f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
peacekeeper

Peacekeeper Woman dan Literasi Toleransi

Di era sesak media, literasi toleransi urgen untuk  menjadi   dasar dalam merespons perspektif dan pendapat yang berbeda. Terlebih, proxy war dengan dalang tersembunyi semakin masif dalam menebar berita bohong dan ujaran kebencian. Tanpa literasi toleransi, ‘perang’ di media sosial berujung perpecahan, kebencian, dan stigma negatif pada golongan. Pada titik inilah, kehadiran peacekeeper woman yang terliterasi toleransi sangat urgen.

Wanita sebagai penjaga perdamaian sejatinya dapat menjalani peran sebagai agen perdamaian sejak usia dini. Apabila sejak dini anak mendapatkan pengasuhan ramah, anak memiliki deposito emosi positif yang siap distribusikan. Namun sebaliknya, apabila anak mendapatkan sikap kasar dan pengasuhan yang tidak layak, maka anak akan bersikap senada. Anak yang dijuluki ‘perusuh’, ‘nakal’, dan lain sebagainya akan tumbuh sebagaimana label yang dilekatkan. Tidaklah berlebihan apabila keluarga merupakan lingkaran lingkungan yang dapat menentukan prospek embrio perdamaian.

Ironi perempuan

Meski digadang sebagai peacekeeper, tak semua perempuan dapat memerankan perannya dengan baik. Bahkan, tak sedikit perempuan (baca: ibu) yang justru melakukan kekerasan terhadap anak. Tanpa sadar, ibu dengan kesehatan mental yang rendah mudah memarahi anak dan menyuburkan bibit-bibit anti perdamaian. Kondisi ekonomi keluarga yang buruk serta dengan keterampilan pengasuhan rendah juga membuat anak mendapatkan pengasuhan tak layak.

Jamak dipahami bersama bahwa perempuan seringkali dilekatkan dengan sikap kasih sayang. Meski demikian, berbagai macam bentuk kekerasan yang menyasar perempuan menyebabkan insecure bahkan trauma mendalam. Masih segar dalam ingatan, kasus-kasus kekerasan dengan perempuan sebagai pelaku. Warta ibu menggorok anaknya dan ibu melemparkan bayi ke dalam sumur menghiasi layar media. Mengapa perempuan yang digadang sebagai peacekeeper justru menjadi pelaku kekerasan?

Baca Juga  Pandji dan Klarifikasi Dr Tamrin

Publik sering tak memperhitungkan bahwa sebelum menjadi pelaku kekerasan, perempuan terlebih dahulu berada pada posisi korban. Bak mata rantai kekerasan, perempuan yang awalnya menjadi korban dapat beralih menjadi pelaku. Tanpa adanya pemaafan dan penyelesaian konflik, mata rantai kekerasan akan berlanjut membentuk jaring-jaring yang siap menelan korban lanjutan. Sebelum menjadi pelaku kekerasan, perempuan awalnya menjadi korban kekerasan tak berdaya. Namun sebaliknya, ketidakberdayaan tersebut menjadi sikap membabi-buta yang justru menenggelamkan eksistensi dan marwah perempuan.

Ketika menjadi korban beragam kekerasan, perempuan membutuhkan pertolongan dari helper yang terpercaya. Konselor, psikologi, dan agamawan, serta dukungan keluarga dapat menjadi pemulih trauma. Detoksifikasi virus mental seperti dendam, trauma, dan lain sebagainya harus diselesaikan. Harapannya, perempuan korban kekerasan dapat menjadi penyintas yang mampu berdamai dengan masa lalu. Muaranya, perempuan akan siap terhubung dengan masa depan dan dimensi futuristiknya.

Sayangnya, kegagalan perempuan korban kekerasan untuk dapat bermetamorfosa menjadi penyintas adalah minimnya dukungan sosial. Seringkali perempuan korban kekerasan harus berurusan dengan dua hal berat sekaligus, yakni trauma dan stigma. Selain modal psikologis yang mandali, dukungan sosial sangat penting dalam membantu perempuan tumbuh tegar di atas luka. 

