Perlunya Bersikap Egois di Masa Pandemi
“Mbak, Om X meninggal barusan di RS, ngga ketolong, telat dibawa ke RS.”. Begitu pesan yang disampaikan ibu saya sore itu. Seketika ingatan saya melayang pada hari sebelumnya saat berbalas pesan whatsapp dengan ibu. Ibu menyampaikan bahwa Om X terjadwal hari itu harus melakukan cuci darah; namun kesusahan mendapatkan RS karena beliau terkonfirmasi positif Covid-19.
Saat itu saya sampaikan ke Ibu agar berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 setempat sehingga dapat dicarikan RS dan ditangani dengan protokol yang benar. Namun ternyata keluarga Om X berkeberatan apabila kondisi Om yang terpapar tersebut diketahui oleh khalayak.
Kejadian ini berdampak luas, karena ternyata keluarga Om X meminta tolong kepada salah satu saudara untuk mengantarkan Om yang saat itu kondisinya sudah sangat kepayahan ke RS. Saudara ini merasa seperti mendapat simalakama karena apabila mengantar sudah pasti sangat beresiko.
Namun apabila tidak diantar dan terjadi kemungkinan terburuk bisa jadi dia akan menjadi pihak yang disalahkan oleh keluarga Om karena tidak mau mengantar ke RS. Akhirnya saudara ini mengambil pilihan pertama dan berakhir dia harus melaksanakan isolasi mandiri di sebuah penginapan. Kondisi ini akhirnya berimbas pada psikis dan tentu saja keuangan keluarganya.
Di sisi yang lain, salah satu keluarga Om ini setelah mengetahui Om terpapar tetap melanjutkan kegiatan sehari-harinya seperti berbelanja ke warung seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah meninggalnya Om dan berita terpaparnya Om menyebar, warung itu menjadi sepi pembeli karena masyarakat sekitar takut tertular apabila berbelanja ke warung tersebut.
***
Saya merasa dejavu kejadian ini dengan sebuah tulisan Iqbal Aji Daryono yang saya baca di sebuah situs berita online. Tulisan itu menceritakan tentang salah seorang warga desanya yang terpapar namun tetap melaksanakan kegiatannya pergi ke kandang sapi. Di situ Mas Iqbal menjelaskan bahwa orang tersebut memiliki tingkat pendidikan rendah sehingga terjadilah kejadian tersebut.
Tetapi apa yang terjadi pada keluarga Om tersebut membuat saya terperangah, bingung, dan bahkan tidak tahu harus berkomentar atau membalas pesan Ibu saya seperti apa. Waktu itu saya hanya menangis, menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengucapkan Innalillahi wa Innaillaihi rojiun.
Saya sungguh tidak mengerti jalan pikiran keluarga Om tersebut. Kalau mau menyebut wawasan dan tingkat pendidikan yang rendah rasanya tidak mungkin. Kedua kakak serta Om sendiri merupakan sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota itu. Almarhum Bapaknya Om dulu merupakan seorang pejabat pemerintahan di kota tersebut.
Apakah terpapar Covid-19 merupakan sebuah aib? Atau kejadian yang memalukan? Sehingga perlu disembunyikan agar tidak diketahui oleh orang lain. Apakah keluarga itu tidak mengingat kondisi Om yang memang sudah “kurang sempurna” karena harus menjalani cuci darah secara rutin?
Sikap egois yang seperti yang dilakukan oleh keluarga Om X sungguh sangat berbahaya pada kondisi pandemi seperti ini. Kasus terkonfirmasi harus dibuka sehingga memudahkan tracing pada lingkungan sekitarnya. Selain itu, keterbukaan juga diperlukan untuk menentukan penanganan selanjutnya.
Seperti yang terjadi pada Om, dengan komorbid yang beliau derita, apabila sejak awal kasusnya dibuka tentu saja bisa tertangani. Pihak Satgas atau sarana kesehatan seperti Puskesmas dapat merujuknya untuk mendapatkan prioritas penanganan di RS.
***
Dalam kasus berbeda, ketika si mbak mengabarkan bahwa tetangga sebelah terkonfirmasi positif menurut info dari anaknya, panik juga saya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami mengontak salah satu tetangga yang merupakan seorang dokter untuk memberikan info dan meminta masukan untuk penanganannya.
Dan pada akhirnya tetangga yang terkonfirmasi tersebut mengumumkan di grup WA kompleks mengenai kondisinya. Dan sesuai prosedur dari kantor, beliau mendapat penanganan fasilitas isolasi mandiri di RS. Sementara anggota keluarga yang lain negatif dan untuk sementara akan menginap di rumah saudaranya di luar kompleks kami.
Pada kasus yang dialami Om X, sikap egois yang dilakukan oleh anggota keluarganya membawa dampak yang kurang baik terhadap orang-orang di sekitarnya. Saudara yang harus menjalani isoman, warung yang sepi pembeli, keluarga dan saudara dekat yang menjadi dimusuhi warga kampung hanya merupakan sedikit contoh imbas yang terjadi.
Bila kita melihat dari sudut pandang yang lain, bisa jadi kasus itu terjadi karena sosialisasi dan edukasi yang masih minim. Masyarakat umum masih bingung bagaimana menghadapi virus ini. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan bila dinyatakan positif juga masih simpang siur.
Ada rasa gamang dan bingung pastinya saat diri kita atau anggota keluarga dinyatakan positif; karena selama ini tidak pernah ada edukasi mengenai hal itu. Oke-lah dikatakan kita harus lapor ke Puskesmas tapi apa yang harus dilakukan setelah itu tidak dijelaskan dengan mendetil, seolah-olah yang dibutuhkan hanya data orang terpapar saja.
Apalagi di dalam kondisi seperti sekarang ini dengan peningkatan kasus yang signifikan dan membuat tenaga medis serta fasilitas kesehatan menjadi kewalahan. Mungkin penjelasan detil mengenai langkah yang harus dilakukan saat terpapar juga susah diperoleh dari Puskesmas.
***
Kemungkinan yang lain adalah sikap introvert keluarga serta kondisi bahwa keluarga tersebut termasuk orang terpandang di kampung. Dalam hati keluarga tersebut masih merasa “nggak mungkin” salah satu anggota keluarganya tertular. Apalagi yang bersangkutan karena kondisinya tidak memungkinkan sering-sering berada di luar lingkungan rumahnya.
Namun yang tidak disadari, bisa jadi Om Joko terpapar saat beliau harus ke rumah sakit untuk cuci darah. Proses cuci darah pastinya dilakukan dengan steril, namun kondisi rumah sakit saat ini yang penuh dengan pasien membuat potensi tertular semakin besar.
Sementara pada kasus tetangga sebelah, beliau sudah memiliki pengetahuan bagaimana langkah yang harus dilakukan bila terpapar. Sebagai seorang karyawan beliau ditangani sesuai dengan SOP (standar operational and procedure) yang sudah disusun oleh perusahaan.
Di lingkungan permukiman semestinya menjadi tugas para pejabat kampung seperti RT, RW atau karang taruna untuk memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai hal ini. Satgas Covid yang dibentuk pada unit lingkungan terkecil yaitu di tingkat RT juga seharusnya dengan bahasa-bahasa yang mudah dipahami dapat memberikan edukasi tersebut.
Seorang PNS yang sedang meneruskan hobi masa kecilnya yaitu menulis

Lina Gustinawati
Oww keren tulisannya,lanjutkan mba okta 👍