f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
eksistensi

Ramadan; Momentum Mewujudkan Eksistensi

“Hai, Dik, jangan macam-macam, dong!” demikian ungkapan yang saya lontarkan pada seorang remaja tanggung kemarin.

Bila tidak diburu waktu, ingin rasanya saya menepikan mobil kemudian turun dan menghampiri remaja tersebut. Di depannya akan saya ungkapkan rasa kesal, marah, sekaligus sedih. Apa tujuannya melakukan “kegilaan” yang baru saja ia coba?

Kegilaan? Ya, bagi saya, menyengajakan diri untuk tiba-tiba menghampiri dan berdiri di depan kendaraan yang sedang melaju adalah sebuah “kegilaan”. Bila sang sopir berhasil mengerem kendaraannya tepat waktu, pemuda itu akan selamat. Bila tidak? Tentu pengorbanan nyawa yang sia-sia. Tidak hanya bagi remaja tersebut, tetapi juga sang sopir.

Kemarin, saya yang hanya melihat kejadian tersebut dari jarak dekat karena berada pada jalur yang berlawanan, merasakan emosi sedemikian rupa. Saya merasa wajar saat melihat sang sopir yang susah payah menghindar dan mengerem kemudian memarahi dan memaki remaja tersebut. Sopir tersebut hampir saja menjadi korban “kegilaan” remaja itu bila terlambat menghindar, bukan?

Saya menyebut kejadian tersebut sebagai sebuah “kegilaan” karena apa yang terjadi tadi adalah kesengajaan. Ia sengaja menghampiri dan berdiri di depan kendaraan yang sedang melaju untuk menunjukkan eksistensinya. Tidak tampak, kok, keinginan bunuh diri. Dalam pikiran saya, ia bersama seorang rekannya “mungkin” ingin merekam kejadian tersebut dan berharap viral.

Saya bersyukur tidak terjadi hal yang buruk. Kendaraan tidak dalam posisi melaju kencang. Remaja tadi pun tampaknya setengah ragu menjalankan aksinya. Ternyata, teman yang menyertainya bukan bersiap untuk merekam kejadian tersebut, tetapi berlari menjauh sambil tertawa-tawa. Nyebelin memang.

Kejadian itu mengganggu pikiran saya. Sebelumnya, saya pernah menyimak kejadian yang serupa. Beberapa remaja mengadang truk yang lewat hanya untuk membuat konten di media sosial dan berharap viral. Nahas, mereka akhirnya viral setelah kehilangan rekan yang tewas saat kejadian.

Baca Juga  Tablet Tambah Darah, Si Kecil yang Menyelamatkan

Lalu, siapa yang harus disalahkan? Sopir truk yang menabrak? Sopir tersebut tentu tidak punya niat menjadi viral. Namun akhirnya, ia viral karena dicari polisi untuk diperiksa karena menabrak orang hingga meninggal dunia. Kasihan. Saya tidak berani membayangkan bila sopir itu adalah saya. 

Eksistensi di Media Sosial

Media sosial memang menggiurkan. Tak hanya memberikan kemudahan untuk mengakses informasi, tetapi juga dapat menjadi ajang aktualisasi diri. Media sosial menyediakan sarana bagi para remaja yang membutuhkan ruang untuk menunjukkan aktualisasi diri dan mendapatkan penghargaan. Sejalan dengan teori Abraham Maslow mengenai kebutuhan memperoleh penghargaan dan kesempatan untuk aktualisasi diri sebagai bagian dari lima tingkatan kebutuhan dasar manusia.

Remaja sangat sensitif terhadap pandangan orang lain, terutama rekan sebayanya. Mereka akan cemas dan rendah diri bila berbeda dengan lingkungannya. Rasa cemas dan rendah diri itulah yang kadang memaksa mereka melakukan hal di luar kewajaran. Mereka “memaksa” diri mengikuti tren di media sosial dengan berbekal “sedikit” nyali. Akibatnya mereka melakukan aktivitas yang nyeleneh bahkan “gila” hanya demi konten di media sosial. Bagi mereka, eksistensi dan penghargaan adalah jumlah follower atau like yang banyak.

