f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tokoh nasional

Generasi Milenial Lupa Tokoh Nasional

“Kamu kenal nggak sama yang di foto ini?” tanya seorang pemuda. “Atta Halilitar,” jawab seorang anak remaja dengan mantap. “Kalau ini tahu namanya nggak?” tanya pemuda itu lagi sambil menyodorkan foto Ibu R.A Kartini. Jawaban dari remaja tersebut yang bikin kaget adalah “Emm.. siapa ya, pernah tahu tapi lupa. Itu ibu i-itu, ibu sejarah pokoknya,” jawab remaja tersebut.

Si penanya langsung terkejut begitu mendengar jawaban remaja tersebut. Saya pun begitu, kaget dan terbelalak begitu mendengar jawabannya. Dalam video yang di unggah di Twitter tersebut tidak hanya bertanya pada satu remaja saja, namun ada 3 remaja yang ditanya.

Saya mengira hanya satu dari  tiga remaja berusia sekitar 14 tahun an yang mungkin kelupaan saat ditanya foto tokoh nasional. Namun ternyata hal serupa terjadi pada dua remaja lainnya.

Saat remaja kedua disodorkan Pak foto B.J Habibie, remaja tersebut gugup dan tidak tahu jawabannya. Yang dia katakan malah “Emm.. i-itu pokoknya, emm DPR lah pokoknya,” jawab remaja kedua.

Pada remaja ketiga, saat ditanya foto artis lancar menjawab, saat ditanya foto pak B.J Habibie, malah diam saja tidak tahu jawabannya. Duh, bagaimana bisa para remaja ini lupa dengan tokoh penting di Indonesia ini. Lantas, memang kenapa kalau lupa? Memang seberapa penting?

Dunia Digital dan Generasi Milenial

Dunia digital di era serba teknologi seperti ini memang merenggut sebagian kehidupan manusia di dunia nyata beralih ke dunia maya. Bahkan generasi milenial sering juga disebut generasi menunduk. Bagaimana tidak, saat di manapun kita bertemu orang lain termasuk remaja, tidak lain dan tidak bukan yang dilakukan adalah menunduk untuk bermain ponsel genggam.

Baca Juga  Hubungan Erat Antara Gen Z dan Media Sosial Terhadap Perkembangan Indonesia : Bergerak atau Diam?

Bahkan banyak orang yang mengatakan lebih baik tidak bawa dompet daripada tidak bawa telepon genggam. Dalam arti lain, telepon genggam sudah masuk ke sebagian kehidupan manusia.

Kebiasaan ini juga tidak terlepas dari kehidupan para remaja. Di mana waktu yang dimiliki,  sebagian besar dihabiskan dengan bermain telepon genggam. Remaja yang notabene masih bersifat emosional, mereka belum bisa memanfaatkan telepon genggam tersebut secara maksimal.

Saya pernah bertanya kepada salah satu kawan yang umurnya tidak terlalu jauh dengan saya. Apa yang dilakukannya ketika menggunakan telepon genggam. Dia menjawab bahwa yang dilakukannya adalah melakukan obrolan secara online, menonton video di Youtube, dan bermain sosial media.

Adanya dunia digital memang dapat memberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi. Ketika kita mencari sesuatu di laman pencarian maka akan muncul jawaban yang kita inginkan. Namun, informasi apa yang sebenarnya dicari dan diinginkan oleh para generasi milenial? Video yang saya tonton adalah salah satu jawabannya.

Di mana para generasi milenial ini memiliki rasa ingin tahu terhadap idola kesukaannya, artis, youtuber, dan selebgram. Mereka rela mencari dan menonton foto atau video idola mereka agar tahu segala aktivitas yang diunggah para idola.

Sayangnya, sedikit yang mengidolakan para tokoh nasional sehingga sedikit yang memiliki rasa ingin tahu terhadap tokoh nasional.  Ini menjadi salah satu bukti bahwa wawasan nasionalisme telah tergeser menjadi wawasan “artisme”.

Pentingnya Melirik Tokoh Nasional

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Ucap Bung Karno pada Hari Pahlawan tanggal 10 November 1961.

Salah satu wujud dari menghormati jasa pahlawan adalah dengan mengingat serta mengenang perjuangan tokoh terdahulu. Artinya, jika sudah lupa terhadap tokoh apalagi terhadap perjuangannya, di mana letak generasi kita ini dalam menghormati dan rasa syukur terhadap perjuangan para tokoh nasional ini?

Baca Juga  Muslimah Teladan Tak Pongah Gelar, "Panggil Saja Aku Kartini."

Memang tidak ada salahnya jika para generasi milenial ini memiliki idola dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap idoalanya. Namun jika sampai lupa terhadap tokoh nasional, ini salah siapa? Setelah lupa lalu apa yang terjadi setelahnya? Ditinggalkan? Dianggap tidak ada? Lalu, bagaimana ibu pertiwi yang sedang bersusah hati?

Kalau ditanya untuk apa mengingat tokoh pahlawan dan tokoh nasional? Jawabannya bagaimana bisa mereka melupakan tokoh yang sangat berjasa membangun negeri. B.J Habibie, sang pencipta pesawat pertama di Indonesia. Raden Ajeng Kartini, pejuang hak perempuan agar perempuan bisa menempuh pendidikan.

Jangan-jangan mereka lupa kalau bangsa Indonesia lahir dari perjuangan tokoh nasional ini, bukan hasil kreasi para selebgram.

Adanya video yang saya temukan di Twitter tersebut membuktikan bahwa adanya digital dapat mempengaruhi wawasan nasionalisme generasi penerus bangsa.

Rasanya memang tidak mungkin jika para generasi penerus bangsa ini tidak boleh mengikuti era serba digital. Karena di samping dampak negatif yang diberikan, juga banyak dampak positif yang dapat diambil dan dimanfaatkan.

Namun, lupa akan tokoh nasional merupakan hal yang salah kaprah. Maka, sebagai generasi milenial yang kelak akan memimpin negeri ini; alangkah baiknya dapat memanfaatkan teknologi dengan baik dan tidak melalaikan perjuangan para pahlawan kita. Sehingga, kita dapat meneruskan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Bagikan
Comments
  • JASMERAH!!!

    November 4, 2020
Post a Comment