f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
semua

Semua Orang Adalah “Muhammadiyah”

Kemanusiaan Bukan Manusia

Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Indonesia nampak kehilangan nilai-nilai sosial kemanusiaannya, “jiwa sosial” seolah hanya menjadi jargon tak berisi dan nir-makna. Wajib kita sadari kembali bahwa semua manusia itu bukanlah makhluk individu, tetapi manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Namun fakta hari ini yang nampak justru memudarnya kesadaran akan hal itu.

Ungkapan “we see human but not humanity”, nampak begitu relevan dalam konteks saat ini. Di antara kita mulai muncul keengganan untuk tolong menolong dan berbagi terhadap sesama. Bahkan hanya untuk sekedar berfikiran positif (khusnudzan) terhadap sesama saja menjadi hal yang mahal. Akibatnya, rasa ketidakpedulian kian menguat, konflik horisontal tentu menjadi salah satu buahnya.  

Mundurnya Kepekaan Sosial

Patut diakui bahwa kepekaan sosial manusia saat ini mengalami kemunduran, dalam konteks tertentu. Gotong-royong yang mentradisi sejak beraratus bahkan beribu tahun lamanya kini telah pudar. Semua diukur dengan materi, uang menjadi ukuran semua orang. Gotong-royong yang menjadi perekat hubungan antar-tetangga hanya menjadi jargon dan obrolan warung kopi. Terkadang hanya sebagai alat politik para politisi. Nyatanya, semua ukuran tersebut terletak pada uang. Manusia menjadi “matrealistik” dan malangnya mereka beranggapan hal itu adalah “realistik”, artinya mereka membenarkan dan mewajarkan kondisi tersebut. 

Jika orientasi kita sudah bertuhan pada uang, maka hidup ini hanya selesai pada untung dan rugi. Kenapa saya katakan seperti itu? karena uang hanya sebuah alat tukar, hanya sebuah perantara yang fokus pada perdagangan. Dan akhirnya yang terbentuk hanyalah sebuah sifat perhitungan bukan kemanusiaan.

Uang memang hal penting dalam menjalani hidup tetapi bukan yang terpenting. Mestinya uang menjadi sarana kehidupan bukan menjadi tujuan utamanya. Quraish Shibab menasehatkan untuk meletakkan dunia dalam genggaman tangan bukan pada hati sehingga kita mudah untuk melepasnya kapan saja. Melepas di sini diartikan untuk berbagi kepada sesama.  Orientasi kita adalah memberi bukan mendiamkan terlebih lagi meminta.

Baca Juga  Membumikan Sumpah Pemuda

Jika dibawa ke dalam konteks Muhammadiyah, sebetulnya persyarikatan ini telah meletakkan dasar agung tentang pentingnya menjaga “kemanusiaan” dalam diri manusia. Doktrin saling menyayangi, saling membantu, dan semangat saling tolong-menolong (ta’awun), di mana semua hal itu bertujuan agar manusia bisa menjadi manusia yang sesungguhnya, yakni mereka yang secara konsisten melakukan ritual vertikal dan di waktu yang sama ritual horisontal (sosial) tetap mewujud dalam kesehariannya.

“Dimuhammadiyahkan” oleh Pandemi

Rasa indivisualisme itu agaknya mengabur akibat pandemi Covid-19. Banyaknya korban terdampak, baik yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung membangkitkan gairah kemanusiaan sebagian besar masyarakat Indonesia.   Dengan kejadian inilah masyarakat disadarkan bahwa sebagai manusia memang tidak bisa hidup sendiri.

Pada masa pandemi ini masyarakat menjadi saling paduli terhadap keselamatan satu dengan yang lain. Karena pandemi ini juga, masyarakat disadarkan akan kebesaran Tuhan, sehingga banyak pula masyarakat yang semakin rajin untuk malakukan ibadah. Maka saya melihat dua keindahan yang terjadi pada masyarakat akibat pandemi ini, yaitu ibadah vertikal dan ibadah sosial.

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dulu didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan landasan tafsir Al-Ma’un atau biasa disebut dengan teologi Al-Ma’un. Doktrin Al-Ma’un mengajarkan betapa pentingnya menyantuni anak-anak yatim, saling berbagi dan saling tolong-menolong terhadap orang lain. Hari ini tanpa memahami teologi Al-Ma’un, kita bisa melihat bahwa masyarakat telah merealisasikan isi dari teologi Al-Ma’un itu sendiri. Dengan kata lain, sebetulnya masyarakat telah dimuhammadiyahkan oleh pendemi ini. Tentu bukan Muhammadiyah dalam ranah struktural tetapi pada ranah kultural.

Teologi Al-Ma’un Muhammadiyah

Ayat-ayat di dalam Al Ma’un yang kesemuanya menekankan pada penguatan ibadah sosial di atas ibadah vertikal. Fa wailul lil musalliin : Maka celakalah orang yang sholat. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang sholat namun wa yamna’uunal-ma’un : Dan enggan memberikan bantuan. Serta wa laa yahuddu’ala ta’aamil-miskin : Dan tidak memberi makan orang miskin. Maka dalam teologi ini jika seseorang yang melakukan sholat namun tidak ada pengaruh dalam sosialnya, maka sama saja seperti yang di tuliskan pada surat Al-maun ayat pertama (a raaitalladzii yukadzdzibu biddiin : Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? sebagai pendusta agama.

Baca Juga  Manusia, Intelektualitas dan Humanitas

Itulah doktrin suci dari KH. Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi fondasi warga Muhammadiyah dalam berdakwah hingga kini. Dan tanpa disadari kita telah melihat bahwa sebagian besar masyarakat pada masa pandemi ini telah mengaktualisasikan isi dari teologi Al-Ma’un, maka jika saya boleh mengatakan semua masyarakat ini adalah Muhammadiyah yang tanpa harus mengaku bahwa dirinya adalah Muhammadiyah.

Selain itu kerusakan-kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia juga semakin berkurang, seperti penebangan pohon secara liar, pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya dan kerusakan-kerusakan yang lain. Masyarakat semakin menerapkan hidup sehat, dari situ pernah muncul guyonan dari Rocky Gerung bahwa “ Covid-19 ini hadir bukan untuk menciptakan antibodi manusia, tetapi Covid-19 hadir sebagi anti body Bumi” karena manusia tidak lagi melakukan kerusakan. Barangkali ini momentum bagi bumi untuk istirahat sejenak, setelah sekian lama diperas peluhnya untuk mencukupi isi perut manusia.

Interaksi sosial seperti itulah yang sebenarnya perlu kita hidupkan. Masyarakat mulai mementingkan kebutuhan hidup dan meninggalkan gaya hidupnya, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kita tidak merasa kekurangan. Dari aspek sosial masyarakat mampu mendorong dirinya untuk saling membantu, sementara dari aspek individual masyarakat juga harus mampu mengetahui potensi dirinya sehingga ia bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama di kemudian hari.

Bagikan
Comments
  • Miftakudin

    Ngeri mas niko

    Desember 21, 2020
Post a Comment