f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mahasiswa

Bangkitlah‌ ‌Gerakan‌ ‌literasi‌ ‌Mahasiswa

‌ Wahai mahasiswa, gerakan apa yang kau inginkan? Pengajaran, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya  dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah gerakan di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem kejam ini?” (viktor Serge, Bolshevik)

Tulisan ini hanya menjadi saksi bisu yang di atasnya terekam banyak jejak kaki. Kaki kawan-kawan muda yang dipimpin oleh kapten bergelar mahasiswa. Mahasiswa yang menyimpan, kritik, amarah dan protes.

Hal ini sering terjadi pada pemimpin yang mudah sekali dalam memutus lidah rakyat. Salah satunya dengan kekuasaan yang mengabaikan keadilan dan membunuh kesejahteraan. Mengapa engkau (mahasiswa) tak menulis semua itu? Atau kalian tidak bisa menulis kalau temanya masyarakat yang tertindas, tergusur, dan tenggelam ditelan hukum?. Siapa yang seharusnya menulis semua ini? Tanpa rasa takut dan di sertai senyum lebar penuh keikhlasan.

Panggung Literasi

Literasi kini telah mati. Literasi dilupakan sebagai panggung. Ketergantungan dan kelaparan kita terhadap media, memaksa kita membaca dari portal-portal yang non idealis, bahan yang ditunggangi oleh kuda-kuda politik yang hitam pekat. Namun demikian terdapat ketergantungan pada ekonomi, tingginya hutang ke luar negeri sampai mahalnya biaya pendidikan pun masih terjadi. Semua itu meringkas suara-perlawanan dan gagasan menjadi ringkasan bongkahan batu yang diam dan sebenarnya mati.

Melalui sistem yang berpatokan pada jual-beli pendidikan, di mana yang berkantong tebal dialah yang berhak menulis, mengikuti Lomba-lomba, berkata semua disiplin ilmu beserta motivasi-motivasi emasnya. Padahal semua itu tidak bersama dengan gerakan apalagi perlawanan. Omong kosong ! “kaburo maqtan ‘indallohi an taquuluu maa laa taf’aluun”( sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan) ~Qs. As-Saff 61: Ayat 3)

Baca Juga  Guru Belajar Menulis, Kenapa Tidak?

Sepertinya selama ini terlihat apa menjadi kecemasan umum, kesenangan dan akumulasi. Mereka yang miskin jangan belajar, biarlah yang kaya belajar dengan nyaman. Jutaan ketidakadilan yang sepertinya sudah tersebar banyak tempat demikian pula yang terjadi di tempat mereka, saya dan anda.

Kemudian lapangan pemaksaan, penggusuran dan penipuan yang terjadi di publik secara jelas; tidak mampu menggerakkan pena kita untuk menulis satu paragraf hamparan kesenjangan di atas. Padahal jika pena kita menulis dengan protes dan perlawanan, akan mencuat sikap yang selama ini langka: membalikkan kedaulatan ke tangan rakyat dan hancurkan topeng satria palsu itu! Hancurkan piramida ekonomi yang memberi hak istimewa pada mereka yang berpunya.

Menyoal tentang Literasi

Hal yang perlu dicatat dalam sebuah literasi bukan hanya sekedar apa yang ditulis serta dibaca. Begitupun juga bukan hanya yang berisi sampul yang berwarna-warni, akan tetapi di dalamnya juga berisi rekaman langkah, keringat, bahkan dengan suara lantang yang mendengungkan keadilan untuk rakyat. Mari kita mengingat suara peluru yang berahmburan dan menumpas nyawa banyak mahasiswa yang bersimbah darah di dada dan tercecer di jalanan.

Adakah kawan mahasiswa menulis kekecawan? Ada yang membuat vlog tantangan kepada oknum bengis tersebut? Ada ? Sebutkan kawan! Jangan diam membatu. Tidak hanya berhenti sampai peluru, penculikan, melakukan aksi teror dengan senyap di media dengan mengintimidasi mahasiswa yang sedang menyuarakan perlawanan. Kini ada yang menulis hal tersebut di beranda media sosial pribadi, atau lebih ekstrem mengirim berita tersebut ke meja redaksi koran? Jawaban yang nyata sebenarnya hanya ada dua. Yaitu pertama mengirim, namun tidak di publikasikan dan kedua tidak mengirim, tidak mau tahu, dan memanglah sebenarnya apatis.

Baca Juga  Kuota, Makanan Pokok Baru Generasi Milenial
***

Pasti muncul di benak kita, kenapa harus ditulis? Kenapa media harus tahu? Kenapa para orang kaya dan elit harus menerima notifikasi ketidakadilan ini? Bukannya mereka akan menertawakan dengan lantang dan riang. Mari kita jawab, bila mereka tertawa atas ketidakadilan yang ia lahirkan dari rahim-rahim kepentingan. Lalu apakah itu akan menghalangi kita untuk berbahagia? Tertawa bersama teman-teman, beserta tetangga dan keluarga? Sejatinya mereka ingin melupakan dan tidak mau dibilang ini tidak adil.

Tapi mari kita lihat para korban pelanggaran HAM berdiri bisu menggelar Aksi Kamisan. Mereka mengekalkan jemari, mengerutkan dahi dan mematung di depan pagar istana. Ingatan mereka kini masih sangat kuat. Terkait wakil rakyat dan kekuasaan yang tak bisa kita hapus dari jejak dusta dan kekejaman. Tamparan-tamparan penguasa kepada rakyat, bekasnya tak bisa hilang begitu saja atau ditutupi dengan bedak-bedak janji belaka. Mereka ingin melawan lupa(mahasiswa, aktivis, buruh dan lain-lain yang melawan). Sedangkan kekuasaan berusaha untuk melupakan kekejamannya. Bagi mereka, kekuasaan telah bolos dan lupa telah berkhianat pada amanah, justru berkhidmat pada kekayaan semata.

Seperti Apa Pergerakan yang Nyata?

Begitulah rekaman kondisi bangsa di jalanan. Sehingga klihatannya seperti nyata dan menikam, namun hal tersebut bisa menggelorakan semangat dalam sebuah perjuangan dan pergerakan. Akan terlihat sia-sia jika perbuatan ini tidak dibungkus oleh literasi yang apik dan ciamik. Karena hanya menarasikan perjuangan perlawanan yang tanpa pamrih dan hanya mengharap keadilan di tanah yang penuh penindasan.

Mari Menulislah kawan!

Jika dirasa berat untuk mengacungkan tangan lebih awal maka haruslah berani menantang dinasti kerakusan itu.

Bungkam itu penindasan.  Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelaskan. Selanjutnya tulisan ini bertujuan untuk menggerakkan gerak-gerak nafas pada literasi. Mahasiswa harus ada usaha untuk memberi inspirasi, menebar contoh dan mencetuskan keyakinan. Inspirasi muncul melalui serangkaian kisah atau kutipan banyak pejuang. Maka sebuah pesan seru: waktunya mahasiswa bergerak lantang menentang para durjana. Marilah kita bangkitkan lagi keberanian yang lama terkubur dan sampaikan pesan tegas pada rihlah massa: waktunya kita bangkit melawan!!

Baca Juga  Pemuda Pewaris Tampuk Pimpinan Umat

Editor : Amanat Solikah

 ‌

Bagikan
Post a Comment