f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nasyiatul aisyiyah kesetaraan

Hari Perempuan Internasional dan Perjuangan Kesetaraan di Nasyiatul Aisyiyah

Kesetaraan bagi Perempuan adalah kerja abadi bagi pejuang yang mendambakan keadilan. Tanggal 8 Maret adalah simbol mengenang perjuangan Perempuan dalam menyuarakan hak-hak di Perempuan untuk setara oleh seorang buruh di New York, sejak tahun 1900an kemudian diakui PBB pada tahun 1977. Sampai saat ini perjuangan kesetaraan dikawal oleh semua organisasi perempuan tak terkecuali Nasyiatul Aisyiyah.

Kelahiran Nasyiatul Aisyiyah pada tahun 1931 saat itu adalah sebuah perlawanan yang besar di Indonesia terhadap kondisi masyarakat yang masih menempatkan perempuan adalah konco wingking. Jangankan untuk mengenyam Pendidikan, suara Perempuan saja tidak ada harganya. Sebelum kemunculan Nasyiatul Aisyiyah, para perempuan Muhammadiyah sudah bergabung dalam organisasi perempuan yaitu Aisyiyah. Bahkan ‘Aisyiyah merupakan peserta kongres perempuan tanggal 22 Desember 1928 yang menjadi cikal bakal Hari Ibu.

Budaya yang dinarasikan saat itu hidup seperti hukum yang harus dijalankan. Sehingga apabila perempuan menuntut haknya, dianggap sebagai kejahatan. Berbagai tantangan yang dihadapi Nasyiatul Aisyiyah saat itu di antaranya pendidikan yang terbatas, pandangan terhadap yang rendah terhadap perempuan, posisi perempuan dalam masyarakat atau lebih dikenal dengan ketidakadilan gender.

Nayiatul Aisyiyah Melawan Patriarki

Pembagian gender dalam masyarakat dipengaruhi oleh budaya patriarki. Tidak sedikit perempuan sendiri tidak merasa bahwa haknya ada yang terenggut. Ini tidak mengejutkan, karena budaya ini sudah masuk ke dalam ingatan bersama di dalam masyarakat. Sejarah panjang tentang peperangan, yang pelakunya adalah laki-laki, penafsiran ayat tertentu yang diyakini sebagai legitimasi bahwa laki-laki adalah dominan, kemudian perempuan yang seringkali berperan hanya di domestik.

Tentu saja budaya patriarki tidak hanya merugikanp perempuan, namun juga laki-laki. Sebagai contoh, laki-laki harus punya penghasilan yang lebih tinggi karena berperan sebagai pencari nafkah atau kepala keluarga. Padahal, tidak menutup kemungkinan, bahwa gaji istri lebih tinggi daripada suami. Urusan memberi nafkah tentu saja tidak bergantung pada perbandingan besaran gaji pasangan suami istri. Narasi besar yang memposisikan laki-laki lebih tinggi ini kemudian diterjemahkan ke dalam lini kehidupan. Gaji pekerja perempuan lebih rendah, perlindungan pekerja Perempuan saat menstruasi, hamil dan pasca melahirkan, perlindungan terhadap pekerja rumah tangga, bahkan kasus kekesarasan dalam rumah tangga.

Baca Juga  Konsepsi Pesantren Ramah Anak Indonesia

Nasyiatul Aisyiyah dalam Tanwir Banjarmasin tahun 2017 telah mencanangkan 10 pilar keluarga muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah. Di antaranya ada pilar kemandirian (membangun keluarga yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain), keadilan dan semangat Al- Maun (membangun keluarga yang adil dan berbagi dengan orang lain), kesetaraan Akses (membangun keluarga yang memiliki akses yang sama dalam hal Pendidikan, Kesehatan dan ekonomi), demokrasi (membangun keluarga yang demokratis dan menghargai hak-hak anggota keluarga). Ini merupakan terobosan Nasyiatul Aisyiyah untuk terus berkiprah di tengah masyarakat dengan membangun keluarga yang lebih sehat secara gender. Nilai-nilai kesetaraan dan pengakuan hak yang sama terus dibangun oleh Nasyiatul Aisyiyah.

Tafsir Perempuan Berkemajuan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa tafsir ayat untuk membangun dominasi salah satu jenis kelamin tentu saja mempengaruhi peran gendernya. Nasyiatul Aisyiyah telah melakukan Langkah yang maju dengan mengambil tafsir ayat-ayat yang selama ini didengungkan sebagai dominasi laki-laki, untuk ditampilkan dengan tafsir yang lebih adil.

Contoh saja hhadis riwayat Bukhari mengenai penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Di dalam Risalah Perempuan Berkemajuan, memilih tafsir memaknai hadis ini bukan secara tekstual bahwa perempuan terbentuk dari tulamg rusuk laki-laki, namun kewajiban laki-laki yang harus berhati-hati kepada perempuan.

Risalah Perempuan berkemajuan juga mengangkat ayat-ayat mengenai kesetaraan mulai dari penciptaan, hak dan kewajiban serta tugas dan peran yang setara, memiliki visi penciptaan yang sama yaitu menjadi hamba dengan mengemban khalifah fil ardl QS.42:49. Perempuan dan laki-laki sama-sama diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya QS. 95:4. Risalah Perempuan berkemajuan juga memiliki komitmen dalam nilai-nilai kemanusiaan yang universal, hal ini sejalan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Ayat-ayat kesetaraan ini yang terus mensyiarkan kepada kader Nasyiatul Aisyiyah sebagai bentuk pencerahan, pendidikan, dan mewujudkan keadilan untuk Perempuan.

Baca Juga  Digital Detox di 10 Malam Terakhir: Mematikan Notifikasi untuk Menghidupkan Hati
Akses Kesetaraan

Nasyiatul Aisyiyah telah memilih ilham kesetaraan dari firman-firman Allah sebagai dasar dalam memperjuangan hak Perempuan dan sesama. Tidak berhenti pada cetusan 10 pilar keluarga muda Tangguh, kesetaraan juga didesain dalam berbagai musyawarah di pimpinan pusat sampai ranting. Sebagai contoh rekomendasi Musywil PWNA Jawa Tengah tahun 2023 lalu, salah satunya adalah akses kesetaraan. Bahkan di dalam Agenda Aksi PWNA periode muktamar XXIV, yaitu BERDAYA SETARA (akSEs, kualiTAs, peRAwatan). Aksi Gerakan ini merujuk pada tujuan jangka panjang SDGs, yaitu kesetaraan gender, pemberdayaan Perempuan, penghapusan diskriminasi dan kekerasan terhadap Perempuan di ruang publik.

Hasil permusyawaratan tersebut menjadi acuan dalam materi permusyawaratan di tingkat bawahnya. Dengan begitu atmosfer kesetaraan dapat terbentuk di berbagai daerah dan kadernya. Langkah yang cemerlang ini, tentu saja patut diapresiasi, karena perubahan peradaban dapat dimulai dengan adanya penanaman pengetahuan. Diharapkan dengan masuknya tema-tema kesetaraan di berbagai musyawarah bahkan diwujudkan dalam program kerja dapat membantu membangun kesadaran. Hal ini perlu disambut dengan bahagia, seperti arti simbol dari Nasyiatul Aisyiyah itu sendiri, yaitu padi berbahagia. Pada akhirnya tanpa perlu ditanyakan lagi, bahwa keadilan akan membawa pada kebahagiaan, bukankah begitu?

Bagikan
Post a Comment