Pandemi dan Tsunami Informasi
Hari-hari ini meski raga kembali dikekang untuk tidak kemana-mana kalau tidak butuh benar, namun telinga dipaksa mendengar banyak informasi berseliweran. Datangnya seperti tak diundang, pulang tak diantar. Memangnya jelangkung hehe.
Tempo hari saya wa an sama Mbak Hesti, teman saya. Beliau ini saya kenal sebagai ibu rumah tangga yang sangat cermat dengan kesehatan. Selama ini nasehat dan saran untuk mengkonsumsi herbal buat persiapan dan menjaga imun selalu beliau berikan. Alhasil beliau juga sering mengirimkan obat-obat herbal ke seluruh kawan. Termasuk saya juga kecipratan. Meski kadang saya patuh mengikuti anjurannya untuk minum ini itu atau lebih sering saya banyak lupanya.
Kali ini beliau menyampaikan bahwa tetangganya baru pulang dari rumah sakit karena covid. Menurut saran tetangganya itu, kalau kena Covid-19, wis jangan ke rumah sakit. Lebih baik perawatan di rumah saja. Gelontor dengan obat herbal saja. Seolah Mbak Hesti mau bilang ke saya, nah kan benar apa kata saya. Dan masih ditambah lagi, seolah menegur saya, jangan lupa untuk mengkonsumsinya dengan tertib. Ah, tahu saja Mbak Hesti ini.
Saat waktu lain, ada tamu ke rumah. Teman Mas Suami. Datang bersama istrinya. Otomatis saya ikut nemoni. Dari sekejap menyampaikan keperluannya, selebihnya kami ngobrol kondisi sekarang. Sang suami bicaranya mantap. Sudah mirip seorang ahli. Dia menganalisa panjang lebar. Sementara si istri manggut-manggut. Dia bilang, “Coba sampeyan perhatikan. Covid ini munculnya kalau mau lebaran. Seperti kemarin, ramai saat mau idulfitri. Akibatnya, kita ndak boleh mudik. Tapi wisata dibuka lebar. Mall dibuka. Sekarang mau iduladha. Biar apa coba?”
Bla…bla…bla panjang lebar analisanya. Kalau dicerna, ada benarnya juga. Saya dan suami diam menikmati analisanya. Oo…Ini golongan madzhab yang berbeda dengan Mbak Hesti, pikir saya.
*
Lain lagi dengan tetangga saya. Sebut saja Tante Nia. Tempo hari ibu mertuanya meninggal dunia. Menurut keterangan beliau, ibunya ini sudah lama menderita sakit lambung. Selalu bermasalah dengan lambungnya. Sering kambuh akhir-akhir ini. Pada saat-saat terakhirnya, Tante Nia mengupayakan ibu mertuanya dibawa ke rumah sakit.
Namun, karena pertimbangan takut dicovidkan oleh pihak rumah sakit, keputusan terakhir diambil tanpa dibawa ke rumah sakit. Beliaupun meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilayhi raajiuun. Sering sekali informasi semacam ini saya dapatkan. Dicovidkan oleh pihak rumah sakit demi mendapatkan dana dan lain-lain. Akibatnya masyarakat lebih memilih tidak ke rumah sakit. Daripada dicovidkan, begitu ketakutan pada umumnya.
Dari sekian pendapat yang saya dapatkan, ada yang pendapatnya lebih heboh. Son namanya. Ini juga orangnya memang heboh. Dia senang sekali bepergian. Santai abis gayanya. Dia optimis saja. Katanya, kalau menghadapinya dengan senang hati, senantiasa bergembira maka virus covid ogah mendekat. Waktu saya tanya alasannya, dia mengirimkan berita yang beredar tempo hari. Bahwa seorang direktur RSKD di Sulawesei Selatan menyatakan, “Ratusan ODGJ yang sempat dinyatakan positif Covid-19 itu sembuh. Karena mereka secara psikologis tidak memikirkan penyakitnya.” Tak lupa dia mengirimkan juga emot ketawa yang lepas. Apalagi saat saya komentari jangan-jangan kamu anggota komunitas ODGJ. Benar-benar santuy dia ini.
Ketika saya mendengarkan penjelasan dari seorang ahli, secara ilmiah menjelaskan bagaimana sebenarnya virus ini bekerja. Seperti apa penularannya, bagaimana bahayanya, bagian tubuh mana yang diserang. Dilengkapi juga dengan cara pencegahan dan perawatan serta pengobatannya apabila virus datang menyerang. Kalau sudah begini saya jadi berpikir lagi.
Tsunami Informasi
Simpang siur informasi bak tsunami. Datang dengan gelombang yang sangat besar. Siapa pun membawanya. Dari mulai ibu rumah tangga biasa, tukang susu, tukang cuci. tukang bangunan, ASN dari departemen apapun, baik yang pesuruh, OB atau yang kedudukannya lebih tinggi dan paling tinggi, buruh pabrik, direktur pabrik, pejabat, dokter dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan di sini.
Semua punya pendapat juga membawa informasi. Tidak cukup sampai di situ. Mereka juga menganalisa dan menyimpulkan. Lalu menginformasikan. Berupaya untuk mempengaruhi orang lain. Dengan sudut pandang masing-masing, dengan latar belakang pengetahuan dan maklumat yang dimilikinya dan dengan atau tanpa pertimbangan keuntungan yang akan didapatnya.
Bangsa ini memang sedang dilanda dua kejadian besar. Pandemi yang mendebarkan. Nyata-nyata rumah sakit penuh. Nakes kewalahan. Kebutuhan perawatan tidak bisa terpenuhi. Oksigen bagi pasien juga tidak mencukupi. Benar-benar sangat mendesak. Sementara di luar sana tsunami informasi besar-besaran terjadi. Informasi bagai digerojokkan. Oleh siapa saja.
Sementara kemampuan untuk memfilter belumlah memadai. Pemerintahpun belum bisa diharapkan memberikan jaminan untuk beredarnya informasi yang valid saja. Kalaupun diusahakan, rakyat sudah terlanjur sulit percaya. Kadang yang muncul malah iri hati. Kenapa kalau kami tidak boleh mengadakan pesta sunatan atau mantenan. Sementara pejabatnya tetap mendatangi pesta, mengadakan pesta ulang tahun. Yah begitulah uneg-uneg masyarakat kita.
Ada yang menanggapinya dengan baik. Di grup-grup WA mengingatkan, saling memberi perhatian, saling mendoakan agar anggota grup senantiasa sehat dalam lindungan Allah. Kalaupun ada yang meninggal, saling berbela sungkawa diikuti dengan saling mendoakan. Namun, tidak sedikit yang masih terus menyebarkan informasi-informasi yang membingungkan. Berlagak menjadi pengamat, penganalisa atau penyimpul informasi.
Akhirnya masing-masing menghadapi tsunami informasi dengan cara masing-masing. Yang sudah mahir berenang, maka mengatasinya dengan berenang. Yang hanya bisa slulup atau cuma nyilem ya memilih diam saja sambil bingung. Bertahan apa adanya dan juga sambil terus berdoa tentunya.
Tinggal di Malang Jawa Timur. Senang dengan dunia anak-anak. Aktif menulis cerita anak. Selama ini masih terus belajar menulis dengan mengikuti berbagai kelas dan belajar mempraktikkannya.
