Hidup Santuy dengan Filsafat Stoikisme
Sebagai remaja usia tanggung, saya menyadari bahwa saya adalah pemula dalam menjalani kerasnya realita. Saya ingat betul ketika masih duduk di bangku sekolahan, hidup berjalan hanya tentang belajar, main, dan pacaran. Itupun kalau punya pacar. Berbeda dengan yang saya rasakan sekarang, teman-teman yang dulu akrab kini mulai fokus dengan tujuannya masing-masing. Rasanya seperti mereka sudah begitu jauh, sedangkan saya hanya diam di tempat. Tak jarang sambatan “Hidup kok gini-gini aja, ya?” terucap setiap kali sedang merenung meratapi kehidupan.
Sampai di suatu malam saat sedang asik scrolling twitter, saya menemukan sebuah utas mengenai filsafat stoikisme. Jujur saja, ketika mendengar kata filsafat saya sudah males karena terbayang dengan sesuatu yang terlalu abstrak dan rumit dipahami. Tapi, entah mendapat wangsit dari mana, saya tergerak untuk membaca utas tersebut yang ternyata adalah awal perkenalan saya dengan filsafat stoikisme. Rasanya seperti menemukan jawaban dari berbagai problematika dalam diri selama ini. Berangkat dari pengalaman tersebut, saya ingin membagikan sedikit mengenai filsafat stoikisme siapa tau bisa memberikan sedikit pencerahan pada sobat insecure dan overthinking masa kini.
Secara singkat, stoikisme adalah sebuah aliran filsafat yang mengajarkan bagaimana menjaga pikiran dari emosi negatif dan melipat gandakan kebahagiaan dan rasa syukur. Dalam stoikisme kebahagiaan diartikan sebagai tidak adanya emosi negatif. Pertama kali diperkenalkan oleh Zeno dari Citium yang kemudian terus berkembang hingga saat ini. Beberapa tokoh stoikisme yang terkenal adalah Seneca seorang pedagang, Epictetus seorang budak, dan Marcus Aurelius seorang kaisar.
Dikotomi Kendali
Seorang stoik membagi segala hal dalam hidup menjadi dua lingkup, yaitu sesuatu yang dapat kita kendalikan (lingkup internal) dan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan (lingkup eksternal). Sejauh ini, sebagian besar alasan kita kecewa adalah karena menggantungkan kebahagiaan kita di lingkup eksternal. Bukankah kita akan bahagia jika mendapat pujian dari seseorang? Bukankah kita akan bahagia jika mendapat banyak uang? Dan bukankah kita akan bahagia jika naik jabatan?
Dalam ajaran stoikisme, kesenangan seperti itu adalah sesuatu yang absurd. Lantas bagaimana jika ternyata salah satu atau bahkan semua hal yang membuat kita bahagia tersebut tidak terjadi? Tentu, kita akan kecewa. Sehingga inilah pentingnya untuk menggantungkan kebahagiaan dalam lingkup internal. Stoikisme mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang dapat kita lakukan.
Jika menjawab pertanyaan di atas kembali dengan bergantung pada lingkup internal maka jawabannya adalah saya melakukan sesuatu karena saya ingin melakukannya. Jika ingin mendapat banyak uang maka saya harus bekerja dengan giat, hidup sesuai kebutuhan, dan rajin menabung. Dan, jika saya ingin naik jabatan maka saya harus bersikap profesional dan meningkatkan pengalaman serta kemampuan diri. Selebihnya adalah sesuatu yang berada di luar kendali diri kita, sehingga kita tidak mempunyai kuasa untuk mengatur hal tersebut.
Ekspetasi dan Berpikir Rasional
Setelah kita memiliki fokus penuh terhadap sesuatu yang dapat kita kendalikan, maka selanjutnya adalah tentang mengatur ekspetasi dan berpikir secara rasional. Sebagai contoh, ketika akan ujian kita akan belajar dengan sungguh-sungguh dengan harapan mendapat nilai A. Sebaliknya, stoikisme mengajarkan agar kita tidak lagi berharap pada nilai A tersebut. Stoikisme menganjurkan untuk beranggapan bahwa kita akan mendapat nilai D serta memperhitungkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Tidak, stoikisme tidak mengajarkan kita untuk menjadi orang yang pesimis dan tidak percaya diri. Justru stoikisme adalah sebuah jalan tengah yang netral karena ketika ternyata kita benar-benar mendapat nilai D maka setidaknya kita sudah siap dengan hal tersebut, namun jika kita mendapatkan nilai yang lebih baik hal tersebut yang akan melipat gandakan rasa bahagia dan bersyukur. Sehingga seorang stoik terbiasa untuk mengatur ekspetasi mereka serendah mungkin dengan tujuan mempersiapkan diri dari rasa kecewa dan melipat gandakan rasa syukur dan bahagia.
Stoikisme Sebagai Filter
Mari kita sepakati bersama bahwa laju informasi yang sangat cepat di era saat ini memberi berbagai dampak bagi kita. Salah satunya adalah gaya hidup serba cepat yang seakan membuat kita semua sedang dalam sebuah perlombaan menuju kesuksesan. Tidak jarang di media sosial kita saat ini ditemui konten serupa “Kiat-kiat sukses sebelum usia 25 tahun”
Konten-konten tersebut yang akhirnya memicu kita untuk membandingkan diri dengan pencapaian mereka, menciptakan sebuah ilusi bahwa kita berada tertinggal sangat jauh di belakang. Pada akhirnya, perasaan ini memicu rasa iri, benci, bahkan kecewa karena kita merasa tidak mampu berada di level yang sama. Padahal ada berbagai faktor yang membuat kita semua memulai sesuatu dari garis awal yang berbeda. Hidup seakan hanya tentang bagaimana caranya agar diakui dan dilihat oleh orang lain.
Stoikisme hadir sebagai filter di era serba cepat saat ini, seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa orang-orang stoik hanya akan berfokus pada lingkup internal mereka tanpa menghiraukan apa yang terjadi di lingkup eksternal mereka. Maka seharusnya pencapaian orang lain adalah sesuatu yang berada di lingkup eksternal kita, yang ada di lingkup internal kita adalah bagaimana cara kita bersikap ketika melihat hal tersebut. Seperti yang Epictetus katakan bahwa,
“It is not things that disturb us, but our opinion of them“
Demikian sedikit pemahaman saya mengenai stoikisme, saya pribadi akan sangat menyarankan untuk Rahmania mempelajari lebih dalam tentang stoikisme. Namun, perlu diingat bahwa tidak perlu berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan biasanya berujung pada kesesatan.
Mahasiswa paruh waktu, separuhnya lagi masih bingung mau ngapain.
Instagram: @ditoyudhistiraa
