f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Gayatri Spivak

Gayatri Spivak dan “Beban” Kajian Poskolonial

Bagi Pengkaji Poskolonial, Gayatri Chakravorty Spivak merupakan figur penting yang tidak boleh luput dalam perbincangan. Selain terjemahannya mengenai karya Derrida yang berjudul De la grammatologie (1976), dari bahasa Perancis ke dalam bahasa inggris, yang ia turut memberikan kata pengantar yang cukup tajam dan memberikan kontribusi mengenai Refleksi Diri (self-reflexity), esainya yang berjudul  Can Subaltern Speak? pada tahun 1988, merupakan karya penting, mengangkatnya ke panggung Sarjana Poskolonial yang patut diperhitungkan.

Melalui esai tersebut dengan mengangkat studi kasus janda perempuan India yang mempraktikan Sari, ritual membakar diri mengikuti suami yang meninggal, saat kolonial Inggris berlangsung, ia menggugat sejumlah sarjana yang selama ini mengatasnamakan kelompok kelas bawah dan tertindas. Gugatan tersebut adalah sejauhmana advokasi yang dilakukan kelompok sarjana tersebut bisa membuat perempuan tertindas itu bersuara?

Dalam esai tersebut, Spivak menyimpulkan alih-alih dapat bersuara, justru perempuan yang mempraktikan sari tersebut tidak bisa bersuara atas nama dirinya di tengah langgam patriarki budaya dan proses kolonial Inggris saat itu. Ketidakbersuaraan ini merefleksikan semacam gugatan para sarjana yang selama ini selalu mengatasnamakan individu dan kelompok yang tertindas di tengah lapis-lapis struktur sosial, politik, dan agama, yang membuat kelompok terbawah ini kemudian sulit untuk menyuarakan ketertindasannya.

Namun, sebagai penyuara kelompok subaltern yang menantang stabilitas pengetahuan para sarjana barat sekaligus intelektual publik yang menjadi representasi suara akademisi dan intelektual dunia ketiga, integritas akademik Spivak ini dipertanyakan ketika ada satu peristiwa yang menyulut kontroversi. Saat diundang oleh Jawaharlal Nehru University (JNU) di New Delhi pada 21 Mei 2024 dalam Kuliah Umum dengan mengangkat tema William Edward Burghardt Du Bois, aktivis dan intelektual kulit hitam Amerika Serikat, terkait dengan Visi Demoraktik yang dibawanya, ada mahasiswa pascajasarjana kampus tersebut, bernama Anshul Kumar bertanya kepadanya di sesi tanya-jawab. Alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan, Spivak tiga kali mengoreksi secara langsung salah ejaan yang diucapkan oleh Anshul Kumar tersebut. Sementara Anshul Kumar saat dikoreksi, ia mengulangi kesalahan yang sama dengan menggunakan ejaan yang ia inginkan sambil mencoba mengajukan pertanyaan terkait dengan status privilege yang dimiliki oleh Spivak tampak kontra-produktif.

Baca Juga  Manajemen Makan yang Baik Ala Rasulullah SAW

Alih-alih menjawab, Spivak justru bertanya mengenai identitas Anshul Kumar ini sebenarnya. Kumar lalu menjelaskan bahwasanya ia merupakan salah satu pendiri dari Pusat Studi Kajian Brahmin. Sementara itu, Brahmin, bisa disebut dengan Brahmana, ini menempati strata kelas sendiri di luar strata sosial seperti Kshatriya, Vaishya, and Shudra. Brahmana merupakan strata kelas elit dalam ritual keagamaan Hindu, meskipun mereka terbagi lagi menjadi tiga varian kelas spiritual. Bagi Anshul Kumar sendiri, ejaan yang dikoreksi itu tampaknya tidak penting dan hal yang sangat sepele. Hal ini sebaliknya bagi Spivak. Karena itu, saat Kumar ingin melanjutkan pertanyaannya, Spivak dengan nada marah kembali mempertanyakan sikap Kumar tersebut. “Saya seorang wanita berusia 82 tahun yang berada di depan umum di institusi Anda, dan Anda kasar kepada saya”, ucap Spivak. Untuk menyudahi konflik tersebut, moderator lalu beralih kepada penanya lain seakan mengabaikan apa yang baru saja terjadi.

Potongan video itu viral di Twitter dan tidak sedikit yang menyalahkan Spivak dengan nada kecewa. Ini karena, sebagai Dewa Kajian Poskolonial, ia dianggap bertindak arogan kepada sarjana yang justru datang dari dunia ketiga, dunia intelektual yang selama ini dibelanya sehingga mendapatkan tempat terhormat dan mapan dalam jajaran akademisi dan intelektual barat. Apalagi, akademisi muda yang disudutkan tersebut merupakan dari kelompok Dalit, kasta terendah di luar tiga kategori kasta di India tersebut. Upaya untuk menyayangkan sikap itu semakin menyudutkan posisi Spivak.