Kebutuhan untuk berekspresi, menunjukkan eksistensi, dan memperoleh penghargaan yang “kebablasan”, dapat dihubungkan dengan penyakit kejiwaan atau mental illness. Hal itu muncul akibat penggunaan media sosial secara terus-menerus tanpa batasan yang jelas. Apalagi, media sosial memang dapat memberikan rasa senang dan bahagia sehingga remaja cenderung menggunakannya terus-menerus.

***

Pandemi panjang akibat COVID-19 meningkatkan potensi gangguan pada kesehatan mental remaja yang bahkan sebelum pandemi pun sudah menanggung beban yang kerap terabaikan. UNICEF melaporkan bahwa terdapat satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun yang didiagnosis memiliki gangguan mental, sedangkan di Indonesia hampir satu dari tiga anak muda merasa tertekan akibat pandemi.

Baca Juga  Dunia Hanyalah Permainan untuk Menguji Keimanan

Dr. Zakiah  Daradjat mendefinisikan kesehatan mental melalui kemampuan seseorang untuk menghindar dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan penyakit jiwa (psychose). Kemampuan menghindar tersebut berhubungan dengan keterampilan seseorang  untuk  menyesuaikan  diri  dengan  diri  sendiri,  orang  lain, masyarakat, serta lingkungan di mana ia hidup.

Berkaca pada definisi kesehatan mental menurut Dr. Zakiah  Daradjat tersebut, pembatasan mobilitas yang menyebabkan perubahan terhadap keseharian memberikan pengaruh yang nyata. Anak dan remaja kehilangan kesempatan untuk bermain, sekolah, dan bersosialisasi secara langsung. Secara global, UNICEF menyatakan bahwa terdapat 1,6 miliar anak terdampak akibat terhambatnya proses belajar mengajar. Hal itu menyebabkan timbulnya rasa takut, khawatir, hingga depresi yang salah satu tandanya adalah menurunnya minat untuk berkegiatan. 

Memang pandemi bukan satu-satunya penyebab menurunnya kesehatan mental remaja. Faktor genetika, pola asuh, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan turut mempengaruhinya. Namun, pandemi menguatkan faktor pemicu tersebut.

Eksistensi dari SangPencipta

Eksistensi manusia sebenarnya telah diberikan sejak keberadaannya di muka bumi. Manusia merupakan makhluk terbaik karena memiliki keunggulan dibandingkan yang lainnya. Al-Qur’an menjelaskan;

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S Al-Isra’ ayat 70)

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S At-tin ayat 4)

Eksistensi manusia bahkan lebih dari malaikat karena memiliki intelektualitas yang lebih tinggi. Dalam Q.S Al-Hijr ayat 29, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Sebagai makhluk terbaik, manusia memiliki potensi untuk melakukan aktualisasi diri. Eksistensi manusia dapat terwujud bila aktualisasi tersebut dilakukan dan digunakan sesuai dengan tugasnya di muka bumi. Namun, manusia juga memiliki kebebasan untuk memilih jalannya dalam mewujudkan eksistensi tersebut. Tentu dengan kesiapan untuk mempertanggungjawabkannya.

Baca Juga  Remaja Korban Pemerkosaan dan Aborsi
***

Puasa bermakna pengendalian diri. Orang yang berjiwa sehat mampu menguasai dan mengendalikan diri terhadap dorongan-dorongan yang datang, baik dari dalam maupun luar dirinya. Ramadan adalah kesempatan untuk memulihkan kesehatan mental dan mewujudkan eksistensi sebagai makhluk Allah.

Eksistensi manusia dinilai dari kemampuannya mencapai taraf keimanan melalui kreatifitas yang dimiliki. Keberhasilannya sebagai makhluk Allah membuat manusia mendapat gelar insan kamil.

Meski Ramadan masih dalam suasana pandemi COVID-19, tetapi sudah tidak ada lagi pembatasan dalam beribadah. Saatnya bersiap memasukinya dengan amalan terbaik. Semoga Ramadan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kembali kesehatan mental remaja yang turun akibat pandemi dan faktor pendorong lainnya. Sehingga, tak ada lagi “kegilaan” yang dilakukan hanya untuk menunjukkan eksistensi. Semoga gelar insan kamil berhasil kita raih setelah lulus Ramadan.

Bagikan
Post a Comment