Dukungan Suami

Ketika perempuan mengalami berbagai konflik, dukungan keluarga menjadi hal yang amat penting. Komunikasi sehat antara suami istri menjadi kunci bagi iklim keluarga yang sehat dan nir toksik. Keluarga harus memiliki perspektif interaksi yang setara dan saling melengkapi. Relasi setara antara suami dan istri dapat meminimalisasi konflik peran ganda pada perempuan. Selain itu, perspektif setara—yang awalnya R.A Kartini kenalkan —juga dapat menghapus subordinasi terhadap perempuan. Interaksi setara dapat menggaransi kesehatan mental kaum ibu dan hal ini memungkinkan mereka berdaya sebagai peacekeeper.

Dukungan suami dapat meningkatkan resiliensi istri dalam menghadapi berbagai konflik dan ambiguitas peran, baik sebagai ibu, istri, dan juga pekerja. Dukungan suami juga dapat menjadi sumber dukungan psikologis yang membuat ibu memiliki sistem dukungan sosial yang baik. Apabila dukungan positif untuk ibu cukup, maka perempuan tersebut akan memiliki akses lebih luas untuk semakin berdaya. Muaranya, perempuan semakin memiliki ruang dan waktu untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.

Baca Juga  Komunikasi Kesetaraan pada Pasangan

Suami yang memiliki daya dukung positif untuk istri biasanya terlibat dalam berbagi peran domestik dan bersedia untuk menghadirkan iklim relasi setara. Dukungan sosial suami dapat memupus doktrin patriarki yang selama ini mengungkung kaum perempuan. Dampak lanjutannya, suami yang berpijak pada perspektif kesetaraan gender juga akan mampu mewujudkan keadilan hakiki dalam keluarga. Suami yang mendukung istri juga akan menjadi helper bagi istri, sehingga hal ini mendorong peningkatan kesehatan mental kaum ibu.

Ibu yang sehat mental memiliki predisposisi kuat untuk mampu menjalankan peran sebagai peacekeeper. Sebelum menjadi agen perdamaian, perempuan harus terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri, masa lalu, dan ragam konflik masa kini. Kaum ibu dapat menjadi peacekeeper  dan mewujudkan pengasuhan ramah anak. Selanjutnya, menanamkan nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan cinta damai dapat melalui literasi toleransi dalam keluarga.

Literasi toleransi

Dalam memberikan pendidikan toleransi pada anak, ibu sebagai peacekeeper dapat menggunakan model bercerita, curah pendapat, dan membangun komunikasi positif pada anak. Keteladanan ibu dalam bertoleransi terhadap perbedaan kemampuan anak akan dikopi ke dalam cara pikir dan pola sikap anak. Kelapangan hati ibu untuk tidak membandingkan anak dan menerima perbedaan individual anak adalah teladan pembelajaran praktik toleransi.

Perspektif bahwa perbedaan adalah keragaman dapat ditanamkan melalui interaksi yang hangat dalam keluarga. Sejak anak usia dini, ibu juga dapat menampilkan scene-scene konten indahnya toleransi sehingga anak memiliki kesan yang positif terhadap toleransi. Toleransi sejatinya merupakan keterampilan psikis yang perlu ditanam, dipupuk, dan dirawat. Rasa toleransi dalam diri anak merupakan keterampilan hidup menuju kualitas hidup yang optimal. Toleransi juga merupakan modal psikologis untuk  adaptif dan sehat (mental) dalam berbagai ancaman krisis kehidupan.

Baca Juga  Menjadi Madrasah Pertama bagi Anak, Pantaskah Saya?

 Akhirnya, komitmen perempuan untuk menjadi peacekeeper dan duta toleransi dalam keluarga perlu kembali ditegaskan. Dukungan suami dan kemauan untuk terus belajar  merupakan kunci utama keberhasilan. Eksistensi perempuan sebagai peacekeeper sesungguhnya merupakan bagian dari komitmen pengasuhan yang ramah anak. Kabar baiknya, anak yang diberikan bekal pendidikan toleransi akan mampu menjadi anak yang  lebih berhasil dalam melewati tantangan era disrupsi.

Penulis: Nurul Lathiffah, S. Psi., M. Psi
Peminat Kajian Psikologi Wanita

Bagikan
Post a Comment