f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perlawanan kartini

R.A. Kartini: Ingatan yang Direduksi, Perlawanan yang Dibungkam Zaman (Sebuah Refleksi untuk Hari Kartini, 21 April 2026)

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April menjadi sebuah momentum untuk mengenang jasa R.A Kartini atas perjuangannya untuk hak-hak perempuan. Hari Kartini umumnya diperingati dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari sekolah hingga tempat kerja. Di lingkungan sekolah, misalnya, kita diajak untuk merayakan hari kartini dengan mengenakan kebaya dan sanggul, sebagai simbol perempuan.

Namun, peringatan tersebut tidak seharusnya berhenti pada simbol semata. Memperingati hari kartini seharusnya bisa membawa kita pada pemaknaan yang mendalam tentang bagaimana Kartini pada masa itu memperjuangkan hak-hak perempuan, melawan feodalisme Jawa, hingga kritik terhadap ketimpangan kelas sosial.

Mengenal Kembali Kartini: Sebuah Perlawanan dari Kamar Pingitan

Raden Ajeng Kartini, lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879, sebagai seorang bangsawan perempuan Jawa. Tumbuh dalam lingkungan bangsawan Jawa yang sarat aturan, membuat Kartini sangat dikekang oleh norma sosial yang berlaku. Kartini harus mengikuti standar untuk menjadi seorang “perempuan” harus bersikap, berpikir, dan menjalani hidupnya

Budaya patriarki dan feodalisme Jawa yang sangat mengakar erat pada saat itu menghadapkan kartini dengan sistem yang membatasi ruang geraknya. Meskipun saat kecil ia memiliki privilege untuk bisa belajar membaca dan menulis, kebebasan itu berhenti ketika ia remaja dan harus masuk pingitan. Sebuah tradisi yang membatasi dan memutus akses perempuan terhadap dunia luar dan pendidikan.

Meskipun begitu, Kartini tidak memilih diam dalam kungkungan ruang gerak yang sempit. Kartini justru membangun sebuah perlawanan melalui pemikirannya. Ia membuka pikirannya melalui buku, majalah, dan surat kabar yang ia baca. Dalam kamar pingitan, diam diam Kartini belajar tentang pemikiran Eropa, tentang kebebasan, sistem pendidikan, dan posisi perempuan.

Melalui sahabat penanya, Stella Zeehandelaar, Kartini menulis dan membagikan pemikiran dan kritiknya terhadap kondisi perempuan Jawa pada saat itu. Hal tersebut membuka ruang dialog intelektual baginya. Kartini menunjukkan bahwa menulis merupakan bentuk dari sebuah perlawanan. Melalui pena, gagasan Kartini menembus dinginnya kamar pingitan. Membawa harapan untuk nasib perempuan perempuan pribumi.

Baca Juga  Memaknai Syukur dari Sudut Pandang yang Lain

Tidak banyak yang sadar bahwa Kartini sejatinya merupakan sosok yang berani melawan kelas sosial dan feodalisme Jawa. Ketika ia harus menikah dengan Bupati Rembang, Kartini menolak untuk mengikuti prosesi berjongkok dan membasuh kaki suaminya. Sebuah tradisi yang sarat makna akan ketundukan perempuan terhadap laki – laki. Penolakan tersebut bukan hanya sikap personal, melainkan simbol perlawanan terhadap tatanan feodalisme Jawa. Hantaman keras terhadap budaya yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Budaya yang pada akhirnya akan membatasi ruang gerak, kehendak, dan martabat perempuan sebagai seorang manusia utuh. Kartini tidak hanya menolak prosesi, tapi mendobrak sistem dan kelas sosial yang timpang.

Pernikahan tidak menghentikan cita – cita Kartini untuk memperbaiki nasib perempuan pribumi. Pada tahun 1903, ia mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi di Rembang. Meskipun masih bersifat non formal, sekolah ini menjadi bukti keberanian Kartini untuk melangkah dan mengubah nasib perempuan pribumi. Setelah Kartini wafat, surat suratnya mulai dihimpun dan diterbitkan di Belanda oleh J. H. Abendanon pada tahun 1911. Buku dengan judul Door Duisternis tot Licht yang berarti “Habis Gelap Terbitlah Terang”, mulai dikenal dan menjadi inspirasi bagi perjuangan hak hak perempuan khususnya di Indonesia.

