f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tubuh

Mengelola Dilema, Sebuah Seni Menghadapi Hidup

Mengikuti kelas menulis sebenarnya keinginan saya sejak lama. Selain karena sejalan dengan kesukaan saya di dunia bacaan, juga karena ada banyak hal di kepala saya yang harus diungkapkan. Pada akhirnya saya terdampar di sebuah kelas menulis online, bahkan mengikuti setiap stepnya mulai dari kelas awal hingga lanjutan.. Itupun dengan banyak sekali pertimbangan yang harus saya pikirkan dengan matang.

Salah satunya pertimbangan yang cukup pelik adalah sangat terbatasnya waktu luang yang saya miliki, apalagi jika harus mengerjakan latihan sesuai timeline, udah kebayang bakal sulit untuk bisa ngumpulin tugas dengan ontime. Kalau tidak bisa maksimal, ntar jadi mubazir dong duit yang saya keluarin ( he he, perhitungan banget ya). Dan bener saja, saya sering bolong di penugasan. Boro-boro rutin di penugasan, nyimak materi aja seringkali dirapel pas sempet ( he he, maaf ya mas dan mbak mentor).

****

Saat menulis, buat saya perlu waktu khusus agar ide bisa mengalir dengan enak. Dan waktu khusus itu adalah tengah malam, yang mana menurut timeline (by saya), tengah malam adalah jadwal kencan dengan gunungan setrikaan. Jadi, jika saya mengambil salah satu jadwal menyeterika untuk menulis, otomatis harus ada extra time begadang lagi sebagai penggantinya.

Segitunya ya? Gak bisa dibikin sederhana gitu? Misal, menyeterika dilakukan pada siang hari? Ini jelas tidak mungkin, karena siang hari saya full mengurus anak-anak, urus rumah dan masih harus mengatur kegiatan di bimbingan belajar. Bagaimana dengan mengalihkan seterikaan ke lundry? Tidak bisa juga, karena suami saya bisa ngomel kalau pakaian yang melekat di tubuhnya terpegang oleh orang lain. Hah?! Alasan macam apa lagi ini? Lho, ini beneran . Suami saya adalah tipe orang yang makan pun harus ada saya di sampingnya. Masih untung saya diperbolehkan berkegiatan selain tugas utama sebagai ibu rumah tangga. 

Baca Juga  Ketika Perempuan Nembung Lebih Dulu

 Jadi, daripada mengambil opsi-opsi yang bisa menjadi pemicu perdebatan saya, anak-anak, dan suami, maka saya tetap mendaftar di kelas menulis ini dengan resiko mengikuti kelas secara pelan-pelan, yang penting masih dapat ilmunya kan? Tambahan jam begadang pun tidak terhindarkan, toh tidak harus setiap malam, jadi bisa diatur lah. Pada akhirnya saya mengambil keputusan dengan tetap mengutamakan urusan rumah dan anak-anak.

Menghadapi Risiko Setelah Memilih

Banyak sekali orang yang begitu galau ketika diharuskan memilih, sampai akhirnya memerlukan waktu yang sangat panjang sebelum mengambil suatu keputusan, meskipun itu berkaitan dengan hal yang sepele sekalipun. Tapi ada juga mengambil keputusan dengan cepat aja, bahkan tanpa banyak pertimbangan. Tanpa menghitung rsiko dan keuntungan dari setiap keputusan.

Seperti saat ini, para orang tua pun mengambil resiko ketika memutuskan untuk membelikan handphone untuk anaknya yang masih SD. Saya yakin ada dilema besar dalam pengambilan keputusan tersebut. Anak-anak memerlukan handphone untuk kegiatan pembelajaran jarak jauhnya. Tetapi di lain sisi, terlalu sering berinteraksi dengan handphone akan banyak berefek buruk di kesehatan mata, beralihnya focus perhatian, dan berkurangnya interaksi sosial kemasyarakatan mereka. Salah-salah, anak bisa jadi gadget freak.

