f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu muda bekerja

Ibu Muda Bekerja dan Bernasyiah: Mewujudkan Keluarga Tangguh Bersama Pasangan

Rahmania dan Yunda – Yunda, selamat bernasyiah, semoga tulisan ini sampai ke pasangan Yunda-yunda sekalian ya. Semangat!

Perempuan masa kini memiliki peran yang semakin luas dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. Tidak sedikit ibu muda yang memilih bekerja, baik untuk membantu perekonomian keluarga, mengembangkan potensi diri, maupun untuk kebermanfaatan bagi masyarakat. Yang pasti, bekerja adalah pilihan sadar masing-masing perempuan.

Bagi yang akan dan sudah menjalani pernikahan, pilihan menjadi perempuan dan/atau ibu muda bekerja tentu atas pertimbangan bersama pasangan. Indikator pertimbangannya bisa berupa potensi, kapasitas diri, peluang, dan relasi. Yang kesemuanya untuk kestabilan dan perencanaan keberlanjutan visi misi berkeluarga.

Pilihan sadar dan indikator pertimbangan tersebutlah yang memperjelas pembagian peran, dan menekan penyebab pertikaian pasangan.

Tantangan dan Dukungan Ibu Muda Bekerja

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan Profil Perempuan Indonesia 2024, TPAK perempuan berada di kisaran 55–56%, menunjukkan semakin banyak perempuan yang aktif berkontribusi dalam sektor ekonomi dan pembangunan keluarga.

Meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja juga, idealnya dibarengi dengan dukungan struktural, terutama bagi ibu muda. Penelitian tentang working mother menunjukkan bahwa konflik peran dapat memengaruhi kesehatan mental, kualitas pengasuhan, dan keseimbangan kehidupan keluarga apabila tidak diimbangi dengan dukungan sosial yang baik. Ya, sebab lingkungan sosial akan turut memengaruhi cara pandang individu dalam penentuan standar peran suami dan istri, misalnya.

Konsep work-life balance menjadi sangat penting bagi ibu muda bekerja. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga membantu perempuan menjaga kesehatan fisik maupun psikis. Ibu yang mampu mengatur waktu kerja, pengasuhan, dan kebutuhan pribadi cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah serta hubungan keluarga yang lebih harmonis. Sebab, pengasuhan anak tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab ibu semata, melainkan kerja sama antara ayah dan ibu.

Baca Juga  Mengenal Taman Nasjiah: Majalah Khusus Anak yang Lahir dari Rahim Suara ‘Aisyiyah

Dukungan nyata lainnya berupa kebijakan, beberapa negara seperti Swedia, Norwegia, dan Finlandia telah menerapkan kebijakan ramah keluarga untuk mendukung ibu bekerja. Negara yang menyediakan cuti melahirkan panjang, jam kerja fleksibel, hingga fasilitas penitipan anak yang memadai. Perempuan tetap dapat berkembang secara profesional tanpa kehilangan kualitas pengasuhan dalam keluarga. Semoga ini menjadi perhatian aktor-aktor kebijakan pemerintah Indonesia.

Bernasyiah dan Penguatan 10 Pilar Keluarga Muda Tangguh

“10 Pilar Keluarga Muda Tangguh” Nasyiatul Aisyiyah menjadi pedoman dalam membangun keluarga yang kuat, harmonis, dan berkemajuan. Konsep bernasyiah tidak hanya dimaknai sebagai aktif dalam organisasi, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu dipahami dan diterapkan bersama pasangan dalam kehidupan keluarga.

Pilar pertama adalah kokoh aqidah dan akhlak. Ayah dan ibu perlu menjadikan nilai agama sebagai fondasi utama dalam mendidik anak dan membangun rumah tangga. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, aqidah yang kuat menjadi benteng moral bagi keluarga.

Pilar kedua ialah literasi. Literasi saat ini tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi digital, finansial, serta literasi pengasuhan. Ayah dan Ibu muda yang memiliki literasi baik akan lebih siap menghadapi tantangan zaman, termasuk dalam mendampingi anak menggunakan teknologi secara bijak.

Pilar ketiga adalah sehat fisik, psikis, dan spiritual. Kesibukan bekerja sering membuat ibu muda rentan mengalami kelelahan dan stres. Oleh karena itu, menjaga kesehatan tubuh, kestabilan emosi, dan kualitas spiritual menjadi hal yang sangat penting agar ibu tetap mampu menjalankan peran secara optimal dengan dukungan pasangan.

Pilar keempat, keadilan dengan semangat Al-Ma’un, menanamkan kepedulian sosial terhadap sesama. Guna mendukung kesehatan Ibu muda, maka dibutuhkan ruang sosial yang luas, aman dan terbuka. Sebab aktivitas kebermanfaatan mendorong kehidupa perempuan yang lebih bernilai.

Baca Juga  Lima Pesan Perdamaian dari Nasyiatul Aisyiyah

Pilar kelima adalah kesalingan dan kesetaraan akses. Dalam keluarga yang sehat, suami dan istri saling bekerja sama dalam pengambilan keputusan maupun pengasuhan anak. Prinsip kesalingan ini membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan adil.

Pilar keenam ialah kemandirian. Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, ibu muda diharapkan memiliki kemampuan ekonomi dan keterampilan agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Perempuan yang mandiri akan lebih siap mendukung ketahanan keluarga dari tekanan sosial.

Keluarga Muda Tangguh dari Sisi Pasangan

Pilar ketujuh, misi perdamaian, menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga dan masyarakat. Ibu muda yang bekerja membutuhkan pasangan yang mampu menjadi teman bertumbuh, bukan hanya sekadar pendamping dalam urusan domestik. Komunikasi yang baik akan membantu pasangan menghadapi tekanan pekerjaan, pengasuhan anak, maupun persoalan rumah tangga secara lebih bijaksana.

Pilar kedelapan ialah anti kekerasan. Keluarga harus menjadi ruang aman bagi perempuan dan anak. Oleh karena itu, hubungan pasangan perlu dibangun atas dasar kasih sayang, penghormatan, dan empati.

Pilar kesembilan adalah ramah lingkungan. Pasangan muda dapat memulai kebiasaan sederhana dalam keluarga seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, dan menerapkan pola hidup berkelanjutan.

Pilar terakhir ialah tanggap bencana. Indonesia sebagai negara rawan bencana membutuhkan keluarga yang siap menghadapi situasi darurat. Dalam hal ini, pasangan suami istri perlu membangun kesiapsiagaan bersama, baik secara mental, finansial, maupun praktis.

Ibu muda bekerja bukanlah hambatan untuk tetap aktif bernasyiah. Justru melalui peran sosialnya, perempuan dapat menjadi agen perubahan dalam keluarga dan masyarakat. Tantangan ibu bekerja memang nyata, tetapi dapat dihadapi melalui work-life balance, penguatan literasi, pola pengasuhan yang sehat, serta dukungan keluarga dan organisasi yang setara.

Baca Juga  Victim Blaming : Beban Ganda Perempuan setelah kekerasan seksual

Bagikan
Post a Comment