f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu super

Dari Ibu Super ke Ibu yang Didukung: Agenda Keadilan untuk Membangun Keluarga Muda Tangguh

“Can women have it all?”
Pertanyaan tersebut tentu tidak asing terdengar karena menjadi salah satu trend yang berseliweran di sosial media. Jika dipikirkan lagi, pertanyaan tersebut bukan hanya trend semata, tapi menyimpan makna yang lebih dalam tentang bagaimana perempuan selama ini dituntut untuk menjalani banyak peran.

Bisakah kami menjadi ibu yang sempurna, istri yang penuh perhatian, pekerja profesional, dan tetap cantik?

Sampai akhirnya terjawab ketika saya menjadi ibu muda, melewati kehamilan hingga mengurus newborn dalam kondisi long distance marriage, menjadi ibu pekerja yang harus menitipkan anaknya di daycare, merantau ke Jakarta, dan berNasyiah (baca: terlibat di organisasi Nasyiatul Aisyiyah).

Saya ingat betul satu momen di mana saya pergi ke daerah Gandaria untuk magang menjadi paralegal di Posbakum Aisyiyah, di mana usia kehamilan saya sudah delapan bulan dan sendirian saja di Jakarta. Bukan memaksakan diri, tetapi ini adalah salah satu upaya untuk mengajak tubuh, pikiran, dan kepedulian sosial sehingga saya bisa tetap merasa waras dan berdaya —dan itu membuat saya bahagia.  

Mengingat kilas balik semua momen yang ada, rasanya boleh-boleh saja saya menyebut diri saya sebagai “superwoman” atau “ibu super”. Tetapi, tidak. Ternyata setelah melalui banyak hal dan perenungan yang mendalam, label itu cukup mengganggu saya.

Saya sadar bahwa label “superwoman” yang disematkan kepada seorang ibu bukanlah pujian, tetapi jebakan yang menyesakkan. Karena label itu, seorang ibu dituntut untuk menjalani beban-beban yang berlapis. Karena label itu, seorang ibu harus membuktikan dirinya cukup baik mengurus rumah sekaligus bekerja.

Sejak dulu, kita sudah dibiasakan untuk melihat ibu berjuang dan berkorban segalanya untuk keluarga, dan melihatnya sebagai sebuah kewajiban bahkan ibadah yang berpahala. Ibu berjuang, menahan diri, mungkin mengorbankan banyak hal dalam diam. Menjadi ibu yang baik tidak perlu menjadi martir.

Saya mungkin cukup beruntung karena memiliki support system yang mendukung dan sedikit kesadaran keadilan gender di keluarga. Memiliki privilege ini seperti memunculkan tanggung jawab moral yang membuat saya tidak bisa diam begitu saja. Setidaknya, saya ingin mengajak para ibu muda seperti saya untuk berhenti membuktikan diri menjadi “superwoman”, selain karena bagaimanapun kita menjalani peran hari ini kita sudah hebat —kita memiliki agenda yang lebih penting.

Baca Juga  Dinamika Perempuan Terhadap Kesetaraan
Ibu Super Adalah Penderitaan Sunyi

“Jadi ibu ya harus mau berkorban.”

Mungkin kalimat tersebut tidak dikatakan secara langsung oleh seseorang, atau mungkin pernah. Namun jujur saja, dalam alam bawah sadar kita, konstruksi bahwa “ibu harus berkorban” seperti sudah terinstalasi dengan kuat. Konstruksi ini mengarahkan ibu untuk memikul begitu banyak beban. Ibu tidak boleh mengeluh. Ketika ibu mengaku lelah, maka akan dianggap tidak ikhlas, lemah, bahkan gagal menjadi ibu.

Padahal ibu juga tetaplah manusia.

Tekanan ini biasanya soal pengasuhan dan urusan rumah tangga. Dua hal ini seringkali dibebankan kepada ibu. Bayangkan jika ibu harus menanggung ini sendirian. Ibu yang bekerja harus memperoleh beban ganda karena harus bekerja di luar dan dalam rumah. Ibu rumah tangga harus menanggung kerja perawatan tanpa libur yang tidak dibayar.

Bukan berarti mendegradasi nilai dari perjuangan seorang ibu. Perjuangan seorang ibu adalah mulia, tapi pengorbanan yang satu arah dan membuat ibu kelelahan adalah tanda ketimpangan. Membiarkan ibu menjadi perempuan super sendirian sama saja membiarkan kekerasan struktural berbasis gender terjadi. Kita tengah melanggengkan norma sosial, stereotip, dan tafsir yang membebani ibu secara sepihak.

Saya percaya keluarga harus menjadi ruang yang adil, di mana beban dipikul bersama. Pengasuhan dan urusan rumah tangga adalah tanggung jawab ayah dan ibu.

Lagipula, dalam setiap doa yang kita panjatkan untuk orang tua kita, bunyinya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Allahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada mereka sebagaimana mereka telah membesarkanku ketika aku masih kecil.”

Doa ini ditujukan untuk kedua orang tua, bukan hanya salah satu. Membesarkan, mencintai, dan mendidik seorang anak adalah upaya bersama antara dua orang. Tidak ada lagi alasan pengasuhan hanya dibebankan kepada ibu.

