f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
merawat peradaban

Perlindungan terhadap Perempuan dan Usaha Merawat Peradaban

Kehidupan di dunia terdapat berbagai macam kenikmatan, namun tetap gersang apabila tidak sempurna tanpa kehadiraan perempuan di samping kehadiran laki-laki. Biarpun jiwa kepemimpinan selalu tersematkan pada laki-laki, sejujurnya laki-laki tidak mampu berbuat apa-apa tanpa keberadaan perempuan untuk saling melengkapi. Dialah yang mampu membuat kita bangkit di saat putus asa terombang-ambing masalah kehidupan, pun tempat berteduh sebagai rumah ternyaman meluapkan keluh kesah.

Semenjak kehadiranya sebagai makhluk di bumi, perempuan telah menyandang kemuliaan sebagai ciptaan yang terhormat dengan segala keunikanya. Sehingga bukanlah tanpa sengaja, Rasulullah Muhammad Saw. dalam ajaranya menempatkan perempuan sebagai sosok yang amat sangat dihormati serta dimuliakan. Bahkan dengan kapasitas tersebut, manusia (laki-laki) tidak akan menikmati indahnya syurga apabila memandang sepele perempuan, terlebih lagi apabila melecehkanya.

Predikat tersebut harus kita rawat dan jaga dengan sepenuh hati. Bersama semua orang, bahu-membahu menegaskan posisi perempuan sebagai makhluk yang harus tetap dihormati. Pada dasarnya memuliakan perempuan bukan menjadi alasan bahwa kebenaran mutlak ada padanya. Akan tetapi, memuliakan memiliki makna bahwa sebagai makhluk yang rentan tertimpa diskriminasi (marginalisasi, pelecehan serta pemerkosaan) maka wajib untuk kita mengerahkan tenaga dalam menjaga kesucian seorang perempuan.

Sebagai makhluk yang rentan terhadap perbuatan non-humanis; orang kerap melupakan bahwa sesungguhnya melindungi perempuan adalah sama usahanya dengan giat bersungguh-sungguh mewujudkan serta merawat peradaban. Tidak berlebihan ketika ada  yang menyebut, pasang surutnya sebuah peradaban ditentukan oleh baik buruknya perempuan sebab perempuan adalah poros penjaga dan perawat peradaban itu sendiri.

Mendidik Sejak Dini

“Perempuanlah, kaum ibu pertama peletak bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati sanubari manusia, yang bakal terkenang dalam hidupnya. Bukan saja sekolah yang harus mendidik jiwa anak, tetapi paling utama pergaulan di rumah harus mendidik. Sekolah mencerdaskan pikiran dan kehidupan rumah tangga hendaknya membentuk watak anak”, tegas Kartini ketika memperjuangkan pendidikan bagi perempuan.

Baca Juga  Perjalananku Meraih Pendidikan Tinggi (2)

Bagian ini adalah penting. Selain sebagai penentu terwujud atau tidaknya sebuah peradaban, secara biologis yang akan melahirkan generasi-generasi emas pewaris dan pelanjut peradaban, perempuan menjadi seorang ibu harus cerdas dalam pikiran dan halus secara tindakan. Penulis kira kita semua sepakat dengan untaian pepatah, “buah tidak jatuh jauh dari pohonya”. Maksud dari hal ini adalah bahwa generasi yang lahir ke dunia hadir dari rahim seorang perempuan cerdas juga berwatak.

Kaitanya dengan mendidik dan merawat generasi, semula kita harus mengusahakan terlebih dahulu mencerdaskan perempuan bukanlah pikiran kosong tanpa pembacaan visioner. Karena tahap pembentukan sebuah peradaban adalah serangkaian perjalanan yang amat panjang; maka hendaknya kita memulai dari bagian paling intim dan mengakar, yaitu menggiatkan kehidupan keluarga yang suasana akademisnya hidup.

Kehidupan keluarga yang akademis tentu tidak akan lahir dan terbentuk dengan sendirinya; tanpa peran yang mendidik dari para orang tua (dalam hal ini perempuan dan laki-laki sebagai ibu bapak). Paling penting dan intim dalam menciptakan peradaban lewat lingkungan keluarga adalah menanamkan akhlakul karimah serta membiasakan anak dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya literatif. Lambat laun, apabila aktvitas ini rutin diusahakan, maka kegemilangan pengetahuan, kehalusan tutur kata serta membuminya peradaban bakal terwujud dengan sendirinya.

