f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menolak kekerasan

Menolak Bukan Dosa: Berhenti Mewajarkan Kekerasan Atas Nama Cinta

Satu kata sederhana yakni “tidak”, nyatanya nggak sesimpel itu bagi perempuan karena dari kata “tidak” yang terlontar justru dapat berujung pada ancaman, teror, kekerasan bahkan kematian. Banyak kasus yang terjadi hanya karena perempuan menolak, seperti yang terjadi pada perempuan mahasiswi UIN Suska Riau yang hampir kehilangan nyawanya sebab menolak laki-laki teman kelompok KKN nya.

Terlepas dari kejadian yang menimpa korban, banyak komentar justru menyerang korban karena perilakunya sebelum peristiwa itu terjadi, yang membuat tindakan pelaku seolah diwajarkan. Padahal perlu dipertanyakan sejak kapan penolakan itu dianggap sebuah penghinaan yang layak dibalas dengan kekerasaan?

Komentar-komentar yang memberikan ruang pembenaran bagi kekerasan mau sekecil apapun itu berarti turut melanggengkan budaya yang berbahaya yang menganggap perempuan hanya sebagai objek kepemilikan bukan individu utuh yang punya hak atas dirinya sendiri.

Penolakan Itu Hak, Bukan Suatu Kejahatan

Dalam relasi apapun, persetujuan (consent) merupakan fondasi, oleh karena itu penolakan adalah sebuah hak setiap masing-masing individu. Sehingga ketika mendapat penolakan harusnya ada sebuah penerimaan bukan pemaksaan, apalagi sampai terjadi kekerasan.

Sayangnya, di masyarakat patriarkal kita sering memberi stigma kalau perempuan yang menolak itu terlalu pemilih, nggak tahu diri dan kurang bersyukur. Sementara laki-laki nggak diajarkan untuk menerima rendah hati apapun keputusan seseorang yang ia sukai,  malah kerap kali yang memaksa justru dipersepsikan sebagai si yang paling berjuang, gigih, romantis dan patut kita kasihani.

Seperti dalam komentar-komentar yang saya temukan di aplikasi Tiktok maupun media sosial yang serupa, seringkali bermunculan kalimat sebagai berikut:

“Sebenarnya jadi Reyhan (Pelaku) itu jauh lebih sakit gak sih? ngerasa dikecewakan ketika sudah memberikan yang terbaik, apalagi katanya Fara (korban) sampai ngejek orang tuanya, Faranya gak bersyukur.” – @thebarbieprinces –

“Bukan obses si kataku ma mungkin karena udah seperti dikasih harapan wajar cowoknya baper, coba kalau dari awal jangan begitu ini sih raihan lebih ke sakit hati kayaknya”.

 – @enshop –

Komentar tersebut malah menunjukkan bahwa emosi pelaku dalam hal ini laki-laki didahulukan dari pada kejadian yang telah pelaku perbuat. Kita sibuk mempertanyakan alasan sekaligus menyalahkan korban sebelum kejadian, tapi luput menghakimi pelaku yang tak bisa mengendalikan dirinya hingga melakukan kekerasan dan hampir membuat nyawa orang menghilang.

Baca Juga  Saat Cinta kepada Istri Berkurang

Membaca komentar dengan mayoritas menyalahkan korban ini menandakan kalau kekerasan terhadap perempuan kerap kali diwajarkan dan perempuan akan selalu hidup dalam lingkungan yang tak aman serta serba salah.

Perlu ditekankan kembali, mari kita berhenti mengomentari perilaku korban sebelum peristiwa terjadi yang justru akan membuat pelaku merasa perbuatannya benar, apalagi membela, memuji serta mendahulukan perasaannya, sebab laki-laki yang punya otak juga baik tidak akan melakukan kekerasan dalam hal apapun. Nggak ada yang pantas dilukai, justru pelaku yang tak bisa mengendalikan diri serta merasa bahwa dia berhak melakukan seenaknya ketika ia tertolak.

