f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tarjih

Hijrah Tak Sekedar Perubahan Aksesoris

Oleh: Fa’iz Azmi Fauzia*

Rahmania, di kalangan milenial dan kalangan public figure fenomena hijrah sangat marak hari ini. Hijrah merupakan proses berpindah, namun banyak orang yang mendefinisikan hijrah dari penampilan padahal hijrah tak sesederhana itu. Diksi hijrah baru belakangan muncul, namun narasi yang dibawa itu adalah narasi Islam secara umum, sehingga acap kali banyak anak muda yang tertarik. Sebetulnya, hijrah yang digaungkan oleh mereka itu baik, namun tampak sangat sederhana dalam memaknai sebuah hijrah yang sebatas permukaan sehingga banyak yang bermunculan anak muda yang berhijrah namun mudah sekali menyalahkan orang lain karena menganggap dirinya sudah lebih baik.

Hijrah merupakan fase terpenting seseorang untuk memperbaiki diri. Hijrah yang berarti “berpindah/meninggalkan” merupakan roh yang menjiwai gerakan seorang muslim. Seperti hijrahnya Rosulullah SAW dari kota Mekah menuju kota  Madinah yang bertujuan untuk mendakwahkan Islam sekaligus membangun peradaban Islam. Namun yang disayangkan hijrah di kalangan milenial maupun artis saat ini menjadi bias makna. Ketika penekanan hijrah lebih pada simbol daripada substansi, ketika life-style lebih diutamakan, hal ini sangat tidak dibenarkan. Banyak yang melihat hijrah hanya dari penampilan, bahkan dengan adanya fenomena hijrah, menjadi ladang bisnis dengan barang-barang dengan label syar’i. 

Yang menjadi pertanyaanya pakaian mana yang paling mencerminkan syari’at agama? Apa mereka yang memakai cadar? Atau mereka yang berjilbab panjang? Jadi, bentuk pakaian itu adalah soal budaya, tidak ada hubunganya langsung dengan syari’at. Yang menjadi kritik adalah, ketika hijrah itu hanya didapatkan dari “replikasi” pemikiran orang, Hal itu kurang tepat. Sebagai contoh replikasi dari ceramah di youtube, faebook, whatsapp dan yang lainya. Lantas menyampaikan pada orang lain tanpa ada korespondensi secara mandiri. Berpindah menjadi lebih baik itu, harus disadari oleh repoduksi kesadaran sendiri.

Baca Juga  Perempuan dalam Mengatasi Sampah Rumah Tangga

Hijrah yang hanya merubah penampilan adalah hijrah aksesoris, karena jika hanya merubah dari penampilan tentunya kurang sempurna, ini bukan tentang merubah penampilan menjadi lebih baik namun untuk merubah diri menjadi lebih baik. Hijrah haruslah dilakukan dengan kaffah. Islam itu bukan hanya tampak dari luar (casing) atau hanya sebagai simbol lahir namun juga simbol batin. Begitupun sebaliknya islam tidak hanya sebagai simbol batin namun juga harus sebagai simbol lahir. Untuk itulah islam menganjurkan untuk selaras antara tindakan dan penampilan.

Berhijrah Bukan Merasa Paling Baik 

Rahmania, sebagai seorang  muslim, Islam mewajibkan kita untuk menutup aurat baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dan sebagai sesama muslim wajib untuk saling mengingatkan bukan untuk saling menghakimi. Sebab belakangan ini dengan maraknya fenomena hijrah dan tak sedikit perempuan berjilbab bahkan termasuk newbie yang mulai angkuh dan merasa dirinya lebih baik dan lebih syar’i dan merendahkan orang yang belum berhijab atau belum syar’i menurut standart mereka.

Hijrah yang sebenarnya adalah hijrah yang tidak perlu diproklamirkan kepada orang lain, biarlah Allah yang menilai apakah hijrahnya benar-benar karena Allah atau hanya sekedar ingin mendapatkan pengakuan orang lain. Belakangan ini banyak banyak orang yang menganggap dirinya sebagai seorang yang telah berhijrah dan menganggap dirinya adalah syar’i dan meminta orang lain untuk berhijrah. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa buruk diri kita hingga disuruh untuk berhijrah? Dari statemen tersebut muncul beberapa tafsiran, pertama menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Kedua, menganggap orang lain tersesat sedangkan diri kita tidak.

Mendorong orang lain untuk berhijrah tidak melulu berkomentar tentang apa yang tampak dari luar atau hanya berdasarkan penampilan. Namun ada hal yang lebih penting yakni berhijrah dari sifat buruk yang sebelumnya suka mencela menjadi pribadi yang sabar dan rasional. Dari yang sebelumnya bermusuhan karena politik praktis menjadi lebih berpikir konstruktif atau berhijrah dari yang tidak open-minden menjadi manusia yang open-minded.

Jika kita melihat media sosial di era ini, semua orang selalu menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang ia anggap benar entah itu urusan agama ataupun ideologi. Dari hal-hal itulah, hijrah bisa dimaknai sangat luas tak hanya melulu soal hijrah dalam penampilan, jadi masih mau mempermasalahkan penampilan orang lain? Rahmania, hidup ini sangatlah simple yang ribet adalah tampilanya.

Baca Juga  Ummu Qais dan Hadis Nabi tentang Penolakannya atas Lamaran

*)Fa’iz Azmi Fauzia, Ketua korps immawati PC IMM Kota Surabaya

Bagikan
Comments
Post a Comment