f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

10 Trik Bacakan Anak Buku Tanpa Baper!

Oleh : Arin Setiyowati

Di era gempuran gadget yang sudah mewabah, tidak sedikit balita yang terpapar. Maka salah satu ikhtiar saya dan suami untuk menghindarkan Arasy (red : anak pertama kami, umur 2 tahun labih 3 bulan) dari bahaya gadget adalah menghadirkan buku ananda di rumah. Khususnya buku-buku yang fisiknya ramah balita dan kontennya sesuai tumbuh kembangnya. Bagi kami, ini adalah bagian dari investasi dunia-akhirat dan investasi leher ke atas untuk ananda yang amat penting.

Melalui narasi kecil ini, saya bermaksud untuk mengulas sedikit tentang pengalaman kami terkait proses membacakan buku yang menyenangkan untuk ananda di rumah. Terlebih pada masa pandemi covid-19 ini yang mengharuskan WFH (Work from Home), sehingga memiliki banyak waktu untuk membersamai ananda bermain sambil membacakan buku untuknya.

Dalam membacakan buku kepada ananda jangan mudah “Baper”, kenapa? Karena dalam proses membacakan buku tidak jarang ananda kabur pas kita sedang bacakan buku, belum ditambah drama mau ke kamar mandi, ambil mainan mobil-mobilannya dan sejenisnya rupa polah ananda kita.
Namun? Apakah kita lantas menyerah untuk visi besar kita?

No BAPER ya Rahmania! anggap saja drama-drama tersebut merupakan momen seru saat kita membersamai ananda dalam membacakan buku.

Lantas, bagaimana cara membacakan buku yang baik, menarik, sekaligus menyenangkan untuk ananda?

Pertama, Memilih buku yang tepat.

Memilih buku untuk dibacakan ke ananda itu penting sekali. Bagaimana cara memilihnya? Pertimbangan utama adalah usia ananda kita, yang akan menjadi sasaran dalam proses transformasi informasi maupun nilai-nilai yang kita berikan lewat aktifitas membacakan buku.
Karena usia menentukan buku apa yang tepat untuk dikonsumsi mereka baik bentuk fisik, proporsi banyak sedikitnya teks dan gambar, diksi dalam buku, serta nilai moral apa yang akan kita tanamkan ke ananda.

Misalnya, untuk ananda usia bayi 0-1 tahun, kita bisa membacakan buku bantal yang empuk sehingga aman untuk dikrues-krues olehnya. Atau buku dengan high contrast yang berbahan board book. Jika usia mulai menginjak balita, maka disarankan untuk memilih buku jenis board book karena aman dan lebih awet. Apalagi balita biasanya yang suka mengeksplorasi bukunya. Bayangkan jika bahan bukunya berupa kertas tipis, maka buku akan mudah sobek atau rusak. Belum lagi corat-coret, ketumpahan air dan tingkah polah lainnya. Sehingga ananda bisa leluasa untuk mengeksplorasi bukunya, tanpa khawatir rusak.

Baca Juga  Mengembangkan Kreativitas Anak Agar Produktif Selama Pandemi

Selanjutnya, jika mereka sudah terbiasa beraktifitas maupun bermain dengan buku, maka boleh ditambahkan memilih buku dengan tambahan fitur seperti pop up atau flip flap. Sambil selalu menanamkan ke ananda tentang bagaimana cara merawat buku dengan baik, misal hal simple cara membuka halaman buku dengan baik dan benar, atau mengajaknya meletakkan buku yang sudah dibaca ke tempat semula. Nah, jika sudah mulai jatuh cinta dan bisa menjaga bukunya, maka buku-buku dengan kertas tipis mulai bisa diberikan.