Baca Juga  Pandangan Islam Atas Kekerasan terhadap Perempuan
Keluarga Muda Tangguh Membutuhkan Sistem yang Adil

Sehingga saya sepakat daripada melabeli ibu sebagai perempuan super, maka lebih baik kita menggesernya menjadi “keluarga muda tangguh”. Label “super” mengondisikan ibu untuk selalu kuat dan menanggung semua beban tanpa boleh mengeluh. Saatnya kita menjadikan keluarga sebagai sentral dari peran pengasuhan dan perawatan untuk memunculkan tanggung jawab dari dua belah pihak. Saya bersyukur Nasyiatul Aisyiyah telah menginisiasi untuk menggunakan istilah “keluarga muda tangguh”.

Namun terlepas dari pentingnya menjadikan keluarga sebagai peran sentral, saya juga tidak ingin perhatian terhadap ibu menjadi terlupakan. Perhatian khusus terhadap ibu tetaplah harus diberikan secara serius. Keluarga muda yang tangguh hanya bisa ditopang dengan sistem yang adil: yang membuat beban ibu berkurang, dan mempermudah ayah untuk terlibat dalam urusan pengasuhan dan perawatan.

Ibu haruslah didukung dengan sistem yang baik, mulai dari pasangan hingga ekosistem yang mendukung. Suami adalah mitra, pengasuhan dan urusan rumah tangga tidak boleh lagi dipandang dalam rangka membantu istri, tetapi memang tugasnya. Dalam banyak kisah, Rasulullah bahkan memberikan contoh terlibat dalam urusan rumah tangga.

Selain itu, diperlukan juga sistem sosial dan kebijakan yang ramah ibu. Misalnya cuti ayah yang memadai, ruang laktasi di tempat umum, sosialisasi pranikah yang menekankan peran kesalingan, akses kesehatan mental ibu, hingga perlindungan dari kekerasan atau diskriminasi.

Kita sama-sama tahu bahwa kebijakan yang ramah ibu saat ini masih menjadi perjalanan yang panjang di Indonesia, namun kita bisa memulainya dari organisasi dan komunitas terdekat kita terlebih dahulu. Misalnya dalam setiap kegiatan Nasyiatul Aisyiyah, sudah tersedia daycare dan pengasuh. Menurut saya ini adalah nilai lebih, yang perlu ditingkatkan lagi sehingga ibu bisa tetap aktif dan tenang mengikuti berbagai macam kegiatan.  

Kemudian yang tidak kalah penting, komunitas yang suportif, tidak menghakimi, dan tidak membanding-bandingkan proses belajar setiap ibu. Lingkungan yang tidak sibuk bertanya, “Mengapa anakmu belum bisa ini-itu?” namun menawarkan sesuatu yang lebih solutif, “Apa yang bisa kami bantu?”

Baca Juga  Narsis vs Narsisme : Fenomena Sosial Masyarakat Bias

Semenjak menjadi ibu, saya menjadi berhati-hati sekali ngobrol dengan sesama ibu lainnya. Saya teringat dapat omongan yang tidak menyenangkan ketika fase-fase setelah melahirkan itu menyebalkan sekali. Sehingga berkata-kata baik kepada ibu baru juga bagian dari menciptakan sistem yang adil dan ramah terhadap ibu.

Toh, kita sedang tidak berkompetisi untuk menjadi ibu terbaik. Toh, anak kita memerlukan ibu versi diri kita sendiri bukan versi orang lain. Saya meyakini bahwa pengalaman setiap ibu berbeda, tidak bisa dibandingkan, dan apapun pilihannya kita tidak berhak menghakimi dan lantas merasa lebih baik. Bersikap bijak begini saja, ternyata sudah membantu beban mental ibu berkurang.

Menjadi Ibu yang Bahagia

Ketika beban ibu dibagi, ibu bisa menjadi diri mereka sendiri. Ibu tidak perlu merasa bersalah untuk memilih menjadi ibu yang hadir penuh atau perempuan yang penuh ambisi. Keduanya bisa berjalan bersamaan ketika beban dibagi dengan sistem yang mendukung dan adil.

Tujuan akhir dari agenda keadilan ini adalah ibu yang bahagia. Karena ibu yang bahagia dapat terus memberikan cinta kepada keluarganya. Di saat yang sama ia dapat tumbuh berkembang memaksimalkan segala potensinya dan bermanfaat bagi lingkungannya. 

Saya ingat hari-hari pertama reuni saya dengan suami setelah long distance marriage beberapa lama. Kami rapat pleno, menegosiasikan ulang rencana hidup dan peran-peran kami dalam keluarga. Perjalanan hamil, melahirkan, dan LDM ini mengajarkan kami banyak hal: bahwa keluarga yang tangguh tidak dibentuk oleh seorang ibu sendirian, ada peran ayah yang signifikan. Kami adalah tim. Tentu kami bukanlah keluarga yang sempurna, tetapi at least, kami terus mencoba untuk menjadi adil, baik, dan kuat satu sama lain.

Selamat milad ke-95, Nasyiatul Aisyiyah. Tetap menjadi ruang belajar keluarga dan rumah pulang bagi banyak ibu di Indonesia.

Bagikan
Post a Comment