Santri di Tengah Pusaran Peradaban
Apa yang anda bayangkan tentang santri? Biasanya, sebagian masyarakat, mungkin juga terjadi pada remaja merasa gengsi atau risih mendengar kata ‘santri’. Mereka berpikir bahwa santri itu adalah orang yang belajar agama melalui kitab kuning dan identik dengan pola hidup yang menurut mereka tidak layak.
Kehidupan santri sering dianggap kumuh, mereka korengan, dan kotor karena berkumpul dalam satu atap. Tapi jangan salah, banyak juga santri yang hidup bersih dan perlente. Keluar dari pondok terlihat sangat modis dan tentunya punya bekal agama.
Meskipun memang sebagian santri di negeri yang kita cintai ini identik dengan hal yang di atas, bukan berarti membuat citra mereka menjadi semakin memburuk. Pada hakekatnya, mereka mendapatkan keilmuan agama yang berharga dan mulia. Di saat remaja lainnya sibuk dengan kehebohan dan hedonism dunia, santri justru fokus memperdalam ilmu agama.
Masa Keemasan, Pencarian Jati Diri
Perlu kita sadari bahwa masa muda adalah masa keemasan. Masa ketika seorang manusia mencari jati dirinya. Ya, itulah masa yang ia alami. Ia bangga menjadi seorang santri. Dia berkata, “Akulah santri dan inilah jati diri seorang santri. Adakah tempat lebih sempurna atau optimal untuk tarbiyah islamiyah, meningkatkan iman dan taqwa dan rasa takut kepada Allah di Indonesia ini melainkan pesantren? Sungguh nihil!”
Ada lagi hal yang harus diperhatikan oleh Rahmania, bahwasannya para santri memiliki fakta sejarah yang luar biasa. Para santri pada zaman penjajahan berjuang dalam berjihad melawan penjajahan dan mereka ikut berpartisipasi mengisi perjuangan kemerdekaan bangsa kita tercinta ini. Mau tahu lanjutannya bagaimana?
Yuk, kita baca deretan fakta perjuangan para santri dan para ulama di medan pertempuran melawan para penjajah:
Fakta Pertama: Perjuangan KH. Zaenal Musthafa dan Para Santrinya di Tasikmalaya, Jawa Barat
KH. Zaenal Musthafa adalah ulama yang bermukim di Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau adalah wakil syuraih Nahdlatul Ulama cabang Tasikmalaya. Kiai yang lahir di kampong Bageur, Singaparna, Tasikmalaya, tahun 1889. Kiai Zaenal memiliki prinsip yang sangat kuat demi tegaknya syariat Islam.
Misalnya dia menolak perintah dari penjajah Jepang tatkala mereka menyuruhnya untuk melakukan seikerei yaitu penghormatan kepada dewa matahari dengan cara membungkukkan badan mengarah kepada matahari terbit. Jelas-jelas ini adalah perbuatan syirik yang membuat murka kiai. Akibat tindakan sang kiai, jepang menjebloskannya ke penjara.
Rencana Sang Kiai
Singkat cerita, KH. Zaenal tidak bisa tinggal diam melihat tindakan kurang ajar yang menodai akidah umat Islam. Beliau menyusun rencara pemberontakan kepada Jepang pada tanggal 27 Juli 1944. Para santri membuat bamboo runcing serta golok Kiai Zaenal juga kiai mengajari para santri beladiri dan tarekat.
Namun rupanya, rencana beliau tercium oleh Jepang. Awal Jepang mengirim pejabat kecamatan untuk melobi namun tak berhasil. Pada tanggal 27 itulah datang tiga truk jepang ke pesantren beliau yaitu pesantren Sukamanah. Yang membuat kiai Zaenal miris adalah bahwasannya para prajurit Jepang tersebut adalah orang-orang negeri sendiri (Indonesia).
Namun begitu, pertempuran tak seimbang tidak terelakan. Hingga berakhir sore hari, sebanyak 68 santri gugur sebagai syuhada di medan jihad melawan Jepang. Puluhan lainnya dibawa oleh Jepang dan tak tentu rimbanya. Termasuk KH. Zaenal Musthafa.
Belakangan ada kabar bahwa KH. Zaenul telah dieksekusi Jepang dan dimakamkan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Pada tahun 90-an, jenazah dipindahkan ke Tasikmalaya dan dimakamkan kembali di TMP Tasikmalaya.
Fakta Kedua: Fatwa Resolusi Jihad dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari
Fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan oleh PBNU menjadi titik tolak perjuangan para kiai dan para santri. Pada tanggal 21-22 Oktober, NU mengumpulkan seluruh kiai dan konsul NU se-Jawa-Madura untuk memusyawarahkan terkait sikap yang akan diambil terkait masuk belanda yang diboncengi oleh pihak sekutu ke Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, KH. Hasyim Asy-‘ari selaku pendiri NU mengeluarkan fardhu ‘ain atas seluruh kaum Muslimin untuk memerangi orang kafir yang melintangi Negara Indonesia yang tercinta ini.
Sontak saja, fatwa resolusi jihad sang kiai disambut begitu semangat oleh umat Islam, khususnya para kiai dan para santri. Mereka siap mengangkat senjata demi membumihanguskan para penjajah kuffar di tanah air. Akhirnya para ulama dan para santri segera menggepur para penjajah, khususnya di tanggal 10 November.
Bung Tomo berpidato dengan penuh lantangnya memotivasi rakyat bahwa kemenangan akan Allah turunkan atas bangsa ini plus bertakbir demi tegaknya kalimat Allah di bumi pertiwi ini dan para mujahidin dari kalangan santri lascar hizbullah bertempur habis-habisan melawan sekutu hingga mencapai titik darah penghabisan. Para ulama berbondong-bondong berdatangan ke Rembang, Magelang, Kedu, Mojokerto, dan Surabaya untuk memenuhi panggilan jihad.
Pertempuran 10 November
Puncaknya, pada tanggal 10 November, pertempuran tidak dapat terelakkan. Pasukan sekutu dengan segala kekuatan militernya berusaha menggepur Surabaya habis-habisan. Sementara pasukan mujahidin dari GPII, Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pemberontak, Tentara Keamanan Rakyat terus membalas serangan sekutu. Takbir Allahu Akbar terus menggema di bumi Surabaya dan darah-darah mengucur deras. Allahu Akbar!!
Pesantren Memberi Warna Perjuangan Indonesia
Demikianlah beberapa fakta menarik tentang santri yang tidak akan pernah bisa lekang oleh zaman, yang memiliki jasa besar dalam negri ini. Pesantren telah banyak mewarnai hidup masyarakat Indonesia. Sebagian dari kita patut bersyukur yang mungkin pernah merasakan manisnya hidup dalam pesantren untuk menjadi yang lebih baik dan apabila kita yang belum maka lebih banyak lah mencari bekal untuk akhirat kelak.
Di masa ini sudah sangat banyak kerusakan dan kemaksiatan yang tersebar. Sungguh pedih rasanya melihat manusia yang tidak kenal dengan Allah. Sungguh benar sabda Rasulullah SAW, sesungguhnya akan datang kepada kalian zaman yang mereka menjadi lebih buruk sampai kalian bertemu dengan Allah (hari kiamat). Akan tetapi, ketika zaman menjadi lebih buruk, mau jadi golongan yang manakah kita? Baik atau buruk? Pastinya kita semua ingin menjadi orang baik.

