f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sepak bola

Serupa Bilik yang Rapuh di Beberapa Bagiannya

Dulu, ketika usia saya masih sekitaran 10 tahun. Saya benar-benar menggilai hobi sejuta umat di dunia; sepak bola. Nyaris setiap siang, seusai pulang sekolah, saya selalu bermain sepak bola dari kampung satu ke kampung lain. Melawan anak desa satu dengan desa yang lain. Tak jarang ibu memarahi saya, ngomel-ngomel, karena saya sering bolos ngaji demi bertanding melawan anak-anak kampung sebelah. Parahnya, omelan-omelan ibu saya itu tidak pernah menyurutkan niat saya untuk terus bermain sepak bola.

Berangkat siang, pulang petang. Begitu terus setiap hari. Saking gila dan menghayati hobi itu, saya selalu mengingat-ingat jumlah gol yang saya cetak pada setiap pertandingan yang saya jalani, terutama ketika bertanding melawan rival kampung sebelah. Bagi saya, peristiwa tersebut adalah peristiwa yang tidak pernah pudar dalam ingatan masa kecil saya. Sampai saat ini.

***

Di kampung halaman tempat saya lahir, paman dan beberapa sepupu laki-laki saya juga sangat mencintai dunia sepak bola. Pada setiap bulannya, mereka berlangganan majalah “Tabloid Bola” (majalah tersebut tutup pada bulan November 2018 lalu) untuk kepentingan berita-berita terbaru dunia sepak bola. Saya ingat betul pada saat itu, ketika edisi-edisi tabloid itu sudah terhitung lama. Saya selalu memilih dan menggunting bagian foto para pemain sepak bola yang ada dalam tabloid itu.

Pemain-pemain terkenal. Kemudian saya tempelken di buku binder dan lemari yang ada di rumah saya. Jika lemari dan buku binder itu sudah penuh, maka saya akan meletakkan sisa foto-foto tersebut di dalam buku tulis, dan suatu saat akan saya tempelkan di lemari ketika saya sudah merasa bosan memandangi foto-foto yang telah saya pajang sebelumnya.  

 Saya selalu membayangkan, bahwa kelak saya akan menjadi pemain professional seperti halnya pemain-pemain yang saya idolakan; bermain di klub yang saya impikan, mengangkat trofi hingga melakukan selebrasi ketika mencetak gol. Pernah orang tua saya bertanya mengenai cita-cita saya, saya selalu menjawab dengan mantab; “Menjadi pemain sepak bola. Pingin membela timnas Indonesia.” “Pemain sepak bola itu gajinya sedikit. Kakimu juga rentan terkena cidera. Nanti biaya pengobatannya mahal” jawab ibu saya ketika merespons jawaban saya. Dengan cekatan dan penuh percaya diri saya kemudian menjawab; “Nggak digaji pun nggak masalah. Asal bisa main sepak bola. Pingin jadi pemain terkenal seperti Bambang Pamungkas”. Memang terdengar lucu. Tapi begitulah rasa cinta.

Baca Juga  Merenungi Dinamika Spiritual di Zaman Modernisasi
       *   *   *

Sayangnya, angan-angan yang cukup dalam dan ndakik itu perlahan mulai memudar seiring masuknya saya ke pondok pesantren. Saya tidak mengatakan bahwa pesantren adalah penyebab utama pudarnya rasa cinta saya terhadap sepak bola. Tidak. Banyak teman-teman yang mencintai sepak bola dan sangat menikmatinya ketika di pesantren. Hanya saja saya kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kultur pesantren yang ada. Sehingga skil yang saya punya saat itu pun perlahan ikut kendor. Saya sempat membayangkan; apakah ada sesuatu (hobi) lain yang kira-kira dapat menggantikan hobi dan rasa cinta saya terhadap sepak bola?

Hingga pada akhirnya, secara tidak sengaja saya dipertemukan oleh dunia menulis tepat di usia saya yang kelimabelas –kelas tiga MTs. Saat itu saya tidak terlalu paham apa sebenarnya yang ada dalam dunia menulis. Yang saya tahu hanya sebatas; “orang galau pasti larinya menulis”. Selebihnya saya tidak tahu apa-apa. Awal mula perkenalan saya dengan dunia menulis adalah ketika majalah pesantren saya mengadakan lomba menulis cerpen dan saya menjadi salah satu pemenang dalam lomba tersebut. Tak tanggung-tanggung, saya menggait posisi pertama dari tiga jawara yang ditentukan.

Sebelum mengikuti lomba tersebut, saya sebenarnya tidak memiliki ekspetasi berlebihan. Atau membayangkan bahwa saya kelak akan mendapatkan juara. Sebab saya sadar, bahwa perlombaan tersebut adalah kali pertama saya menulis sekaligus mengikuti kompetisi menulis. Dan sangat mustahil jika seorang pemula dan awam dalam dunia menulis akan mampu menyingkirkan lawan-lawan yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman yang cukup matang.