Harmonisasi Untuk Peradaban

Seorang ulama perempuan Muhammadiyah, Siti Munjiyah berkeyakinan sesungguhnya perempuan dan laki-laki dalam islam masing-masing memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkemajuan dan berkesempurnaan. Sejatinya, penciptaan laki-laki dan perempuan sedari awal memang memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Di mana dengan keunikan tersebut menjadi modal besar menuju arah hidup yang lebih baik.

Pada tahap ini, perdebatan-perdebatan terkait tingginya jenjang pendidikan perempuan tak penting untuk dipersoalkan lagi. Sebab, semakin luasnya lautan pengetahuan perempuan (umumnya para orang tua); maka bagai angin segar dalam mendidik diri dan keluarga menuju puncak peradaban yang sesungguhnya. Laki-laki dan perempuan sebagai orang tua kiranya lebih fokus pada usaha untuk merawat peradaban tersebut dalam lingkungan keluarga.

Baca Juga  Gerakan Filantropi Kaum Santri

Langkah solutifnya ialah laki-laki dan perempuan para calon orang tua sama-sama meramu diri dengan pengetahuan; khususnya pengetahuan tentang membangun serta merawat peradaban dalam lingkungan keluarga. Kaitanya dengan itu, selain memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya; juga tidak boleh mengabikan menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Bagaimana pun adanya, kelemah lembutan perempuan kerap dimanfaatkan oleh manusia-manusia “tak bermoral” untuk menindas serta mengekploitasinya. Perkembangan menuju arah perbaikan, lingkungan sosial yang berkeadaban harus mendukungnya. Untuk mewujudkan cita-cita di atas, sosok penting dalam menciptakan itu semua adalah laki-laki. Laki-laki harapannya tampil paling depan memberikan semangat kepada perempuan.

Kolaborasi harmonis antar keduanya memberikan sinyal positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan peradaban dalam ruang lingkup keluarga. Orang tua selain sebagai support system, dalam mencetak generasi pewaris peradaban perlu memperhatikan tiga hal, yakni ; komunikasi, kolaborasi dan pola pendidikan yang konstruktif.

Diferensiasi, dikotomi serta kesenjangan yang selama ini terjadi diakibatkan oleh keinginan salah satu pihak agar terlihat maju dengan menenggelamkan mimpi-mimpi antar sesama. Kerenanya, kesempatan laki-laki dan perempuan agar mampu berkembang dengan baik. Idealnya, segala lini kehidupan tak sepantasnya dipandang sebagai arena kompetisi. Jika ini masih mendaranh daging, maka kedua jenis makhluk ini selamanya akan tetap tidak harmonis.

Dalam konteks kehidupan sosial lebih luas, masyarakat secara umum juga adanya kebijakan yang memanusiakan perempuan. Tujuannya agar dalam melakoni kehidupan sehari-hari, perempuan tidak lagi khawatir akan keselamatannya apabila berada di luar rumah. Gerakan sektoral selama ini cukup membuktikan bahwa kita berjuan dan membebaskan sesama perlu kolaborasi.

Singkatnya, semua elemen perlu turut serta dalam menjaga perempuan sebagai wujud nyata penghormatan terhadap kemanusiaan. Di penghujung tulisan ini, tak ada harapan yang lebih penting selain mengusahakan hubungan dan relasi harmonis antara laki-laki dan perempuan. Keduanya hendaknya kembali bersama dalam visi mencerdaskan diri dan generasi demi terwujudnya kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban.

Baca Juga  Partisipasi Perempuan dalam Penanggulangan Bencana

Mengawalinya dengan masing-masing membekali diri, selanjutnya dalam kehidupan berkeluarga pemahaman-pemahaman tersebut diaktualisasikan sedisiplin mungkin. Akhirnya, keluarga adalah pucuk dari sekumpulan harapan  yang perlu dirawat dan dijaga secara bersama. Sebab di dalamnya, ada banyak mimpi-mimpi demi hidup yang berkeadaban.

Bagikan
Post a Comment