f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lagertha selingkuh

Membijaksanakan (Tuduhan) Selingkuh

Ragnar Lothbrok diangkat menjadi earl (gubernur), setelah berhasil menaklukkan earl Haraldson dalam duel maut satu lawan satu. Sebagai penguasa baru bangsa Viking di daerah Skandinavia, ia bergegas memimpin sepasukan prajurit elit menuju wilayah Barat dengan satu misi: menaklukkan Raja Inggris !. Dalam misi penaklukan yang biasa dilakukan oleh bangsa Viking, mereka boleh membunuh, menjarah apa saja dari wilayah yang berhasil dikalahkan. Selama kepergiannya, penguasa Ragnar memberikan kuasa kepada Lagertha, istrinya.

Bangsa Viking, dikenal taat dengan mitologi Nordik. Mereka percaya, bahwa earl adalah titisan Dewa, untuk mewujudkan kesejahteraan, perlindungan dan keamanan bagi rakyatnya. Earl tidak hanya penguasa tetapi ia juga menjadi hakim tertinggi yang bisa memutuskan setiap perkara. Ia telah menjadi tumpuhan harapan bagi rakyat untuk menemukan keadilan dalam setiap sengketa.

Suatu ketika, ada pasangan petani miskin menghadap Lagertha (istri earl). Dengan raut muka kusam penuh amarah dan dendam. Ia mengadukan istrinya:

“Yang Mulia, saya sudah menikahi istri saya selama 3 tahun, tapi tidak kunjung hamil. Suatu hari, ada seorang pemuda berkunjung untuk membantu kami bertani. Kami tidur di dalam gubuk yang sama selama 3 hari. Tidak lama setelah itu, istri saya hamil. 9 bulan kemudian lahirlah anak ini. Saya yakin ini bukan anak saya. Dia telah berselingkuh !.”

Sontak suasana sidang di ruangan itu bergemuruh oleh suara para laki-laki. Mereka tertawa, mengejek, mempersalahkan dan mencemooh perempuan kurus, lusuh, yang tak lagi mampu berdiri tegak sambil menggendong bayinya. Ia terus tertunduk malu, tak kuasa menahan cibiran para laki-laki di sekitarnya.

Lagertha bertanya :

“Bagaimana kamu tau kalau istrimu selingkuh…?”

Suami : “Setiap malam saya selalu mabuk Yang Mulia. Saya tidak sadar. Untuk itulah, saya yakin bahwa ia telah berselingkuh !”.

Baca Juga  Daya Lenting Guru Milenial di Masa Pandemi

Suara para laki-laki itu semakin bergemuruh, sambil terus mengumpat dengan segala cacian kepada perempuan itu.

Lagertha mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Sebuah pertanda bahwa para pengunjung sidang harus diam. Suasana hening, lalu: “Apa pembelaanmu atas tuduhan suamimu ?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada sang istri yang samakin nampak pucat ketakutan.

Istri: “Apakah pembelaanku itu perlu yang mulia ? Di mata suami, saya sudah bersalah. Saya harus membenarkan semua ucapannya. Apapun yang ia ucapkan ! ”.

Lagertha: “Siapa pemuda yang datang ke rumahmu saat itu ?”

Sang suami langsung menyambar, seolah tidak sedikitpun memberi kesempatan kepada istri untuk menjawab. “Rig yang mulia. Pemuda gagah yang membantu kami bertani itu bernama Rig”.

Lagertha kaget, sambil bersuara keras: “Rig ?, pemuda yang datang itu bernama Rig ? Oh…terberkatilah kalian, karena Rig adalah jelmaan Heimdall, putra Odin. Ia pemimpin dewa Norse yang lahir oleh sembilan ibu. Sang Dewa yang digambarkan sebagai gelombang”.

Suami : “Mohon ampun yang mulia. Jadi jabang bayi ini adalah titisan Dewa Heimdall ? Oh… maafkan saya Yang Mulia…”.

Lagertha: “Apakah aku pantas berbohong kepada rakyatku ?”.

Istri: “Ampun Yang Mulia. Berkatilah kami…”.

