f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Pentingnya Kemampuan Literasi dan Numerasi Anak

Berapa banyak keluhan orang tua yang tidak siap menghadapi anaknya belajar di rumah? Bukan hanya karena harus mengontrol atau memantau penyelesaian tugas anaknya. Tapi karena harus mengambil alih mengerjakan tugas anaknya tersebut dengan alasan kalau bukan orang tuanya yang mengerjakan, tugas tersebut tidak bisa selesai. Dari sini terlihat betapa kemandirian belajar sangat penting.

Pelajaran di sekolah memang banyak macamnya tapi hanya dua kemampuan yang seorang anak perlukan. Seperti yang Mas Menteri Nadhiem sampaikan, kemampuan literasi dan kemampuan numerasi. Saya setuju, jika anak memiliki kedua kemampuan tersebut, seorang siswa dapat mempelajari apapun dengan baik secara mandiri.

Literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis, tapi mencakup bagaimana siswa membaca dengan benar, mengerti dengan cepat apa inti dari yang dibaca, siswa dapat menceritakan kembali dengan ringkas apa yang dibacanya dan juga mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan dengan baik. Kemampuan numerasi bukan sekadar bagaimana bisa menghitung tapi bagaimana langkah-langkah penyelesaannya yang ringkas dan runtun. Kemampuan literasi dan kemampuan numerasi seorang siswa menunjukkan kemampuannya dalam kemandiriannya berpikir, menganalisa dan menyelesaikan tugas yang mereka terima.

Belajar Mandiri

Kemandirian belajar tidak terlepas dari bagaimana pembiasaan seorang anak terbentuk. Kita sebagai orang tua yang perlu lebih dulu mengubah mindset dan sikap kita sedini mungkin. Saya melakukannya kepada ketiga anak saya, sejak saya memiliki anak pertama.

Sejak anak saya yang pertama, saya selalu tekankan kemandirian untuk hal-hal yang oleh anak seusianya bisa lakukan. Sebagai contoh, saya letakkan alat makan yang bisa dia jangkau sendiri, saya letakkan pakaiannya yang dia bisa rapikan saat menaruh bajunya yang sudah saya setrika.

Saat mengenalkan abjad, saya buat dalam bentuk kartu karena saya lebih banyak meminta dia mencari dan berpikir. Abjad yang saya minta dan menuliskannya sambil menyebutkan hurufnya ketimbang saya harus bersusah payah menjelaskan dan meminta dia mengingat yang saya jelaskan. Sekali mindset dan sikap kita terbentuk untuk memandirikan, dengan sendirinya keseharian kita dan anak juga akan mengikuti.

Baca Juga  Kepemimpinan Generasi Masa Depan di Era Milenial

Saat dia mulai saya ajak memegang buku, saat itu juga saya mulai mengajak dia menganalisa. Buku tentang Kancil Mencuri Timun, dari gambarnya, saya berikan pertanyaan-pertanyaan kecil. Seperti, siapa yang bersembunyi di kebun, atau apa yang petani bawa. Saya ajak dia mencari dan berpikir.

***

Saat dia mulai bisa membaca, saya berikan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tersurat. Jawaban yang memang sudah tertulis pada bacaan tersebut. Seperti misalnya, saya melihat ada kalimat “kebun di belakang rumah”. Saya buatkan pertanyaan yang jawabannya adalah kalimat tersebut.

Saat dia mulai lancar membaca, saya minta dia menceritakan ulang ceritanya dengan kalimatnya sendiri sambil saya berikan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tersirat. Seperti misalnya, saya tanyakan karakter kancil itu seperti apa. Tidak tertulis di bacaan, tetapi akan terjawab karena memahami isi ceritanya. Akhirnya, saat dia mulai sekolah, dia bisa dengan cepat menangkap apa yang gurunya tulis, apa yang gurunya minta, dalam pelajaran apapun.

Saat saya mengenalkan angka, saya kenalkan urutan bilangan dan menghitung dengan meminta dia menyebutkan dan menuliskannya dengan cepat sehingga konsep besar kecil. Lebih banyak, lebih sedikit pun dia kenal dengan tanpa kesulitan. Saya giring dia untuk mengenal hitungan dasar dengan tangkas dan ringkas, step by step. Akhirnya pada saat dia mulai sekolah, mungkin kalimat matematikanya keliru tapi untuk diajak memahami soal yang disampaikan oleh guru, dia jauh lebih siap dan tidak mengalami kesulitan berarti untuk menyelesaikan seperti yang diminta gurunya.

Anak-Anak itu Hebat

Saat mendapat tugas dari guru yang tidak dia pahami. Baik tugas yang hanya butuh selesai dengan menulis atau mengerjakan jawaban berupa tulisan dan angka ataupun tugas membuat sesuatu seperti maket, video dan lainnya. Saya giring lebih dulu untuk memahami tugasnya, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pemahamannya. Seperti pada saat mendapatkan tugas tentang “Sabun dari Minyak Jelantah”. Saya berikan perntanyaan-pertanyaan kecil untuk mengetahui apa dia paham dengan latar belakang, proses pembuatan, analisa biayanya, dll. Saya tanya dan minta jawaban singkat, tidak perlu waktu lama juga. Dan saya tutup dengan, “oke selesaikan dengan baik”.

Baca Juga  Book Shaming : Dilawan, Bukan Dipendam

Anak-anak itu hebat, ndak jarang saya surprise dengan jawaban anak-anak saya. Kita hanya perlu menggiringnya supaya dia bisa mandiri dalam berpikir. Jangan pusingkan anak-anak dengan nilai mereka, pusingkan mereka dengan pemahamannya, kemampuannya. Sekali lagi saya sampaikan, apa yang Mas Menteri Nadhiem katakan itu sangat benar. Kemampuan literasi dan kemampuan numerasi adalah kunci untuk belajar apapun. Bukan hanya untuk di sekolah, tapi lebih pada saat nanti mereka lepas dari kita. Saat mereka SMA, kuliah, bekerja, dua kemampuan tersebut yang akan menyelamatkan mereka.

Memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang baik, erat kaitannya dengan kemandirian seorang anak. Dan pada kenyataannya, kemandirian tidak hanya dibutuhkan di sekolah, tetapi lebih di dalam kehidupan nyata. Semakin besar, semakin dewasa, anak-anak akan semakin dituntut mandiri dalam menyikapi dan menghadapi permasalahan. Kemandirian seorang anak tidak muncul tiba-tiba, tetapi melalui proses pembiasaan yang dibentuk sedini mungkin dari hal-hal kecil oleh kita sebagai orang tua.

Bagikan
Comments
  • Adi kus

    Bagus sekali tulisannya

    Februari 21, 2022
    • Andi henni

      Terimakasih 🙏

      Februari 23, 2022
Post a Comment