f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Di Rumah Saja, Tidak Semudah Itu

Harus diakui, romantisasi gerakan “di rumah saja” sebenarnya cukup bias kelas dan cenderung kurang adil. Bahwa kita perlu mensyukuri segala hal yang masih bisa kita nikmati, di tengah semua nestapa yang kita hadapi semasa pandemi, adalah satu hal yang baik.

Tetapi, kita juga perlu tahu, tidak semua orang baik-baik saja dengan “di rumah saja”.

Jika kita bukan buruh lepas harian yang harus keluar rumah untuk bertahan hidup. Jika tak ada sesuatu yang begitu mendesak memaksa kita untuk keluar rumah. Jika tak ada tugas yang mengharuskan kita terus menjaga hal-hal penting yang tak bisa digantikan orang lain. Saya rasa kita sepakat untuk “di rumah saja” melakukan “physical distancing” dalam rangka melandaikan kurva penyebaran virus corona.

Di sini saya tak ingin membahas perlu atau tidaknya kita “di rumah saja”. Saya sendiri sudah hampir dua bulan mengurung diri di rumah, keluar jika hanya ada keperluan penting saja, dan menyimpan kekhawatiran bahkan kekesalan tersendiri untuk mereka yang masih terus beraktivitas sosial seperti biasa.

Tetapi, izinkan kali ini saya bercerita satu sisi yang barangkali luput kita sadari. Bahwa “di rumah saja” ternyata bukan perkara yang mudah dan sederhana.

Kita mulai dari yang paling konyol. Ternyata rebahan itu sangat melelahkan. Kita yang mungkin sering mencibir para pengangguran yang kerjanya tidur atau nonton TV saja, kini rupanya kita mengerti betapa stresnya menjadi pengangguran. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan di rumah saja ternyata membutuhkan keahlian dan kesabaran luar biasa.

Saya jadi ingat para ibu rumah tangga. Mereka yang karena satu dan lain hal terpaksa atau dipaksa untuk “di rumah saja” setiap hari. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Memasak, mengurus sarapan keluarga, menyiapkan anak-anak pergi sekolah, mencuci, menyetrika, membereskan rumah, menyambut anak-anak pulang sekolah, menemani mengerjakan PR, membereskan rumah lagi, menunggu suami pulang, menyambut suami pulang, makan malam terlambat, lalu tidur lagi. Dan besok kurang lebih masih sama, dengan lebih banyak drama, tentu saja.

Baca Juga  Sense of Belonging di Tengah Pandemi Covid -19

Mudah-mudahan kali ini para suami yang “work from home” mengerti betapa beratnya “di rumah saja” itu. Mudah-mudahan tidak lagi ada kalimat yang menganggap sepele, “Kamu sih enak di rumah saja!” Karena ternyata di rumah saja itu sangat tidak menyenangkan. Ternyata jawaban dari perdebatan “Kamu sih enak bisa keluar dan punya waktu sendiri!” bukan isapan jempol belaka.

Jadi, apakah para ibu yang mendambakan libur kecil berupa belanja mingguan atau belanja bulanan ke supermarket adalah sikap yang berlebihan? Apakah para istri yang setengah mati ingin tamasya merupakan bentuk sikap tak tahu diri dan tak peka pada ekonomi keluarga?

Ternyata, mengapa mereka sering bermimpi sambil menonton serial TV atau drama Korea, paling tidak itulah hiburannya! Sekarang kita, para suami, pun begitu.

Sekarang bayangkan jika hubungan suami-istri tidak romantis, kadang dibumbui pertengkaran bahkan melibatkan kekerasan verbal maupun fisik, betapa menyiksa “di rumah saja”, bukan? Bayangkan anak-anak kurang beruntung yang punya orang tua ‘abusive’ setiap hari merasa terancam dan ketakutan?

Bayangkan sebuah keluarga yang penuh konflik? Selama ini mereka bisa sejenak melarikan diri ke sekolah atau ke tempat nongkrong, sekarang harus terpenjara di rumah saja sepanjang hari!

Harus kita akui, tak semudah itu di rumah saja. Apalagi bagi mereka yang tak punya segala fasilitas yang mendukung. Tak ada ‘gadget’, tak ada internet, tak ada konsol video game, bahkan tak cukup bahan makanan.

Jangankan bikin ‘instastory’ masak-masakan, berkarya di rumah, membuat kerajinan tangan, atau seterusnya, bahkan untuk bertahan hidup saja belum tentu. Bayangkan mereka yang tinggal di kontrakan petak, di rumah mungil, yang antara dapur dan kamar mandi saja tak jelas sekatnya.

Baca Juga  Masalah Pernikahan yang Berujung Perceraian

Pandemi ini, di tambah puasa Ramadhan, mudah-mudahan menumbuhkan kepekaan di dalam diri kita. Semoga berhasil memupuk empati. Bahwa yang lain boleh jadi tak seberuntung kita. Bahwa kita selalu perlu menyediakan pikiran, perasaan, dan tangan untuk berbagi serta bersolidaritas dengan sesama.

Apakah pemerintah sudah bergerak ke sisi gelap ini? Apakah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komnas Perempuan, KPAI, dan semua ‘stakeholder’ yang berhubungan dengan tema ini sudah bekerja serius menyapa para korban KDRT, single parent, bahkan mereka yang takut bersuara padahal menderita? Mereka yang di rumah saja tetapi seperti di neraka.

Apakah organisasi kemasyarakatan sudah bergerak mendorong agar kita semua mengecek stok beras tetangga, bukan hanya bikin acara seremonial dan foto-foto belaka? Apakah anak-anak korban kekerasan, masyarakat yang bisa jadi depresi, sudah kita perhatikan? Para pengkhotbah yang setiap hari mengajak sabar, apakah pernah merasakan hal yang sama?

Barangkali inilah saatnya kita bergerak ke arah sana. Inilah saatnya kita membangun solidaritas yang baru. Mengasah empati. Bahwa ‘di rumah saja’, tidak semudah itu!

*Penulis buku Rumah Tangga (2015), Sehidup Sesurga (2017) dan Nasihat Sebelum Bercerai (2020)

Bagikan
Post a Comment