Selain memilih material fisik buku yang tepat untuk ananda, memilih tema buku yang tepat juga penting dalam merujuk ananda cinta membaca. Pilihlah buku dengan tema-tema kesukaan mereka atau yang dekat dengan keseharian ananda. Biasanya, anak-anak menyukai cerita binatang dengan porsi gambar yang lebih dominan dengan full colours daripada teks. Akhir-akhir ini banyak pilihan cerita binatang yang sarat nilai kebaikan maupun Sirah. Misalnya kisah binatang yang diceritakan dalam Al-Qur’an.

Kedua, Memilih waktu yang tepat untuk membacakan buku

Berdasarkan penemuan Electroencephalogram (EEG) Hans Berger (1919-1938), Joaquim Filipe dalam bukunya “Agents and Artificial Intelligence” mengungkapkan bahwa sesi membacakan buku sebelum tidur adalah satu waktu yang tepat karena gelombang otak anak pada kondisi Alpha (8hz-12hz) yang mana kondisi otak yang cocok untuk stimulasi nilai-nilai moral (pemrograman alam bawah sadar anak).

Space waktu sebelum tidur merupakan saat kita dan ananda sama-sama rileks. Momen rileks inilah yang membuat ananda mudah menangkap isi bacakan sekaligus pesan yang kita sampaikan, khususnya melalui aktifitas membacakan buku.

Nah, pengalaman saya pribadi, pada waktu-waktu inilah saya lebih otoritatif dalam memilihkan buku mana yang harus dibaca sebelum tidur, karena saya punya target atas bahan materi yang akan saya sampaikan. Yakni tentang seri sirah Nabi dan sahabat yang sarat pesan moral dan keteladanan.
Selain waktu sebelum tidur, bagi kami, waktu mngeASIhi adalah space waktu berharga untuk berkomunikasi intens melalui membacakan buku. Jadi sebelum nenen, doi saya minta mengambil satu buku pilihannya. Dan hampir bisa dipastikan buku yang diambil adalah buku-buku favoritnya, entah karena gambar atau temanya. Misal buku yang ada gambar kereta di dalam buku tersebut, atau gambar kuda, unta maupun sapi, atau tokoh idolanya misal si Abid dan Shalih.

Kita Bosen? Pastinya, tapi, ini salah satu cara kami dalam memberi kesempatan kepadanya untuk memilih tanpa intervensi.

Baca Juga  Orang Tua yang Tak Kenal Anaknya

Mulai usia berapa? Sejak dalam kandungan, kalau nunggu sampai dia paham? Bisa juga, tapi prosesnya akan lebih lama dan sulit. Karena sejatinya membudayakan baca buku sejak dini bukanlah supaya cepat bisa membaca, namun lebih pada upaya penanaman cinta proses membacanya. Dan ini jauh lebih penting daripada sekedar cepat bisa membaca.

Ketiga, Membacakan dengan artikulasi yang jelas

Tipe membaca yang ditawarkan oleh beberapa pakar untuk anak adalah Reading Aloud, yakni membacakan buku dengan suara keras. Hal ini mengingat usia anak adalah perkembangan motorik ananda yang sedang bekembang pesat, sehingga lagi-lagi jangan baper saat kita asyik membacakan buku, eh? Dianya sambil lari-lari dsb. Sehingga reading aloud menjadi salah satu solusi. Tentu saja reading aloud ini perlu dilengkapi dengan trik jitu dalam menarik perhatian ananda untuk kembali fokus pada buku, misal disisipkan aktifitas menyanyi saat membacakan buku, melibatkan ananda dalam membaca buku melalui tanya jawab gambar dsb.

Reading aloud dilakukan tentu dengan artikulasi yang jelas. Supaya menstimulus ananda agar mudah menangkap kosakata baru sekaligus jalan ceritanya. Bagi ananda yang belum bisa berbicara lancar, bisa sebagai upaya melatih berbicara dengan baik dan benar, serta supaya pembendaharaan kosakatanya sesuai EYD.

Keempat, Membacakan dengan intonasi yang tepat.