Perempuan dijaga, Laki-laki terus dimaklumi

Perempuan sedari kecil diajarkan untuk menjaga diri, tidak boleh pulang malam, harus menjaga cara berbicara, punya sikap dan tata krama, juga harus menjaga cara berpakaian. Sedangkan laki-laki jarang kita ajarkan cara mengelola emosi, menerima penolakan, menghormati batasan, dan tidak memandang perempuan sebagai objek kepemilikan. Hal ini dipengaruhi oleh budaya patriarki yang telah mengakar dalam masyarakat.

Akibatnya kalau terjadi penolakan itu anggapannya melukai harga diri laki-laki serta meruntuhkan martabatnya. Padahal sebenarnya, yang runtuh bukan harga diri melainkan ego yang tak pernah terlatih untuk dewasa. Sebab laki-laki yang dewasa dapat mengendalikan dirinya dengan baik.

Menurut R.W Connell dalam artikel jurnal yang diterbitkan oleh Jayapanguspress.penerbit.org menyatakan bahwa hegemoni maskulinitas terlahir dari nilai serta norma sekaligus tidak terbatas ada ciri fisik maupun perilaku, melainkan pada praktik sosial yang menciptakan standar laki-laki ideal dan semakin memperkuat dominasi. Sehingga laki-laki dituntut untuk dominan, kuat serta tak boleh kalah. Alhasil apa yang pelaku lakukan merupakan cara dia mempertahankan kuasa.

Dalam kasus ini saja, perilaku perempuan alias korban yang tersorot dan cenderung memaklumi perbuatan pelaku karena ia tak bisa mengontrol emosinya, tentunya semakin memperkuat bahwa perempuan memang lebih sering kita kesampingkan dibandingkan dengan laki-laki.

Baca Juga  Tiga Perspektif Kenapa Harus Membantu Palestina
Berhenti Mengutamakan Perasaan Pelaku dan Membebankan Tanggung Jawab Kepada Korban

Ketika baca kolom komentar berita tentang kasus ini, ada banyak orang yang menormalisasi seperti:

“Maybe si cowok udah sakit hati banget, mana introvert kasihan. Padahal mukanya kayak orang baik, tapi dua-duanya salah.”

Kalimat tersebut benar-benar berbahaya, seolah-olah disini emosi dan pengalaman perilaku yang lebih utama sehingga memunculkan pemakluman atas perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, sampai lupa kalau hal ini sebenarnya telah meminggirkan kondisi korban.

Kalimat itu juga telah menggeser tanggung jawab dari pelaku ke korban, seolah-olah perempuan harus berhati-hati, tak boleh menolak atau kalaupun menolak harus dengan cara-cara yang aman agar tidak memicu kekerasan. Padahal tidak ada satupun penolakan yang membenarkan kekerasan.

Perempuan yang menjadi korban, perempuan itu pula yang harus bertanggung jawab atas perbuatan pelaku yang hampir menghilangkan nyawanya. Belum lagi  trauma yang ia tanggung setelah proses penyembuhan yang dijalani.

Menghormati Penolakan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

Perempuan berhak memilih, menolak, juga berhak untuk hidup dengan aman tanpa rasa takut hanya ia berkata “tidak”. Agaknya kita tak hanya meminta anak perempuan untuk menjaga diri, melainkan mendidik anak laki-laki tentang empati, pengendalian emosi, serta menghormati tanpa batas.

Selama penolakan kita anggap sebuah penghinaan, selama itu pula perempuan akan terus hidup dalam kewaspadaan. Menolak bukanlah kesalahan dan dosa. Sebab menolak itu hak setiap orang. Justru yang berbahaya adalah ketika tak bisa menerima penolakan dengan melakukan kekerasan serta menormalisasi atas nama cinta.

Padahal menurut Bell Hooks, seorang penulis serta teoritikus feminis menegaskan bahwa cinta tidak mungkin berjalan dengan kekerasan dan kontrol. Ketika seseorang melukai karena tertolak, hal tersebut bukan cinta melainkan hasrat untuk menguasai. Ia juga mengatakan jika ada sebuah kekerasan, pelecehan, ketakutan dalam suatu hubungan itu bukanlah cinta. Sebab cinta adalah tindakan nyata yang mencakup kepedulian, rasa hormat, komitmen dan komunikasi yang jujur bukan dominasi.

Bagikan
Post a Comment