f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
muhammadiyah perempuan

Komitmen Muhammadiyah untuk Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender

"Urusan dapur janganlah dijadikan halangan untuk menjalankan tugas dalam menghadapi masyarakat.”
Pesan Kiai Dahlan 

Kiai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah, adalah sosok yang memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan perempuan. Beliau menempatkan perempuan dan laki-laki pada posisi yang setara dalam segala urusan. Kiai Dahlan bahkan juga mempersiapkan calon-calon pemimpin perempuan yang telah dibekali ilmu yang sama dengan laki-laki. Sesuai dengan Firman Allah Swt. sebagai berikut:

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” QS. An-Nahl ayat 97.

‘Aisyiyah

Pendirian ‘Aisyiyah diawali dengan pertemuan yang digelar di rumah Kyai Dahlan pada 1917, yang dihadiri K.H. Dahlan, K.H. Fachrodin, K.H. Mochtar,Ki Bagus Hadikusumo, bersama enam gadis kader Dahlan; yaitu Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti Wadingah, dan Siti Badilah. Pertemuan tersebut memutuskan berdirinya organisasi perempuan Muhammadiyah, dan disepakatilah nama ‘Aisyiyah yang diajukan K.H. Fachrodin.

Berdirinya ‘Aisyiyah bukan memisahkan keterlibatan perempuan dari Muhammadiyah. Namun berdirinya Aisyiyah, menjadi partner Muhammadiyah dalam upaya pemberdayaan perempuan, melibatkan perempuan dalam urusan masyarakat. Saat itu Aisyiyah terlibat aktif dalam urusan dakwah, pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan.

Islam yang berkemajuan sebagaimana terlihat dari penafsiran Muhammadiyah-‘Aisyiyah terhadap ayat Al-Qur’an yang tidak membedakan jenis kelamin dalam hal berdakwah, menjadi karakter gerakan Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Paham Islam berkemajuan dan pentingnya pendidikan dan bagi gerakan Muhammadiyah-‘Aisyiyah menghasilkan pembaruan-pembaruan dalam berbagai kegiatan yang dilakukan Muhammadiyah-‘Aisyiyah, seperti; merintis berdirinya pendidikan untuk anak usia dini di Indonesia dengan nama Frobel School pada tahun 1919 yang saat ini bernama TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), pendidikan keaksaraan, pendirian mushola perempuan pada 1922, kongres bayi atau baby show, dan jenis-jenis kegiatan inovatif lain (Profil ‘Aisyiyah).

Baca Juga  Self-Harm: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Adabul Mar’ah Fil Islam : Perempuan Boleh Terlibat di Ranah Publik

Adabul Mar’ah Fil Islam adalah salah satu dari Putusan Majelis Tarjih yang disahkan pada tahun 1972 saat Muktamar Muhammadiyah di Pekalongan. Buku ini sudah memuat tentang bagaimana posisi perempuan untuk berbagai bidang di ranah publik. Perempuan boleh berpartisipasi dalam pawai, demontrasi, terlibat urusan politik, berjihad dan menuntut ilmu. Bahkan dalam Adabul Mar’ah fil Islam juga dijelaskan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin juga boleh menjadi hakim.

Muhammadiyah terus mendorong perempuan untuk tidak hanya mengurus urusan domestik, namun juga terlibat aktif dalam ranah publik. Berdasarkan penjelasan Wawan Gunawan, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah; dalam telusuran Muhammadiyah, nash-nash atau ayat dan hadis yang misoginis atau terkesan membatasi ruang gerak perempuan, umumnya adalah hadis yang berstatus dhaif, tidak kuat sanadanya dan tidak bisa dijadikan pijakan.

Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah

Pada awal November 2017, Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muda berkemajuan di Muhammadiyah telah mencetuskan konsep keluarga muda tangguh. Nasyiatul Aisyiyah menilai keluarga sebagai salah satu pilar kesejahteraan bangsa dan mayoritas anggota Nasyiah berada pada tahapan keluarga muda. Ketangguhan keluarga sekaligus menjadi pondasi dalam menerapkan kehidupan yang harmonis, religius, damai, aman dan sejatera atau dengan kata lain sakinah, mawaddah, warahmah.

Nasyiatul Aisyiyah melakukan upaya pendekatan dengan mengembangkan konsep keluarga ideal yang disebut dengan Keluarga Muda Tangguh. Menurut Nasyiatul Aisyiyah, Keluarga Muda Tangguh yang merujuk pada tahapan yang disusun oleh Friedman (1998), adalah Keluarga muda yang memiliki relasi harmonis antara anggota keluarga, dan menjalankan fungsi dan perannya masing-masing dalam aspek agama, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan ekonomi, berlandaskan pada nilai-nilai Islam untuk mencapai keluarga ideal sebagai pilar bagi bangsa yang berkemajuan.

Baca Juga  Tantangan dan Peluang Organisasi Perempuan Muda Berkemajuan

Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah memiliki 10 pilar. Kesepuluh pilar tersebut, yaitu 1) kokoh akidah dan akhlakul karimah; 2) sehat jasmani dan rohani; 3) kemandirian; 4) keadilan dengan semangat Al-Maun; 5) misi perdamaian; 6) demokrasi; 7) anti kekerasan; 8) kesetaraan akses; 9) ramah lingkungan; serta 10) tanggap bencana.

***

Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah terus bergerak di tengah bergejolaknya negeri ini akibat pandemi Covid-19. Berbagai macam program pemberdayaan terhadap perempuan tetap berjalan dengan keterbatasan ruang gerak. Ada program ketahanan pangan keluarga, program literasi untuk perempuan, pemberdayaan usaha kecil menengah yang dikelola oleh perempuan, dan juga keterlibatan kader ‘Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah dalam edukasi pencegahan Covid-19.

 

Bagikan
Post a Comment