Yuk, Belajar Konsisten dengan Resolusi Tahun Baru
Tahun 2021 masih sangat awal dan kita sudah mulai tumbang. Banyak sekali resolusi yang tidak bisa kita lampaui dengan alasan kesehatan. Kesehatan itu mahal. Lebih baik susah payah menjaganya daripada mengobati sakit. Itu lebih menguras tenaga dan habis di ongkos. Namun saja, masih banyak yang abai.
Banyak manusia sangat antusias merancang resolusi sepanjang tahun. Berharap tidak kehabisan bensin untuk menyelesaikan. Padahal, nyatanya resolusi tanpa tolak ukur yang realistis hasilnya tetap payah. Mengukur diri sendiri untuk menciptakan target selama setahun penuh adalah bentuk waras diri.
Bayangkan, kamu sudah menulis banyak hal untuk dikejar selama satu tahun penuh. Namun di ujung desember, kamu tertampar realita kalau selama ini kamu membuang banyak waktu karena merencanakan hal di luar jangkauan. Okelah, ada yang mampu bisa kamu tunaikan. Tapi pertanyaannya, ada berapa banyak resolusi yang kamu abaikan?
Membuat dan Mempertahankan Resolusi Memang Gampang-Gampang Susah, Guys.
Di Amerika sendiri resolusi tahun baru adalah sebuah tradisi tahunan. Banyak orang melakukannya untuk membantu mereka mengubah kehidupan. Pemerintahnya bahkan membuat situs untuk membantu mereka yang berambisi pada resolusi, mencari kiat jitu menggapai resolusi. Resolusi-resolusi yang ditawarkan sifatnya sangat umum seperti menurunkan berat badan, keluar dari kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan sehat, atau urusan finansial.
Resolusi adalah seni komitmen yang serius. Ia tidak hanya mengikuti arus semata. Itulah kenapa membuat resolusi harus spesifik, terukur, realistis, relevan, dan punya batas waktu. Tidak membuatnya berlebihan dan tidak membuat diri sendiri kewalahan mengejarnya. Jangan sampai karena hanya ikut-ikutan, kita menyusahkan diri sendiri.
Sebuah penelitian di Amerika mengatakan 45% orang sana biasanya membuat resolusi setiap awal tahun dan hanya 8% yang berhasil menyelesaikan. Namun, angka kecil itu tidak menghentikan orang-orang untuk membuat resolusi setiap tahun baru. Meski peluang gagalnya lebih mendominasi. Ini menandakan manusia itu selalu konsisten gagal. Sudah tahu begitu, tetap saja berada di arus yang sama. Harusnya, evaluasi agar tidak terjebak di perangkap tikus yang sama.
Apalah Arti Rencana kalau Hanya Sebatas Wacana.
Mengejar resolusi adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan bertahun-tahun. Jika ingin berkomitmen sebaiknya tidak perlu banyak mencatat keinginan. Seadaanya saja tapi mampu dituntaskan. Apalah arti rencana kalau hanya sebatas wacana.
Menurunkan bobot tubuh, mengurangi jatah begadang, olahraga rutin, hemat sana-sini, dan produktif lebih dari biasanya adalah sekumpulan resolusi umum yang siap dijalani lalu ditinggalkan oleh pasukan pembuat resolusi setiap tahunnya. Niatnya saja yang bergejolak tapi sayang daya wujudnya sangat lemah. Ini penyebabnya karena berada di lingkungan pergaulan yang menasbihkan tidak punya resolusi bukan bagian dari pertemanan. Sehingga, perang resolusi yang dikoar-koarkan di sosial media masing-masing malah bersifat bom bunuh diri.
Saat tahun hampir bertukar, ternyata resolusi yang terjadwal di awal tidak pernah terwujud. Sementara pergantian tahun sebentar lagi tiba, dan kita dituntut kembali melakukan hal yang sama. Pada akhirnya di tahun yang baru, kita hanya merefresh resolusi tahun sebelumnya yang pada akhirnya juga akan tumbang. Kita merencanakan kegagalan kembali.
Jangan Gegabah untuk Melakukan Resolusi Sebanyak Mungkin ya, Guys.
Bagaimana jika membuka tahun baru dengan tidak merencanakan apa-apa. Saat cuaca sedang dingin-dinginnya, sementara rebahan adalah pasangan terbaik, kenapa tidak kita lakukan saja. Tak perlu terbebani resolusi-resolusi yang siap gagal. Tapi jika memang kuat dan punya kekuatan yang konsisten untuk mewujudkan, tidak masalah juga untuk tetap kuat dan berlari kencang mengejar keinginan.
Hanya saja, waktu setahun itu sebenarnya ringkas. Sehingga mengisinya dengan capaian yang terlalu banyak akan menguras perasaan dan waktu. Belum lagi, kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya lebih wajib. Mau tidak mau harus ada yang jadi korban untuk gagal, dan saya rasa bukan kewajiban yang akan kita lepas. Bukan begitu, guys?
Saya pernah melakukan pencatatan di awal tahun. Target-target rasional apa saja yang bisa saya capai tahun ini. Mulai dari membaca buku minimal 30 buah setahun, target berat badan tak lebih dari 63 kilogram, dan mengurangi minum kopi. Bahkan target menikah pun saya lakukan. Pada akhirnya, semuanya tumbang dan jauh dari kenyataan. Ngopi hampir tiap hari. Begadang jadi kebiasaan. Lamaran tertolak dua kali dalam setahun.
Buatlah Resolusi yang Sederhana, Tidak Banyak namun Konsisten hingga Menjadi Kebiasaan.
Karena kelelahan, akhirnya membuat resolusi itu saya hentikan. Saya tidak cocok dengan target-target semacam itu. Saya lebih mengalirkan momen yang membuat saya terus bergerak untuk mengubah pola hidup. Misalnya, saya ini butuh asupan bacaan sebagai amunisi saat menulis. Saya tetap membaca semampu saya, tanpa harus menargetkan harus menyelesaikan sekian banyak buku dalam waktu tertentu. Pun ketika pola hidup saya sudah mulai berantakan, punggung saya mulai sakit walau hanya duduk sebentar, susah buang air besar, tidur terlalu larut.
Saya menyadari, beberapa kebiasaan buruk yang mesti ku lenyapkan. Saya sadar, jika kebiasaan tersebut secara konsisten dikerjakan akan memperburuk kinerja organ dalam tubuh. Makanya, saya perlu hijrah dari pola hidup tersebut. Sayur dan buah jarang absen. Memaksimalkan jam malam untuk tidur lebih panjang. Olahraga minimal tiga kali seminggu. Minum air putih yang banyak. Menghindari kopi sebisa mungkin meski berat. Mengurangi rasa cemas dengan cara lebih rutin mendekatkan diri pada Tuhan.
Resolusi adalah wahana untuk mengakrabkan diri pada rutinitas yang positif. Tidak ada salahnya membangun ekspektasi melalui daftar resolusi. Selama diri ini mampu untuk mewujudkan, teguh pada pendirian, dan kita tidak termakan oleh ulah sendiri yang selalu membenarkan waktu masih panjang. Melalui resolusi, kita juga bisa belajar membiasakan diri hidup teratur. Jika rasa malas bisa dilenyapkan lewat resolusi, ya kenapa tidak.
Editor: Andi Eka Nur Wahyu
Seorang guru SILN (Sekolah Indonesia Luar Negeri) yang mengajar di Malaysia