Lagertha menatap tajam mata laki-laki (suami) di depannya. Ia memberi pesan singkat: “Sekarang kalian tahu siapa bayi itu ?Jika suatu saat kamu berlaku kasar lagi kepada istri dan anakmu, pasti akan berhadapan langsung dengan pedangku. Ingat itu !”.

Pasangan suami-istri itu menangis haru. Mereka berpelukan erat, sambil menciumi bayi mungil yang kini telah dipercaya sebagai titisan Dewa.

Kisah Lagertha

Lagertha tidak sekedar istri seorang earl dari Skandinavia yang jelita. Ia juga terampil menggunakan pedang, serta menguasai strategi perang. Sebelumnya, ia telah masyhur sebagai prajurit perempuan yang sangat disegani, karena keunggulanya di medan laga.

Baca Juga  Muara Pembebasan

Suatu ketika, ia dan kedua anaknya tengah ditinggal oleh suami untuk sebuah misi selama beberapa hari. Tiba-tiba, ada dua laki-laki mabok merangsek ke dalam rumah kayu miliknya. Lagertha tidak gentar. Dengan tenang ia menawarkan bantuan kepada dua laki-laki teler itu.

“Jika kalian haus dan lapar, aku bisa berikan minuman dan makanan”. Tegurnya.

Dua laki-laki itu menatap genit, bermuka mesum sambil terus menggoda: “Aku tidak butuh makan. Aku butuh kamu yang sedang kesepian,” ucapnya sambil tertawa genit.

“Oh begitu…mendekatlah ke sini…” pinta Lagertha.

Kedua laki-laki itu meringis kegirangan, merasa telah diberi harapan. Keduanya bergegas maju, hingga langkah ketiga, Lagertha secepat kilat menyambar pedang di sampingnya, lalu menebas tangan kanan kedua laki-laki hingga keduanya buntung. Mereka bergegas lari sekencang-kencangnya. 

Membijaksanakan Perkara

Lagertha sangat paham budaya suku bangsanya. Dia hidup di lingkungan wilayah yang telah mempersepsikan laki-laki sebagai orang yang selalu dan pasti benar dalam setiap sengketa. Sebaliknya, perempuan akan dianggap lemah, lalu mudah dipersalahkan. Mereka telah abai terhadap fakta. Mereka lebih memilih membenarkan mitos bahwa laki-laki adalah utama, selalu benar dalam setiap perkara.

Dalam lingkaran kekuasaan sukunya, Lagertha tau bahwa perempuan hanyalah pelengkap derita. Mereka adalah korban ketidak-adilan yang terus dibenarkan. Tidak cukup di situ, para lelaki sebangsanya, kerap menjadikan perempuan hanya sebagai objek pemuas syahwat seksual belaka.

Lagertha muak dengan itu semua. Ia telah melawan dengan segala daya yang ia punya. Perlawanan itu ia buktikan dengan pertarungan di medan laga. Ia pernah menguji para lelaki untuk duel satu lawan satu dengan pedangnya. Hanya lelaki yang bisa menjadi lawan seimbanglah yang kelak bisa menjadi pasangan hidupnya. 

Baca Juga  Pasangan Hidup dalam Kacamata Agama

Sebagai perempuan berdaya, ia harus menggunakan setiap kesempatan untuk menghilangkan mitos keliru yangorang-orang sebangsanya terus membenarkannya.

Ketika Lagertha harus menjadi hakim pemutus sebuah perkara, ia abaikan informasi sumir tanpa fakta. Apalagi igauan itu hanya keluar dari mulut laki-laki pemabuk yang sudah merasa menang. Ia melawan tekanan dan provokasi dari para laki-laki sejak di ruang sidang. Lagertha bergeming, tetap teguh dengan pendiriannya. Ia harus memutus perkara agar tidak ada lagi perempuan dan anak-anak yang teraniaya. Maka muncullah putusan sidang itu. Kebijaksanaan akan ada dari para perempuan berdaya.

Tulisan ini terpetik dari The Vikings (2013). Film bergenre sejarah garapan sutradara Michael Hirst.

Bagikan
Comments
  • EL idang

    Referensinya bagus.

    April 2, 2022
Post a Comment