Nah, salah satu trik untuk menjadikan ananda tertarik membaca buku, atau mendengarkan kita saat dibacakan buku maka kita perlu menggunakan intonasi yang tepat. Tidak bisa datar-datar saja, karena memicu ananda bosen untuk mendengarkan cerita. Naik turun nada perlu diperhatikan, misal saat marah, bahagia maupun sedih.

Kelima, Ekspresif.

Dalam bercerita, wajah kita perlu berekspresi sesuai dengan ceritanya. Ekspresi kita turut berubah seiring cerita. Bisa marah, sedih, atau ceria. Sehingga penghayatan atas cerita serta ekpresi yang disampaikan tidak ambigu diterima oleh ananda. Hal ini penting, mengingat bahwa tujuan membacakan buku di usia ananda 0-7 tahun adalah mengajarkan ekspresi supaya kelak mampu secara tepat mengkspresikan dirinya ke khalayak sehingga memupuk emphaty (kepedulian) terhadap sesama.

Keenam, Mengeksplorasi ilustrasi buku

Supaya tidak hanya satu arah saat membacakan cerita, maka lakukan pelibatan ananda dalam proses membaca. Yakni melalui ajakan untuk melihat lebih detail ilustrasinya. Misal ketika di gambar, ada beberapa kupu-kupu, maka kita bisa bertanya. “Wah, ada kupu-kupu, ada berapa kupu-kupunya yaa? Kita hitung yuuuk!”. Nah, disini erat kaitannya dengan penjelasan di atas tentang memilih buku yang tepat, yakni memilih buku yang menambahkan tebak-tebakan, maze, atau mencari gambar tersembunyi.

Baca Juga  Membentuk Sikap Anak Lewat Kenangan

Ketujuh, Mengaitkan cerita di buku dengan kehidupan sehari-hari ananda

Dalam proses membacakan buku, sebagai orang tua kita harus bisa dan sigap dalam mengaitkan cerita buku dengan keseharian ananda di rumah maupun sekolah. Hal ini dapat membuat ananda merasa dekat dengan ceritanya sekaligus memudahkannya memahami pesan yang kita sampaikan.


Kedelapan, Memberi kesempatan ananda bertanya atau berkomentar.

Hal ini merupakan bagian mengefektifkan komunikasi dua arah dengan ananda, sehingga pemberian kesempatan dan penghargaan atas keberadaan ananda dapat menjadi stimulus positif supaya ananda tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Selain itu, terkadang memang pertanyaan dari ananda tidak nyambung dengan konten cerita atau bahkan ananda bertanya terus-menerus. Stop, jangan Baper ya, Karena itu artinya ananda proses mencerna materi yang kita sampaikan, bahkan bisa jadi saking tertariknya ananda dengan apa yang kita bacakan. Sekaligus itu menjadi tanda kecerdasan ananda.

Kesembilan, Membacakan buku dengan hati yang riang

Hal ini penting, karena energi positif orangtua akan terpancar dan tersalur kepada ananda. Jadi kalau kita senang dan moodnya positif, maka ananda-ananda pun akan turut semangat. Ananda bisa kok merasakan apakah kita membacakan buku dengan hati atau justru malas-malasan. Karena tidak ada ruginya saat kita rajin membacakan buku untuk ananda.

Kesepuluh, Konsisten

Sesibuk apapun kita di luar sana, luangkan waktu minimal 15 menit dalam sehari untuk quality time bersama ananda dengan membacakan buku. Supaya generasi kita tidak tercerabut dari budaya Iqra’ yang menjadi wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan kita konsisten membacakan buku dan bercerita dengan hati kepada ananda, maka hal ini juga menjadi media bonding kita dengan ananda. Supaya saat dia dewasa kelak, dia tidak lemah dengan gempuran teknologi dan informasi yang tidak berfaedah.

Tidak ada kata terlambat, selamat mencoba Rahmania!

*) Arin Setiyowati: Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kader Nasyiatul Aisyiyah

Bagikan
Post a Comment