****

Namun prediksi tersebut salah total. Saya malah menang dan mampu mengalahkan beberapa peserta yang sebelumnya saya prediksi akan menjadi juara. Memang begitulah kehidupan; Tuhan selalu memiliki ribuan cara untuk “memustahilkan” hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal manusia. Meski manusia (seakan-akan) dapat memprediksi, namun (sesungguhnya) separuh lebih dari perjalanan kehidupannya adalah misteri.

Baca Juga  Menulis dengan Gaya Rambo

Dari pengalaman tersebut saya seperti menemukan cinta (hobi) yang baru. Saya pun perlahan mulai belajar dan memahami bagaimana sebenarnya dunia menulis bekerja. Tidak melalui seminar atau kelas-kelas menulis, melainkan melalui perpustakaan. Dari perpustakaan saya mengerti; bahwa dunia menulis tidak hanya sekadar menulis saja, lebih dari itu saya juga harus menjadi pembaca yang rakus dan memiliki kadar keingintahuan yang tinggi. Sayangnya, saat itu saya tidak benar-benar dapat melunasi dua syarat tersebut –rakus membaca dan selalu ingin tahu. Saya masih angin-anginan. Tidak konsisten.

Karena saya cukup sering keluar-masuk perpustakaan, tepat di akhir kelas sepuluh (1 MA), saya diajak oleh salah satu petugas perpustakaan (pustakawan) pesantren untuk ikut berkontribusi dalam menjaga perpustakaan. Tidak berpikir lama, saya pun mengiyakan ajakan tersebut. Saya merasa senang sekali dengan ajakan itu, sebab saya membayangkan; jika saya sudah menjadi pustakawan, otomatis saya akan dapat membaca dan meminjam banyak buku. Tanpa batas waktu. Tanpa batas jumlah buku.

Sayangnya, lagi-lagi saya hanya dapat berekspetasi. Dan ekspetasi cenderung tidak selaras dengan kenyataan. Selama menjaga perpustakaan, saya lebih disibukkan oleh urusan administrasi dan pengembangan perpustakaan. Tidak banyak buku yang saya baca. Bahkan sampai saya selesai dan keluar dari tugas saya sebagai pustakawan, tak satu pun buku yang benar-benar saya baca sampai tuntas. Singkatnya, selama saya menjadi pustakawan, saya cenderung mendapatkan banyak skill keorganisasian daripada pengetahuan literasi.

                                                   *   *   *

Banyak dari teman saya yang menganggap bahwa saya adalah seorang yang paham betul tentang dunia kepenulisan; aktif menulis di media online dan mengikuti kelas-kelas kepenulisan. Padahal, tidak begitu juga. Saya malah merasa bahwa saya masih belum matang dan rentan rapuh dalam pergaulan di dunia kepenulisan. Saya pernah mengalami dua peristiwa yang nyaris membuat saya berhenti dan meninggalkan dunia kepenulisan.

Baca Juga  Ini Dia, Obat Penyakit Tak Percaya Diri Menulis

Pertama; ketika saya mencoba menagih hak (honor) saya ketika tulisan saya tembus di salah satu majalah. Bukannya mendapat respons yang baik dari redaktur, saya malah kena “semprot” dan omelan karena saya dianggap salah orientasi, salah tujuan. Tapi sebenarnya memang murni kesalahan saya. Sebab saat itu saya menagih honor lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, sehingga tim redaktur merasa muak dengan tindakan saya.

Kedua; ketika saya meminta pemred salah satu media online untuk mereview naskah saya yang gagal tembus di media miliknya. Saya pikir saya akan mendapatkan masukan yang baik, tetapi keyataannya malah jauh dari bayangan itu. Saya mendapat kritik dan koreksi dengan gaya yang sadis. Brendelan kalimat-kalimat pedas mendarat di telinga saya dengan sangat perih.

Katanya; premis tulisan yang saya angkat sejak awal sudah cacat logika dan memang layak untuk ditolak. Seusai mengalami kedua peristiwa yang cukup “gelap” itu, saya sempat mempunyai keinginan untuk berhenti dan tidak mencoba untuk menulis lagi. Namun keputusan tersebut adalah keputusan yang konyol dan tidak masuk akal untuk seorang yang telah memutuskan untuk memulai.

***

Akhirnya saya memilih untuk “istirahat” sejenak. Melakukan introspeksi dan evaluasi. Setelah menjalani istirahat yang cuku lama, saya dapat menyimpulkan; bahwa memang perjalanan menulis saya masih terhitung pendek dan baru saja dimulai, sehingga wajar apabila banyak kekeliruan yang saya alami.

Atau mungkin jangan-jangan memang saya membutuhkan hal-hal semacam itu –kekeliruan-kekeliruan, yang justru dari hal tersebut saya menjadi semakin awas (dewasa) dan tidak pongah ke depannya. Meski perjalanan baru dimulai dan rentan akan kerapuhan serta kekeliruan, poin utamanya adalah tidak berhenti. Terus mencintai. Tidak hanya dalam cerita ini. Tetapi bagi siapa pun yang telah memutuskan untuk memulai.

Bagikan
Comments
  • Haqi

    Mantap guss

    Maret 2, 2021
Post a Comment