Menyederhanakan Toleransi melalui Perilaku Sehari-Hari
Beberapa waktu yang lalu, saya menjemput adik perempuan saya dari sekolah. Rutinitas ini saya jalankan sejak pembelajaran tatap muka dimulai lagi. Kadang-kadang bersepeda sendiri, kadang-kadang minta diantar.
Sebenarnya, yang saya tunggu-tunggu ketika menjemput adik saya adalah segudang cerita yang siap ia ceritakan kepada saya. Melihat tumbuh kembang ia menjadi anak yang sedang senang-senangnya bermain TikTok adalah hal menggembirakan sekaligus memberi ruang untuk saya agar tetap was-was.
Bagaimana bisa saya tidak was-was saat seusia dia banyak sekali kasus bullying karena salah satu temannya memiliki rambut keriting lalu banyak yang mengejek? Atau karena masalah merek HP yang sedang tidak hype ada juga yang kena bully. Dan masalah remeh temeh lain yang bisa berakibat fatal. Ini soal menghargai, toleransi.
Tidak perlu jauh-jauh untuk membicarakan “toleransi”, keluarga menjadi tonggak kecil namun fundamental dalam pembentukan penghormatan atas apa yang berbeda, atas apa yang tidak sesuai dengan nilai kita.
Tidak dapat dipungkiri keluarga memang menjadi sarana pertama dalam pembentukan nilai-nilai anak. Tanpa banyak tapi.
Baik dalam menerima dan baik dalam menghargai
Saya belum menjadi ibu. Saya di sini, berdiri sebagai kakak perempuan di mana saya memiliki tanggung jawab besar untuk tumbuh kembang adik saya. Soal kebiasaan, nilai, perilaku, dan tata bahasa yang mengiringi hari-hari adik saya, besar harapan ia tumbuh menjadi seseorang yang sehat dan baik. Itu saja. Baik dalam menerima dan baik dalam menghargai. Dua hal yang menjadi pondasi agar ia bisa dengan bijaksana dalam bersikap, meskipun ada tega dalam setiap tega(s).
Saya bisa mengatakan demikian karena saya berdiri di tengah manusia-manusia angkuh. Mereka menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mencela tanpa tahu apa yang ada di belakangnya. Dan mereka banyak bicara seakan merekalah yang tidak ada cacat di mata yang lainnya. It’s called human.
Tapi, saya muak ketika setiap kesalahan yang sama, perkataan menyakitkan, tidak bisa mengahargai alias merasa paling benar selalu disebut “manusia”. Sudah tahu salah, tapi dilakukan berulang kali–ini bebal.
Karenanya, menjadi baik dalam menerima apa atas apa yang orang lain lakukan kepada kita adalah keharusan. Sekalipun itu menyakitkan. Karena kalau kita menanggapi suara sumbang yang berkeliaran, tidak ada habisnya, ya meskipun dibutuhkan ruang penerimaan yang begitu luas. Terkadang, diam menjadi satu-satunya menyelesaikan masalah.
Baik dalam menghargai. Hari ini dan seterusnya, ya, nduk. Kamu harus baik dalam menghargai. Menghargai ketika kawanmu tak sengaja melukaimu melalui sikap dan perkataannya, karena kamu tahu bahwa setiap manusia itu pada dasarnya baik, mereka punya hati nurani. Menghargai, karena memang kelakuan mereka kerap menjengkelkan.
Bercerita Tanpa Diminta
Tanpa banyak tanya, adik saya selalu menceritakan apa yang dia alami saat di sekolah ataupun saat bermain dengan teman-temannya. Saya tidak pernah menyuruhnya menjadi dewasa. Dulu, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar, saya hanya menekankan agar dia bisa terus mengingat Tuhan dengan cara bersyukur. Bersyukur saat bisa makan mie ayam dengan satu gelas es jeruk, sesederhana itu.
Atau sesekali saya bercerita atas kejadian yang saya alami.
Tibalah hari ini, dia menceritakan kejadian di sekolah. Salah satu temannya, sebut saja Devina mengajak adik saya ke kamar mandi karena perutnya sakit. Di tengah perjalanan kelas menuju kamar mandi Devina mengatakan, “Sial banget hari ini, ga bawa jilbab, perut sakit, dan pelajaran Matematika.”
“Kamu tuh ga boleh ngomong kayak gini.” Perintah adik saya dengan khas suaranya yang agak bulat.
Atau di kesempatan lain ada kejadian yang membuat saya terpingkal. Adik saya dan kawan dekatnya tidak mengerjakan PR. Sedangkan Devina selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang Ibu guru beri hari sebelumnya. Devina ini lucu. Saat dia sudah mengerjakan PR, dengan lantang ia berteriak “ada PR”. Kalau dia tidak mengerjakan PR, dan teman yang lainnya sudah mengerjakan, lantas ia akan dengan vokal mengatakan “tidak ada PR”.
“Mampus, luuu!!!” Kalimat tersebut keluar dari mulut Devina yang ditujukan untuk adik saya dan beberapa kawan dekat adik saya. Sepanjang perjalanan pulang dia bilang kalau lagi sebal dengan Devina.
Sambil saya terkekeh, saya mengatakan, “Ya, kamu bakal bertemu dengan berbagai macam karakter orang. Harus diterima.”
“Iya, aku ga sakit hati, karena udah tahu wataknya Devina.” Persis, dia sering kali menyebut “watak” daripada sifat untuk menggambarkan kepribadian orang-orang di sekitarnya. Saya begitu takjub apa yang keluar dari mulutnya.
Ia menikmati perasaan yang sedang tidak baik. Ia menerima dengan baik perkataan yang keluar dari kawannya, meskipun membuat dia jengkel. Tapi, dia menghargai karena dia tahu sifat dasar Devina. Ia menghargai. Ia bertoleransi lewat langkah sederhana.
Penghargaan Toleransi Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Saat orang-orang berlomba-lomba untuk bisa mendapat pengakuan bahwa dirinyalah yang paling menghargai, maka cukupkan diri untuk bisa menghargai diri sendiri terlebih dulu. Saat mereka bersuara lantang agar setiap orang, komunitas, atau pihak-pihak untuk bisa toleransi, maka sudahkah diri bertoleransi saat ada yang tidak sepaham dengan kita? Menyepakati atas hal yang tidak sesuai dengan kita tanpa berbicara setelahnya.
Melalui keluarga, melalui langkah kecil yang diberikan kepada anggota keluarga adalah jembatan menyebarkan penghormatan kepada orang lain. Memberi pemahaman bahwa setiap orang yang lahir di dunia ini adalah orang-orang baik karena mereka punya nurani–sekalipun, banyak perbedaan yang dihadapkan.
Bercerita dengan menekankan bahwa adik saya harus bisa mensyukuri setiap tegukan es jeruk dan setiap helai mie ayam menjadi jalan terang penghargaan. Menyampaikan hal-hal yang kami yakini, kalau kamu (adik saya) memposting mie ayam, sedangkan temanmu yang tanpa sengaja melihat postingan kamu ingin sekali membeli mie ayam, tapi belum punya uang, lantai bagaimana? Tanpa disadari kamu membuat harinya bersedih.
Lalu, bagaimana dengan kemewahan yang lain?
Toleransi adalah soal mengurangi ego. Mengurangi memerlihatkan yang bisa membuat orang lain terluka. Toleransi adalah soal kesadaran bahwa setiap orang itu baik. Dengan itu ketika kamu berbeda pendapat dengan mereka hubungan mu akan tetap baik-baik saja.

Ratna Syifa Nastiti; jangan panggil aku anak kecil, paman!