Sementara itu, tidak sedikit yang membela posisi yang dimiliki oleh Spivak dan menjelaskan duduk persoalannya. Menurut Ilan Kapoor, akademisi Universitas York, Toronto, Kanada, keturunan India, Spivak mengira Anshul Kumar itu berasal dari kelas Brahmana, mengingat pernyataan yang dijelaskan saat tanya jawab sebelumnya. Selain itu, upaya untuk mengoreksi ejaan dari intelektual Du Bois itu merupakan bagian dari tindakan ideologis. Ini karena, Du Bois selalu menegaskan diri untuk mengeja namanya dengan ejaan bahasa Inggris “dew-boys”, alih-alih menggunakan bahasa Perancis, yaitu “dew-bwah”. Ejaan ini yang coba dipertahankan oleh Spivak sebagai bagian dari suara intelektual subaltern juga.

Baca Juga  Menilik Pesan Cerita pada Sinetron Ikatan Cinta

Bagi saya pribadi potongan video yang menyulut kontroversi tersebut merupakan cerminan terkait dengan persoalan merepresentasikan kelompok yang tertindas. Alih-alih sekedar mendengarkan suara untuk kepentingan kelompok tertindas tanpa peduli siapa yang menyuarakan. Sebaliknya, individu tidak hanya akan melihat, mendengar, dan mengamati siapa yang menyuarakan ketertindasan tersebut, melainkan juga bagaimana individu/komunitas yang menyuarakan tersebut terkait dengan posisi ideologi yang dimiliki, kelas yang ditempati, dan status sosial yang sekarang sedang diemban. Ini karena, tiga pertautan ini tetap menjadi bagian penting untuk melihat sejauhmana menyuarakan kelas tertindas itu memiliki dampak penting tidak hanya bagi korban melainkan juga bagi pembawa suara obor pembelaan tersebut.

Dengan cara ini, setidaknya setiap individu akan mengerti sejauhmana upaya pembelaan tersebut akan berdampak terhadap adanya ruang korban untuk bersuara lebih luas atau itu justru meningkatkan nilai lebih dari sarjana/intelektual/aktivis yang menyuarakan tersebut, yang memungkinkan dirinya memiliki kapabilitas untuk naik kelas ke jenjang posisi privilege lebih tinggi. Transformasi kelas ini sangat memungkinkan di tengah suara-suara akademisi dan intelektual dunia pertama yang selama ini dianggap memiliki dosa bawaan, mengingat mereka memiliki beban sejarah yang sebelumnya secara inheren ada dalam identitasnya seiring dengan kolonisasi di masa lalu.

Dalam konteks Indonesia, persoalan menyuarakan suara-suara tertindas ini menjadi semakin rumit di tengah instabilitas ekonomi yang dimiliki oleh para sarjana dan intelektual Indonesia, termasuk aktivis sosial, yang selama ini bergantung kepada tiga hal; dukungan negara kepada Aparatus Sipil Negara, khususnya mereka yang memiliki profesi sebagai peneliti atau dosen, dukungan oligarki yang menopang karier intelektualnya untuk mempublikasikan karya-karya terbaik di ruang publik, dan aktivis sosial yang selama ini bergantung kepada donor internasional sehingga tindakan pembelaannya harus mengikuti skema pembelaan donor, yang tidak sepenuhnya membela kepentingan lokal.

Baca Juga  Ulama Perempuan dalam Panggung Sejarah

Namun, terlepas dari tiga hal tersebut, peristiwa yang terkait dengan Spivak ini menjadi cerminan kepada siapa saja yang menyuarakan suara mereka yang tak bersuara. Ini karena, artikulasi suara representasi atas nama mereka yang tertindas selalu menyisakan ruang subversif bagi publik untuk terus bertanya-tanya dibalik pembelaan individu dan komunitas akademik, intelektual, dan aktivis sosial tersebut. Pertanyaan subversif tersebut adalah; apakah ia sedang membela suara-suara tertindas atau sedang membela dirinya dengan cara yang berbeda. Pertanyaan ini bisa menjadi bagian dari interogasi diri terus-menerus saat kita ingin menyuarakan mereka yang tak bersuara; Apakah ada pamrih dalam pembelaan ini? Jika ada, sejauhmana rasa pamrih itu bisa diminimalisir sekuat-kuatnya? Dengan cara ini setidaknya kita memiliki rasa empati yang kuat kepada mereka yang tak bersuara dengan membangun komitmen dan prinsip diri secara kuat untuk tegak di atas prinsip sendiri.   

Bagikan
Post a Comment