Apa mau dikata, handphone menjadi sarana utama kegiatan pembelajaran saat ini. Mau tak mau keputusan ini harus diambil meskipun akhirnya berefek pada pengaturan ulang jadwal kegiatan anak dan orang tua di rumah. Orang tua harus lebih waspada, selalu mengawasi frekuensi kebersamaan anak-anak dengan gadgetnya. Resikonya, orang tua, terutama ibu, jadi terkesan lebih cerewet, lebih sok tahu, dan terkesan kejam karena sering mengingatkan ini itu, membatasi ini itu. Tapi, emang harus gitu kan, daripada anaknya terlanjur kecanduan  handphone, yang repot orang tua juga nantinya.

Baca Juga  Warteg dan Merencanakan Kematian

Dilema pengambilan keputusan juga seringkali terbentuk karena kurangnya keberanian dalam mengambil resiko. Padahal dalam setiap keputusan, akan resiko dan keuntungan yang mengikuti. Tinggal bagaimana kita mengantisipasi segala resikonya. Selalu ada alternative yang memuaskan dan tidak memuaskan. Maka, dalam pengambilan keputusan harus berdasar pada pemikiran yang rasional, bukan emosional.

Muncul dari Hal-Hal Sepele

Dalem banget ya bahasnya. Eh, tapi jangan salah, terkadang dilema juga muncul dari hal-hal yang sepele. Seperti, ketika pada saat yang bersamaan, sofa ruang tamu udah banyak lubangnya karena sering dicakar sama kucing tetangga dan AC mobil tiba-tiba minta servis. Kalau kita istri sultan kayak Nia Ramadani sih hayuk aja, langsung cuss toko mebel beli sofa baru, mobil juga langsung masuk bengkel. Lha kita ini (eh, saya maksudny ) hanya rakyat jelata dengan dana seadanya, jadi harus pintar-pintar memilih mana yang lebih urgent untuk didanai lebih dulu. Secara, donatur kita cuma suami tercinta, salah pilih keputusan bisa runyam urusannya.

Hingga akhirnya keluarlah pertimbangan, sofa gak harus beli baru, kan permasalahan sofa hanya joknya aja yang udah banyak lubang, sedangkan kerangka masih kuat. Jadi bisa dong diservis aja, yang diganti joknya aja, lebih irit. Malah bisa sekalian pilih warna dan motif lain ( Waduh, jadi redecor interior ruang tamu nih. Pak suami mukanya udah berubah aja, alamat jadi merembet ke karpet, korden, hiasan meja, he he ). Jadi dana bisa sekaligus dipakai untuk rekondisi sofa dan servis AC. Meskipun dengan resiko, sofa tak harus baru, no problem, yang penting ada yang bisa dipakai duduk ketika ada tamu.

Eits, tunggu dulu , belum kelar ni masalah sofa. Masalahnya, si istri ini maunya sofa baru, malu dong kalau ada tamu, dan ketahuan kalau sofanya rekondisi. Secara gitu, rumah kepala bagian X di perusahaan X, kok sofa rusak gak beli baru. Hadeuh, kalau udah bagian gengsi-gengsian kayak gini saya udahan aja bahasnya. Karena saya tim yang lebih mengutamakan manfaat dan kepraktisan daripada sekedar tampilan.

Baca Juga  Ketangguhan Seorang Ibu
***

Ok pemirsa, begitulah ya. Dilema juga bisa muncul dari hal-hal yang sepele. Padahal terkadang suatu hal yang sepele buat kita, adalah big deal buat orang lain. Beda karakter, beda latar belakang, akan beda gaya juga ketika memutuskan suatu hal. Karena pengambilan keputusan biasanya berdasarkan skala prioritas, skala resiko dan tingkat pemahaman akan suatu masalah.

Bagikan
Post a Comment