f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mayong perempuan kartini

Para Kartini di Pabrik-Pabrik Mayong

Jika kalian hendak ke Jepara melewati rute Demak-Kudus, kalian pasti akan melewati sebuah jalan raya yang terletak di perbatasan Kudus-Jepara. Di sepanjang jalan raya itu, terhampar luas sawah yang masih rimbun, tak lama kemudian kalian akan melihat sebuah pasar lokal dengan dua lantai, dan sesaat kemudian kalian akan melihat pabrik-pabrik berjejeran. Itulah Mayong, desa kelahiran pahlawan emansipasi wanita yang banyak kita ketahui, R.A Kartini.

Tanah Kelahiran dan Jejak yang Terlupakan

Orang-orang hanya memahami bahwa R.A Kartini dari Jepara. Rumahnya dan tempatnya dipingit berada di Kantor Bupati Jepara. Makamnya berada di Rembang. Namun tak banyak yang tahu, beliau sendiri lahir di desa Mayong, 25 km dari Kantor Bupati Jepara. Wilayah tempatnya lahir kini menjadi kantor Kecamatan Mayong. Di situ diabadikan Monumen Ari-Ari Kartini, tempat di mana plasenta bayi Kartini dikuburkan.

Berabad-abad setelah kelahirannya, Mayong kini tumbuh menjadi wilayah dengan sentra ekonomi yang maju. Pabrik-pabrik garmen asal Jepang dan Korea berlomba-lomba tumbuh di tanah Mayong. 

Geliat Ekonomi dan Pergeseran Status Sosial

Kehadiran pabrik-pabrik garmen itu menjadi titik balik kemajuan ekonomi serta sosial di Mayong. Karena pabrik-pabrik itu banyak mempekerjakan perempuan — yang ‘dinilai’ identik dengan garmen, tekstil dan busana — akhirnya para perempuan Mayong dan wilayah Jepara lainnya berbondong-bondong bekerja di sana.

Oh, bukan hanya perempuan Jepara, bahkan perempuan-perempuan dari Demak, Kudus, Rembang dan kota-kota sekitar Jepara, ikut merantau dan mengadu nasib di pabrik-pabrik Mayong. Terakhir kali kudengar, ada perempuan dari luar Jawa ikut bekerja di pabrik garmen itu.

Dari kumpulan perempuan pabrik itu, warga sekitar pabrik ikut mengambil kesempatan. Tumbuhlah deretan usaha kos-kosan putri, rumah makan fancy, kedai kopi, sampai toko-toko fashion terkini. Bahkan lapak sayur dan daging ikut menyambut para perempuan garmen di halaman depan pabrik, menunggu para ibu atau survivor kostan membeli dagangan mereka.

Awalnya kecil-kecil saja, lama-lama merebak ke mana-mana. Bukan hanya ke aspek ekonomi, tetapi juga ke lingkup sosial. Para perempuan pabrik itu digaji jauh lebih layak dari para lelaki di industri tanah liat di Mayong. Melalui gaji itu, mereka bahkan mampu membeli status sosial. Motor NMAX, iPhone, tas-tas luxury brand, bahkan melanjutkan pendidikan, mereka gunakan uang hasil kerja keras mereka sendiri di pabrik garmen.

Baca Juga  Subordinasi Gender Bukan Solusi
Benturan Stigma di Balik Gerbang Pabrik

Soal status sosial para perempuan pabrik ini masih menjadi perdebatan di wilayah perdesaan semacam Mayong. Secara, sebelum pabrik-pabrik itu datang, Mayong hanyalah desa terpencil, daerah perbatasan. Perempuan Mayong dari abad ke abad hanya memercayai siklus kehidupan lahir-sekolah-menikah-punya anak-meninggal. Bahkan perempuan dianggap tidak perlu sekolah, karena pendidikan yang diperlukan hanyalah pendidikan memasak, menjahit dan mengurus rumah.

Mereka meyakini bahwa pekerjaan di luar rumah hanya dilakukan oleh lelaki. Penghasilan yang diberikan, sesedikit apapun, mereka yakini sebagai berkah bagi keluarga, meskipun penghasilan itu hanya bisa menyediakan sepiring nasi dan garam saja.

Banyaknya perempuan bekerja di Mayong membuat stigma itu bergeser cukup jauh. Para patriarkis dan misoginis di Mayong pasti tak akan pernah menduga fenomena ini akan terjadi. Kehadiran pabrik dan bangkitnya kembali emansipasi wanita di zaman sekarang membuat perempuan Mayong akhirnya meyakini, bahwa ada kehidupan untuk mereka yang jauh lebih baik di luar rumah sana.

Para perempuan pabrik di Mayong juga kerap mendapatkan sentimen warga setempat. Karena dilihat sudah bisa memiliki segalanya, dan karena diliputi oleh budaya kerja garmen yang cukup keras, mereka dianggap nakal, sembrono, dan tidak taat aturan.

Seorang ibu yang bekerja di pabrik mendapatkan respons yang cukup keras di posyandu, padahal dia hanya ingin mendaftarkan bayi kecilnya periksa. Aku — yang bahkan tidak bekerja di pabrik — mendapatkan tatapan tajam dari ibu-ibu pemilik warung seblak yang ada di sekitar pabrik, barangkali melihat sosok perempuan muda di wilayah sekitar pabrik saja sudah membuat mereka berang.

