kunjung sembuh sehingga kami membawa Zibril ke Rumah Sakit. Dokter di rumah sakit berkata tidak ada masalah pada kesehatan Zibril, namun Zibril mengalami stress akibat ke-tidak inginannya untuk mondok.

“Yang mau mondok ini siapa Zibril?” tanya dokter.

Zibril dengan semangat menjawab, “Mama dok.”

“Kalau begitu Mamanya saja yang mondok,” ucap dokternya.

Zibril cengegesan bahagia dan berkata, “Tuh kan Ma, aku tidak perlu mondok ya Ma, agar tidak stress.” Sontak, kami pun tertawa mendengar perkataan Zibril. Namun kami tidak membawa Zibril untuk pulang kerumah, karena kami yakin bahwa Zibril memang hanya memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di pondok. Lambat laun, Zibril akan mulai merasa nyaman untuk tinggal di pondok, sehingga penyakit yang ia keluhkan menghilang dengan sendirinya.

Perjuangan untuk membuat anak merasa nyaman di pondok memang melelahkan. Kami harus bolak balik ke pondok hampir setiap hari untuk memenuhi permintaanya. Saya mendapatkan saran dari beberapa orang unuk membawakan tanah dari rumah untuk membuat anak krasan di pondok. Saya kemudian membawakan tanah dari rumah untuk Ananda Zibril.

Baca Juga  Anak Mamak dan Kota Istimewa (2)

Tiba-tiba, Zibril tau dan berkata, “Ma, tanahnya ku buang ya? Ngapain Mama bawa tanah segala?” Jibril pun membuangnya. Karena tekad yang kuat, ada saja cara yang bisa dilakukan seperti saran dari temannya Zibril bernama Daniel. Ia bercerita bahwa sebelum pertama kali berangkat ke pondok, ia diminta oleh mamanya untuk membasuh mukanya dengan tanah. Seketika itu juga, kami tertawa bersama mendengar cerita dari Daniel. Namun dari sini kami mengambil pelajaran bahwa krasan atau tidaknya anak di pondok tidak didasarkan oleh faktor tanah atau yang lain, namun karena berkat doa yang kuat dari kedua orang tua.

Alhamdulillah, kini Ananda Zibril sudah sangat nyaman menjalani kehidupan di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari perlajanan mondoknya Ananda Zibril. Berkat perjalanan mondoknya Ananda Zibril, kami bertemu dengan para ustaz yang humble dan ibu-ibu wali murid yang kompak, hingga menjadi ladang rezeki bagi saya karena mendapat banyak teman baru.

Wal akhir, Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pengurus Pondok Pesantren Al-Islah dan Guru-Guru SMP Muhammadiyah 12 Paciran yang telah membimbing dan menjaga Ananda Zibril. Saya juga mengucapkan terimakasih terutama pada K.H. Dawam Sholeh, Ustaz Labib, Bapak Fazid, Bapak Slamet, Pak Imam, Pak Kholik, Bu Risma, dan banyak ustaz yang lain yang tak kenal lelah dalam membimbing anak saya. Thanks.

Bagikan
Comments
  • bunda adil

    megilan,keputusan yg tepat para wali utk memasukkan putra putrinya ke pondok

    September 20, 2022
  • Mama Pragya

    Masyaallah ibu..
    Cerita ibu persis yg saya alami saat ini. Hanya saja anak saya perempuan dan merupkan anak tunggal. Terimakasih sudah berbagi pengalaman, menyadarkan ke saya memang tidak mudah tapi inshaallah bisa melewatinya.
    Sekali lagi terima kasih sudah berbagi kisah

    Juli 25, 2025
Post a Comment