Konstruksi Citra Kartini: Dari Perlawanan ke Perayaan Simbol

Citra Kartini yang berani mendobrak sistem sosial ini seakan perlahan hilang ditelan waktu. Tergantikan dengan citra Kartini sebagai Raden Ajeng dan bangsawan Jawa yang ayu dan anggun. Sementara, sisi perlawanan dan kritis nya perlahan kian terpinggirkan.

Proses reduksi citra Kartini ini tidak terjadi begitu saja, tapi melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang. Masa Orde Baru menjadi salah satu timeline paling berpengaruh dalam konstruksi baru citra Kartini. Negara turut berperan dalam menghadirkan Kartini sebagai perempuan Jawa yang ideal, anggun, patuh, dan lembut.

Baca Juga  Siap Mendapatkan, Siap Kehilangan

Memang benar bahwa narasi Kartini sebagai pejuang hak perempuan dengan mendirikan sekolah bagi perempuan tetap dihadirkan. Namun, narasi tersebut disederhanakan dan dipisahkan dari konteks perjuangan yang lebih luas. Perlawanan Kartini terhadap ketimpangan sosial, feodalisme, dan patriarki tidak pernah menjadi sorotan utama. Seolah olah membuat sekolah perempuan adalah hal yang mudah dalam tatanan dan ruang yang aman.

Kartini tidak hanya dikekang, ia “dibentuk ulang” sesuai dengan kepentingan zaman. Membentuk citra Kartini agar lebih mudah diterima masyarakat, dan memisahkannya dari sosok perempuan Jawa yang melawan melalui tulisannya dan berpikiran kritis.

Oleh karena itu, generasi muda saat ini hanya memaknai Hari Kartini sebatas simbol dan ikon budaya. Kita kerap melupakan Kartini sebagai sosok yang pikiran kritisnya melampaui batas zaman. Perayaan Hari Kartini saat terkungkung simbol, menggunakan kebaya, sanggul, dan berdandan mengikuti foto foto Kartini. Tidak ada pemaknaan pada esensi perjuangan Kartini dalam menggugat ketimpangan sosial bagi perempuan.

Melanjutkan Perjuangan Kartini Hari Ini

Masyarakat saat ini harus sadar bahwa mengenang Kartini tidak cukup hanya dengan kebaya dan sanggul. Kita harus sadar bahwa Kartini memiliki proses perjuangan yang panjang dalam menyuarakan pikiran. Tentang kebebasan, pendidikan, dan ketimpangan sosial.

Di tengah modernitas ini, perjuangan tersebut rasanya malah semakin relevan. Perempuan masih dihadapkan oleh banyak sekali permasalahan sosial: kekerasan, femisida, objektifikasi, pembatasan akses, konstruksi sosial, hingga domestifikasi yang menuntut agar perempuan dapat diterima oleh standar masyarakat. Patriarki dan sistem kelas sosial yang dahulu dikritik oleh Kartini tidak sepenuhnya hilang, ia berubah wujud menjadi hal yang terkesan lebih normal. Perjuangan belum sepenuhnya selesai, perlawanan harus berlanjut dalam tantangan dan ruang yang baru.

Baca Juga  Perempuan dalam Tawanan Tradisi Timur dan Budaya Barat, Harus Bagaimana?

Kartini tidak hadir untuk sekadar dikenang, perjuangannya harus terus dilanjutkan. Ia butuh lebih banyak perempuan yang berani menjadi manusia merdeka, menyuarakan pemikirannya, dan melawan ketidakadilan.

Seperti sebuah ungkapan ikonik dari film Kartini (2015) karya Hanung Bramantyo: “Tubuh Boleh Terpasung, Tapi Jiwa dan Pikiran Harus Terbang Sebebas – Bebasnya”.

Selama perjuangan perempuan masih tumbuh di bumi Indonesia, selama itulah juga Kartini tidak akan pernah benar benar pergi.

Bagikan
Post a Comment