Menghidupkan Kembali Cahaya Kartini

Di sisi lain, Kartini lahir di desa itu. Terlepas dari di mana ia akhirnya tumbuh besar, pada hakikatnya cahaya kebebasan perempuan lahir di desa Mayong. Barangkali begitu Kartini pindah ke pusat kota Jepara begitu ayahnya diangkat jadi bupati, cahaya itu meredup begitu sama di Mayong. Awalnya kupikir begitu. Namun melihat pertumbuhan sosial para perempuan Mayong akhir-akhir ini, aku malah merasakan cahaya itu muncul lagi. 

Baca Juga  Kartini: Dari Feminisme, Kemanusiaan, Kebudayaan, Hingga Pendidikan

Perkembangan ekonomi dan sosial-politik negara yang merosot membuat Mayong harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras. Ketertinggalannya dalam banyak aspek membuatnya harus berlari lebih kencang. Namun yang kulihat banyak berlari dan bekerja lebih keras di Mayong adalah perempuan. 

Para perempuan pabrik itu rata-rata memulai pekerjaan mereka sejak lulus SMA, alias berusia sekitar 18 tahun. Usia itu adalah usia yang prima untuk mewujudkan impian, mengenyam pendidikan tinggi, atau bergaul dengan teman-teman sebayanya. Namun mereka memilih untuk bekerja, demi kesejahteraan diri mereka sendiri atau keluarganya. 

Banyak cerita tentang perempuan pabrik yang ternyata adalah kepala keluarga di rumahnya, sementara laki-laki di rumahnya lah — yang masih sehat walafiat dan produktif untuk bekerja — yang menerima hasil kerja kerasnya. Ada yang akhirnya bekerja di pabrik setelah sekian lama menjadi ibu rumah tangga, untuk membayar utang-utang suaminya. Sementara sang suami sendiri tidak memiliki penghasilan yang stabil untuk membayar pinjamannya yang sembarangan ke mana-mana itu.

Ibuku adalah guru di salah satu sekolah Islam di Mayong. Kebanyakan ibu dari murid-muridnya adalah ibu-ibu pekerja di pabrik. Mereka masih harus memasakkan sarapan untuk anak dan suami mereka pagi-pagi, untuk kemudian berangkat bekerja. Lantas menjemput anak pulang sekolah, lalu memasak lagi untuk makan malam keluarga.

Para perempuan pabrik adalah perempuan pejuang. Mereka yang akhirnya menegakkan kembali rumah-rumah mereka setelah sekian lama tumbang di tangan lelaki yang mereka percayai. Mereka yang akhirnya keluar rumah dan berjuang untuk melawan nasib buatan patriarki yang selama ini mereka yakini. Dan mereka bekerja bukan untuk gengsi, bukan untuk mendapatkan tunduk takzim dari pacar atau suami, tetapi mereka hanya ingin hidup yang layak untuk diri mereka sendiri. 

Baca Juga  Flexing Kurban di Media Sosial: Antara Syiar dan Riya?

Inilah jiwa-jiwa Kartini yang tumbuh kembali di Mayong. Tumbuh subur, merambat, berbunga dan berbuah di setiap sudutnya. 

Tulisan ini tidak untuk menafikan kerja keras para lelaki Mayong. Hormatku pada para lelaki Mayong yang pekerja keras dan bertanggung jawab, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga mereka. Hormatku pula pada para lelaki Mayong yang melebur dengan baik kepada pertumbuhan sosial para perempuan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi di desa ini.

Tulisan ini adalah sebentuk keprihatinan terhadap sentimen masyarakat Mayong terhadap perempuan, khususnya perempuan pabrik. Tulisan ini kubuat sebagai penghormatan bagi para perempuan pabrik di Mayong yang telah berjuang untuk keluarga mereka.

Mereka hanyalah perempuan yang mendambakan sepiring makanan yang layak sepulang bekerja. Mereka hanyalah perempuan yang ingin hidup untuk diri mereka sendiri. Dan mereka hanyalah perempuan; manusia yang juga ingin hidup sejahtera dan setara dengan masyarakat di sekitarnya.

Mereka tidak nakal, sembrono, atau tidak taat aturan. Mereka hanya mulai mengenal jati diri mereka sendiri di tengah stigma perempuan desa mengungkung mereka selama ini. Pun mereka tidak ingin mengalahkan siapapun; mereka hanya ingin mengalahkan kemiskinan dan keburukan nasib. Mereka bekerja hanya demi kehidupan yang lebih baik.

Jiwa titisan Kartini tidak melulu yang cerdas, anak bupati, atau yang bisa berbahasa Belanda sepertinya. Karena sejatinya, jauh sebelum Kartini bersandingkan label-labelnya saat itu, Kartini adalah perempuan pejuang. Kartini adalah pembongkar stigma patriarkis di negara ini. Kartini adalah pembebas nasib para perempuan desa. Nilai-nilai ini yang hidup di dalam sanubari setiap perempuan pabrik di Mayong, bukan?

***

Bagikan
Post a Comment