Hiburan dan Hilangnya Kesadaran
Kapitalisme pasca modern oleh para pemikir mazhab Frankfurt seperti Jurgen Habermas dilihat telah menampilkan wajah-wajah baru. Tampilan baru kapitalisme tersebut mampu menghilangkan kesadaran masyarakat sehingga mereka menyerah pada lubang eksploitasi.
Kapitalisme era modern yang cenderung pada pola membuat orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan materi, saat ini berubah menjadi pedagang hiburan agar masyarakat menyukai produknya. Selain itu hiburan juga membuat masyarakat tidak memikirkan relasi kekuasaan dan kezaliman yang terjadi di tengah kehidupan.
Masyarakat dibuat nyaman oleh hiburan-hiburan yang mereka tonton sepulang kerja atau di waktu senggang. Kita bisa menemukan sebagian orang menonton hiburan disaat yang salah semisal jam kuliah. Efek yang ditimbulkan oleh perilaku ini adalah tumpulnya kesadaran kritis seseorang secara perlahan-lahan.
Hiburan dan Konsumerisme
Hiburan juga beriringan dengan konsumerisme untuk menciptakan kesadaran manusia yang dilandasi oleh keinginan-keinginan, bukan kebutuhan. Tidak berhenti di situ, produksi hiburan juga menjadi alat untuk mentransfer berbagai ideologi.
Berbagai platform seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram dan Tiktok tanpa kita harus berdebat bisa sepakat bahwa konten yang diproduksi dan menjadi trending cenderung berisikan hiburan-hiburan minus edukasi. Konten hiburan seakan diproduksi terus-menerus sehingga membanjiri penglihatan setiap orang.
Apakah konten-konten hiburan yang diproduksi akhir-akhir ini dan menjadi trending adalah hasil tangan kaki tangan kapitalisme? Pertanyaan itu sangat relevan dan wajar muncul dalam benak kita. Pertanyaan tersebut membutuhkan penelitian lebih serius sebab kita tidak bisa lantas menyalahkan pihak yang berusaha menghibur masyarakat atau sekedar menghibur diri. Tetapi tulisan ini bukan tempatnya untuk menjawab pertanyaan tersebut, selain memang penulis bukan ahli dalam persoalan ini.
Meski demikian, kita bisa ambil satu benang merah bahwa banjirnya konten-konten hiburan telah membantu kapitalisme, ketidakadilan dan kesenjangan tertancap d ijantung masyarakat. Hiburan telah berhasil membuat masyarakat kehilangan rasionalitasnya.
Berkaca dari Ibnu Khaldun
Lantas apa masalahnya? Melihat hal ini, kita bisa berkaca pada penemuan Ibnu Khaldun, intelektual Islam yang disanjung oleh pemikir Barat modern dan terutama oleh umat Islam. Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya, kitab al-Muqaddimah, menjelaskan tentang kondisi umran (peradaban) yang segera ditimpa keruntuhan.
Baginya, masyarakat yang dipenuhi gemerlap hiburan dan kesenangan merupakan sebuah alarm bahaya bagi peradaban. Masyarakat yang begitu nyaman dengan posisinya tidak sadar akan adanya bahaya yang kapan saja bisa menyerang dirinya. Masyarakat seakan sedang dalam khayalan bahwa ia baik-baik saja.
Saat peradaban dunia masih berupa dinasti atau kerajaan, mentalistas lemah yang menjangkiti masyarakat tidak akan mampu menghadang serangan dari musuh. Sehingga, sebuah dinasti yang sudah terbangun dapat beralih dari satu kekuasaan pada kekuasaan lain yang lebih kuat.
Eksploitasi Negara
Kekuasaan Bani Umayyah harus runtuh akibat terlena oleh kemegahan dan kemewahan di tangan keluarga Ibnu Abbas as-Saffah. Pola ini terus terulang menimpa kekuasaan-kekuasaan setelahnya.
Konteks negara modern memang tidak memungkinkan alih kekuasaan dari satu negara ke negara lain. Tetapi hal ini tidak menutup peluang terjadinya pengendalian satu negara oleh negara lain atau rakyat oleh elite untuk dieksploitasi.
Akibat riuhnya hiburan, masyarakat teralih perhatiannya dari kepemimpinan yang zalim dan nepotis, kesenjangan sosial serta kemiskinan. Seseorang tidak lagi berfikir bagaimana semua ketidaknormalan itu bisa terjadi dan bagaimana ia mampu memberikan kontribusi pada perbaikan.
Sehingga penting untuk dicatat bersama bahwa masyarakat yang terlalu menikmati hiburan-hiburan akan kehilangan kesadaran atas realitas di sekitarnya. Manusia menjadi semakin individual, apatis dan lupa tugasnya sebagai khalifatullah fil ‘ard. Bahkan apapun yang terjadi pada dunia, asal dirinya tetap aman, tidak akan mendapat perhatian.
Tugas Umat Islam
Islam memberikan kacamata kepada seorang muslim bahwa dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Kacamata ini mengantarkan seorang muslim untuk tidak mudah dipermainkan, dilenakan dan dihilangkan kesadarannya oleh keduniawian.
Tidak hanya itu, Islam menunjukkan bahwa mereka hidup di dunia untuk menampilkan kemampuannya melakukan perbuatan-perbuatan yang terbaik. Seorang muslim pun harus membukakan jalan bagi peradaban yang diridai oleh Allah SWT sesuai dengan kapasitasnya.
Islam mengajarkan kaum muslim untuk turut aktif dalam percaturan sejarah. Kaum muslim diperintahkan untuk membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi dan penindasan serta menegakkan tauhid. Saat seorang muslim melihat masyarakat telah terhipnotis dan bertindak layaknya boneka tanpa logika, maka ia memiliki tanggung jawab untuk melepaskan benang pengikat agar mereka kembali sadar dan merdeka.
Status manusia sebagai khalifatullah fil ‘ard tidak layak jika harus kalah dengan hiburan duniawi. Derajat martabat manusia yang tinggi adalah terlepasnya belenggung materi sebab segala materi di dunia hanyalah sarana untuk mendekatkan diri pada Sang Cinta.
Lepasnya belenggu materi tidak lantas menjadikan muslim yang kaffah melalaikan perannya di kancah dunia dan tidak boleh menikmati hiburan. Pesan Ilahi sangat jelas bahwa bagian dunia tidak boleh dilalaikan manusia. Sehingga cukup jelas bahwa manusia sejati harus memiliki kesadaran atas peran di dunia dan tujuan ukhrawinya. (s)
