f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kartini perempuan jawa

Kartini : Perlawanan Perempuan Jawa

Kartini adalah ambivalensi kata Goenawan Mohamad. Ia berada pada posisi sebagai korban sekaligus seorang pembangkang. Pembangkangan Kartini bermula karena ia dipingit (dikungkung) untuk dipaksa menerima takdir yang tidak bisa ia tolak (termasuk poligami yang ia tak setujui). Ia kemudian tercerahkan dengan bekal literer yang ia miliki dan mendobrak dengan tulisan-tulisannya. Saya tak membayangkan seandainya Kartini senasib dengan perempuan bumiputera kala itu. Seandainya ia tak mengenali huruf-huruf itu, ia tak bakal menulis seindah itu. Ada rasa syukur yang mendalam saat Kartini mendapati fasilitas, kemewahan yang tidak dinikmati oleh kaum perempuan bumi putera lainnya. Kehadiran surat kabar yang ada di setiap harinya, majalah yang bertumpuk, serta buku bacaan yang menjumpainya. Bupati Sosroningrat dan Sosrokartono mendatangkan leestrommel atau kotak bacaan untuk Kartini sebagai pelipur lara karena dipingit (Arbaningsih, Dri, 2005: 24).

Kartini dibesarkan dalam keluarga Jawa. Keluarga yang masih kental dengan nilai-nilai kejawaannya. Sebagai seorang anak pejabat di masa itu, Kartini mendapati keluarga yang peduli pada aspek kebudayaan dan pendidikan kesenian. Gamelan yang hadir di setiap malam kala itu bukan hanya dipandang sebagai sebuah ekspresi kebudayaan, namun juga satu kekayaan yang menyentuh hati. Gamelan kata Kartini—membawa ketenangan jiwa.

Orang Jawa sangat memahami musik sebagai medium untuk menenteramkan batin, menenangkan pikiran, dan juga membuat sikap seorang Jawa menjadi terkontrol dalam amarahnya. Apa yang didapat Kartini ini membentuk jiwanya yang semakin hari kian matang. Melalui ruang dalam kamarnya, ia memberikan suaranya berjuang melalui tulisan-tulisannya berbekal dari apa yang menjadi asupan bacaan-bacaannya.

Melawan

Tradisi Jawa bagi kaum perempuan di masa lalu sungguh menyakitkan. Menjadi perempuan Jawa di masa lalu dirasakan Kartini sebagai situasi yang sangat sulit. Tidak banyak perempuan yang melawan tradisi yang ada di waktu itu. Seperti surat yang ditulis Kartini kepada Stella Zeehandelaar, bertarikh 23 Agustus 1900 ia menulis, “jalan kehidupan gadis Jawa itu sudah dibatasi dan diatur menurut pola tertentu. Kami tidak boleh punya cita-cita. Satu-satunya impian yang boleh kami kandung ialah hari ini atau esok dijadikan istri seorang pria yang kesekian!.”

Baca Juga  Mama : Malaikat Dunia

Keadaan yang menghimpitnya serta kondisi jiwanya yang penuh tekanan akibat nasib yang akan dideranya kemudian hari membuat Kartini melawan dengan membaca dan menulis. Dalam kegiatan membaca dan menulis itu, ia tidak hanya merenungkan nasibnya sendiri, tapi juga merenungi nasib perempuan bumi putera kala itu. Apa yang ia alami, tidak ingin terjadi pula pada seluruh perempuan bumi putera.

“Peradaban harus diserahkan kepada wanita”, tulis Kartini. Kesadaran akan peranan dan tanggungjawab wanita membuat Kartini menyadari bahwa ia memikul peranan besar sebagai seorang yang telah tersadarkan dari buku-buku dan surat kabar yang ia baca.

Kesadaran Kartini paling pokok setelah mengetahui persoalan masyarakatnya di masa itu; serta memahami problem masyarakat di waktu itu, ia justru melawan dengan cara orang Jawa. Kartini melawan dengan menulis dan menuangkan buah pikirannya di media massa meskipun menggunakan nama samaran.

Ia memahami bahwa jalan untuk lepas dari kungkungan adat istiadat yang menyakiti kaum perempuan seperti tradisi pingit dan poligami adalah dengan memberikan ilmu pengetahuan kepada kaum (perempuan) Jawa.

Kartini meyakini, dengan pendidikan dan mempelajari bahasa Belanda kala itu; maka orang Jawa dapat mengikis sikap dan mental inlander serta melepaskan diri dari adat istiadat yang menindas.

Ada keberanian yang disimpan dalam dada Kartini di masa itu, sekaligus rasa sungkan saat yang hendak ia lawan adalah sistem yang dijalankan oleh ayahnya sendiri. Sebagai perempuan Jawa yang kental, ia tak hendak melawan ayahnya sendiri. Apa yang Kartini pikirkan semula memang urusan poligami, tapi ia melihat dan melawan dengan memandang ke depan. Ia ingin menjadi ibu yang baik dan memberi teladan yang baik untuk anaknya dan juga kaum perempuan bumi putera.

Baca Juga  R.A Kartini dan Kesetaraan Pendidikan

Dengan begitu, apa yang dilakukan Kartini adalah sebuah permulaan. Perempuan bumi putera di masa itu, selain tidak memiliki fasilitas dan kemampuan seperti Kartini; mereka masih berfikir panjang akan nasib dirinya atau bahkan keluarganya saat melakukan perlawanan. Ada semacam kemewahan yang didapatkan dari Kartini sebagai seorang anak pejabat sehingga ia bisa lebih berani dan terhindar dari resiko lain ketimbang seorang warga biasa.

Apa yang ia baca menuntunnya menyuarakan suara hatinya. Perlawanannya juga khas seorang perempuan Jawa. Christina S. Handayani dan Ardhian Novianto dalam bukunya Kuasa Wanita Jawa (2004) menulis bahwa kekuasaan perempuan Jawa terletak pada—cancut tali wanda. Dalam konsep cancut tali wanda, perempuan Jawa terlibat, mengambil peran sebagai komando, dan taktis menghadapi masalah; tidak hanya dalam ide, tapi juga pengambilan keputusan mengenai langkah yang akan ditempuh, tapi juga dalam pelaksanaannya. Kesediaan ini didorong karena kesediaan perempuan berkorban untuk anak, suami dan kepentingan orang lain, bukan hanya kepentingan dirinya.

Penderitaan yang dialami Kartini, serta usahanya untuk melakukan perlawanan melalui tulisan-tulisannya didorong oleh konsepsi cancut tali wanda. Kartini menempuh jalan penderitaannya untuk membuka pintu bagi masa depan. Jalan pengetahuan bagi kaum perempuan melalui pendidikan di wilayah kolonialisme telah membuka lapangan yang terang menuju kemerdekaan.

Bagi Kartini, ia telah memperjuangkan lebih dari soal perlawanan terhadap kolonialisme, tapi juga persamaan, kesetaraan antar manusia, serta menghapus mental inlander (inferior) di kalangan rakyat kita. Perjuangannya telah menggugah dan memberi dampak besar bagi kesadaran (terutama) kaum perempuan bumiputera akan nasib dan keadaannya yang lama tertindas oleh kolonialisme maupun kungkungan rezim patriarki.

Bagikan
Post a Comment