Jadikan Kenangan Pahit sebagai Pemantik Perbaikan Diri
“Seperti inilah kegiatanku sehari-hari di rumah. Tidak ada hari tanpa mengompol dan ibuku sulit diajak kompromi.” katanya ketus tanpa ekspresi yang menyenangkan untuk dilihat. Ternyata, dia (sebut saja Bu S) belum mampu melupakan kenangan pahit di masa kecil yang terpaksa tumbuh dan berkembang di bawah asuhan sang nenek. Rasa marah dan kecewa kepada ibu masih membekas di hatinya, sedang saat ini ibunya yang sudah renta dalam perawatannya.
Tidak ada rasa lain yang bisa mewakili rasa hatiku yang seakan diaduk-aduk, kecuali rasa tersinggung, sakit sekaligus terenyuh dan rasa tidak bisa menerima. Pemandangan sore itu belum benar-benar hilang dari memori ingatanku. Aku kurang tahu apakah hal itu menurut sebagian orang adalah sesuatu yang biasa ataukah hanya karena aku yang terlalu baper.
***
Ini terjadi ketika suatu hari aku diajak mampir ke rumah Bu S yang kebetulan merupakan teman seprofesi saudariku, yakni guru sekolah dasar. Kebetulan dia memiliki seorang ibu yang sudah renta dan pikun. Saat kami datang, dia sedang memandikan sang ibu dengan cara yang menurutku sangat tidak manusiawi.
Dia guyur sang ibu menggunakan gayung dengan kasar sambil ngedumel kurang jelas. Kalau aku tak salah lihat, sang ibu habis ngompol dan pup. Usai menyabuni seluruh bagian tubuh, subhanallah, dengan kasar pula dia semprot badan ibu yang tinggal tulang dan kulit itu dengan selang air. Selang air langsung dari keran yang mengalir seolah sedang mencuci sepeda motor. Astagfirullah.
Sampai di sini, aku tak mampu melihat karena secara reflek ternyata mataku berembun dan dadaku bergemuruh ingin marah, tapi marah kepada siapa? Meski pemilik tubuh ringkih itu bukanlah ibuku, namun hatiku tak mampu melihat insan keramat yang satu ini diperlakukan seperti itu oleh anak kandungnya sendiri.
Seperti bu S, banyak peristiwa dan kenangan yang telah aku alami selama mendampingi kedua orang tuaku yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Tak ada maksud apapun kecuali ingin berbakti kepada mereka dan memenuhi salah satu perintah-Nya. Untuk total berbakti kepada orang tua, ternyata tak semudah yang ucapan lisan. Rintangan, hambatan dan kerikil pengganggu senantiasa hadir.
***
Pendapat, komentar dan prasangka orang lain yang belum pernah mengalami hidup berdampingan dengan kedua orang tua yang sudah sepuh bahkan pikun, sangat beragam. Ada yang menganggap itu adalah hal lumrah yang bagi setiap orang sudah pasti mampu melakukannya. Ada pula yang seakan menyalahkan, mengapa orang tua selalu merepotkan. Tapi tidak sedikit yang justru berharap mendapatkan kesempatan mendampingi orang tua hingga akhir hayat mereka.
Bahkan yang lebih menyakitkan, manakala ada yang menganjurkan ibuku dibawa ke panti jompo saja, agar aku bisa lebih leluasa beraktifitas di dalam dan luar rumah. Aku merasa tak habis pikir, seolah usulannya adalah solusi terbaik yang sesungguhnya tak pernah terlintas sedikitpun di benakku. Kalaupun ada yang demikian tentu punya alasan kuat sebagai penyebabnya.
Semua amal perbuatan bergantung pada niatnya. Tidak semua niat baik selalu mendapatkan balasan yang baik pula. Meski perbuatan baik itu tak diniatkan agar orang lain tahu, namun pada titik tertentu sulit untuk menyembunyikannya.
Kisah Bu S yang masa kecilnya terpaksa kekurangan kasih sayang seorang ibu sesungguhnya tidak ia alami sendiri. Cerita yang sama juga menimpa Bu S-Bu S lain dengan berbagai ragam cerita yang melatarbelakanginya. Apakah hanya karena trauma atas kenangan masa lalu, lantas dengan mudahnya kita “mengadili” ibu dengan cara kita?
Sepahit apapun kenangan yang sempat kita alami, yakinkan diri bahwa itu sudah dalam skenario Yang Maha Kuasa. Tidak seharusnya muncul rasa dendam kepada orang tua sendiri apapun penyebabnya. Karena tidak ada seorang ibu di dunia ini yang menginginkan anaknya hidup sengsara. Andaikan kita mampu menggendongnya keliling dunia, belum sebanding dengan satu hentakan nafas saat mengejan melahirkan kita.
***
Berbakti kepada orang tua adalah perintah langsung dari Allah yang tidak bisa ditawar. Tiada rida Allah tanpa rida orang tua. Selama mendampingi mereka, walau murni meniatkannya karena Allah, namun pada kenyataannya ada saja hal-hal yang bisa merusak kemurnian niat tersebut.
Barangkali hal ini termasuk ujian-Nya. Dia uji sampai mana kesungguhan dan kesabaran yang kita miliki. Dia uji pula keikhlasan kita dalam merawat dan mendampingi mereka. Yang penting perlu kita ketahui, sampai kapanpun kita tak akan mampu membalas budi jasa orang tua.
Beruntunglah orang-orang yang masih memiliki orang tua. Hidup bersama mendampingi dan mengisi hari-hari tua mereka, akan banyak pintu keberkahan yang terbuka lebar. Yakin. Dengan demikian banyak pula peluang menuju kebaikan yang bisa kita maksimalkan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Apapun yang kita lakukan, selama itu demi berbakti kepada orang tua, hendaknya dilandasi dengan lillaahi ta’ala, murni karena Allah tanpa berharap pujian dari mahluk. Berbakti di sini tentu saja dalam hal yang tidak menyimpang dari kaidah agama.
Dia Maha Tahu apa yang terlintas di dalam hati maupun yang diungkapkan. Dia pula Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Karena itulah kita hanya mampu memohon agar Allah beri stok kesabaran yang berlipat-lipat dalam menghadapi orang tua yang sudah kembali seperti balita. Mereka adalah tanggung jawab kita. Mustahil kita hadir tanpa mereka. Jika mereka punya salah, sebaliknya kita pun punya salah dan khilaf. Bisa saja salah kita jauh lebih banyak. Biarlah semua kenangan dan peristiwa yang sempat melukai hati karena (ulah) mereka, kita maafkan, kita jadikan sebagai awal dan pemantik untuk memperbaiki diri secara lahir dan batin.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
